BNPB: 85 Persen Karhutla di Luar Konsensi Lahan Sawit

Senin , 16 September 2019 | 12:01
BNPB: 85 Persen Karhutla di Luar Konsensi Lahan Sawit
Sumber Foto Liputan6.com
Kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan 85 persen areal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia terjadi di luar konsesi lahan sawit.

Pelaksana Harian Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan dari hasil analisis Global Forest Watch pada 1 Agustus hingga 14 September 2019, titik api di lokasi karhutla berada di luar kawasan konsesi sawit atau konsesi hutan industri."Sekitar 85 persen areal kebakaran berada di luar konsesi sawit," ujar Agus melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Dari 85 persen areal kebakaran tersebut, satu persen di antaranya merupakan lahan milik Wilmar Grup, kelompok perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sekitar 11 persen diantaranya juga terjadi di areal konsesi perusahaan lain pemegang konsesi sawit.

Selain itu, diduga terdapat unsur kesengajaan dalam pola karhutla yang terjadi. Agus mengatakan hal ini disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian usai mengunjungi lokasi karhutla di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, pada Minggu (15/9/2019).

Dari keterangan Tito, ditemukan kejanggalan karena areal yang terbakar hanya hutan, sementara areal kebun sawit dan tanaman lainnya tidak terbakar."Hal ini merupakan indikasi ada unsur kesengajaan." kata Agus seperti dikutip cnnindonesia.com.

Di sisi lain, dari laporan Bupati Pelalawan 80 wilayah karhutla selalu berubah menjadi lahan perkebunan sawit atau tanaman industri lainnya.

Karhutla yang terjadi di Riau dan Kalimantan hingga kini masih belum berhasil dipadamkan. Musim kemarau yang belum berakhir membuat sebaran api yang melahap hutan dan lahan semakin cepat menyebar. Kualitas udara di wilayah Riau masih belum membaik sepenuhnya akibat asap pekat kebakaran hutan dan lahan. Jarak pandang yang terganggu dan kualitas udara yang buruk masih menyelimuti wilayah Riau.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load