Hoaks atau Fakta: Atlet Tumbang Akibat Vaksin Covid-19

Selasa , 07 Desember 2021 | 10:38
Hoaks atau Fakta: Atlet Tumbang Akibat Vaksin Covid-19
Sumber Foto: Detik.com.
Ilustrasi.

JAKARTA - Beredar sebuah video kompilasi yang memperlihatkan kejadian sejumlah atlet yang jatuh pingsan saat bertanding. Kumpulan kejadian tersebut diklaim sebagai masalah jantung atau miokarditis sebagai efek dari vaksin Covid-19 terhadap para olahragawan. 

Namun, saat ditelusuri lewat Kominfo, klaim tersebut adalah keliru. Tidak ada bukti bahwa vaksin Covid-19 terkait dengan seluruh insiden dalam video tersebut. 

Beberapa kejadian yang dikutip dalam video merupakan kejadian lampau, beberapa lainya adalah atlet yang belum menerima vaksin Covid-19, dan sisanya mengalami kondisi medis lain seperti tekanan darah rendah, kelelahan panas, masalah riwayat penyakit jantung, atau miokarditis yang disebabkan oleh infeksi Covid-19.  

Lebih lanjut, Kepala eksekutif the Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA), Dr. June Raine mengatakan MHRA memantau dengan cermat keamanan dan efektivitas vaksin Covid-19, termasuk laporan dugaan peradangan jantung, miokarditis, atau perikarditis. 

Miokarditis menjadi potensi risiko yang sangat langka dari vaksin Covid-19. Adapun kejadian yang dilaporkan biasanya ringan dengan individu yang biasanya pulih dalam waktu singkat dengan pengobatan standar dan istirahat.

Maka dapat disimpulkan jika video yang memperlihatkan sejumlah atlet diduga tumbang akibat Covid-19 adalah hoaks atau tidak benar. Faktanya, video merupakan kejadian lampau, beberapa lainya adalah atlet yang belum menerima vaksin Covid-19, dan sisanya mengalami kondisi medis lain.

Referensi:

https://www.reuters.com/article/factcheck-coronavirus-sport/fact-check-no-evidence-covid-19-vaccines-are-linked-to-athletes-collapsing-or-dying-from-myocarditis-idUSL1N2SK160

https://www.kominfo.go.id/content/detail/38525/disinformasi-video-kumpulan-atlet-jatuh-pingsan-dikaitkan-dengan-efek-vaksin-covid-19/0/laporan_isu_hoaks. (E-4)



Sumber Berita: RRI.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load