Warga Ambarawa Diminta Waspadai Gempa Swarm Yang Bersifat Kambuhan

Selasa , 26 Oktober 2021 | 20:01
Warga Ambarawa Diminta Waspadai Gempa Swarm Yang Bersifat Kambuhan
Sumber Foto Dok/Istimewa
Ilustrasi grafis

JAKARTA--Masyarakat sekitar Ambarawa dan Salatiga, Jawa Tengah, diminta tetap waspada terhadap gempa swarm karena bersifat kambuhan.

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, meski aktivitas swarm sudah luruh secara signifikan, terkadang masih bisa muncul lagi dan meningkat lagi seperti pada kasus aktivitas swarm di Jailolo Halmahera Barat, Maluku Utara dan Mamasa Sulawesi Barat.

Selain kedalaman hiposenter gempanya yang sangat dangkal, efek tanah lunak setempat (local site effect) di zona swarm Banyubiru, Ambarawa dan Salatiga dan sekitarnya dapat menyebabkan terjadinya resonansi gelombang gempa sehingga makin membuat guncangan gempa kecil terasa lebih kuat oleh warga.

Terkait beberapa bangunan rumah warga yang sudah mengalami kerusakan ringan, munculnya retakan dinding tembok akibat swarm menunjukkan kulitas bangunan tembok yang kurang bagus. Jika makin besar retakan maka untuk sementara sebaiknya tidak ditempati karena jika guncangan lebih besar terjadi dan berulang akan semakin meningkatkan kerusakan dan berisiko bagi keselamatan penghuninya.

"Bangunan-bangunan rumah yang mengalami kerusakan ringan dampak gempa swarm saat ini maka harus dilakukan penguatan (retrofitting) mengingat di wilayah Banyubiru, Ambarawa, Salatiga dekat atau terdapat jalur sesar aktif seperti Sesar Merapi Merbabu, Sesar Rawapening, Sesar Ungaran dan sesar lain yang belum teridentifikasi, yang ini semua dapat memicu gempa suatu saat nanti," ujarnya dikutip dari akun facebooknya.

Gempa swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat sering dan relatif lama di suatu kawasan. Gempa swarm terjadi tanpa adanya gempa utama (mainshock). Penyebabnya berkaitan dengan transpor fluida, intrusi magma, atau migrasi magma yang menyebabkan terjadinya deformasi batuan bawah permukaan di zona gunungapi. Gempa swarm banyak terjadi karena proses-proses kegunungapian.

Hasil monitoring BMKG selama hari Senin 25 Oktober 2021 sampai tengah malam tadi pukul 24.00 WIB terjadi 3 kali Gempa swarm di Banyubiru, Ambarawa dan sekitarnya. Aktivitas Gempa swarm terjadi pada pukul 5:05:59 WIB M2.5 kemudian pukul 14:43:18 WIB M2.7 dan pukul 21:29:16 WIB M2.6. Sehingga total aktivitas gempa swarm yang terjadi pascagempa magnitudo 3,0 pada Sabtu 23 Oktober 2021 sudah mencapai 36 kali gempa.

Saat terjadi aktivitas swarm, agar mewaspadai lereng tebing, karena swarm yang terus terjadi dapat mengganggu kestabilan lereng hingga mudah longsor. Dampak swarm bukan saja melemahkan struktur bangunan yang sudah lemah, tetapi juga dapat memicu terjadinya longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rockfall) di wilayah perbukitan, sehingga selama dalam masa aktivitas swarm untuk sementara waktu diimbau tidak melakukan pendakian dan jika tidak sangat penting agar menghindari jalan bertebing terjal dan berbatu.*




Sumber Berita: Bisnis.com
KOMENTAR

End of content

No more pages to load