Ya Ampun, Puluhan Ton Ikan di Danau Batur Mati Akibat Semburan Belerang

Kamis , 22 Juli 2021 | 23:01
Ya Ampun, Puluhan Ton Ikan di Danau Batur Mati Akibat Semburan Belerang
Sumber Foto rri.co.id
Puuhan ton ikan mati di Danau Batur

DENPASAR--Fenomena semburan belerang yang melanda kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli sejak delapan hari terakhir kian meluas. Akibatnya, puuhan ton ikan mengambang mati.

"Saat ini, kondisi air Danau Batur memang sudah kelihatan tenang. Semoga saja, semburan belerang tidak ada lagi,” sebut Kepala Dinas PKP Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma saat dikonfirmasi, Kamis (22/7).

Meski saat ini letupan belerang mulai mereda, kerugian dialami para petani ikan dengan sistem Keramba Jala Apung (KJA) diprediksi kian besar. 

Sesuai catatan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, pasca semburan belerang tersebut, pihaknya telah berhasil membersihkan bangkai ikan mencapai lebih dari 23 ton. 

Itu pun belum termasuk bangkai ikan liar dan yang sudah dibersihkan oleh petani secara swadaya. Karena itu, diestimasi kerugian petani mendekati miliaran rupiah.

Lanjut Sarma, pada Rabu (21/7) sore, semburan belerang terakhir tampak terjadi di wilayah desa Songan B, tepatnya dibanjar Yeh Panas. “Untuk semburan belarang di di desa Songan, terjadi dari dua hari lalu,” jelasnya. 

Dengan demikian, sejak semburan belerang terjadi dari 8 hari terakhir, tercatat lima wilayah yang terdampak, yakni Desa Kedisan, Buahan, Abang, Batudinding dan Songan. Karena itu, kerugian yang diderita petani juga diperkirakan semakin banyak. 

“Hingga kemarin, kita sudah berhasil melakukan pembersihan bangkai ikan mencapai 23 ton. Selain itu juga ada yang sudah dibersihkan oleh masyarakat secara swadaya untuk dikubur dilahannya sendiri,” jelasnya.

Dengan kata lain, diperkirakan kematian ikan yang terjadi akan ebih anyak lagi. “Untuk ikan liar tetap ada yang mati juga,” sebutnya.  

Hanya saja, lanjut Sarma, jika dibandingkan dengan ikan hasil budidaya, tingkat kematiannya masih lebih sedikit, karena ikan liar masih bisa leluasa bergerak ke tempat lain. Karena itu, pihaknya mengakui, dampak semburan belerang yang terjadi saat ini tergolong sangat parah. 

“Kalau dibandingkan dengan periode enam bulan lalu, semburan belerang yang terjadi sekitar akhir bulan Februari sampai berhentinya tanggal 1 Maret lalu, itu menyebabkan kematian ikan mencapai 14 ton. Saat itu, kematian ikan paling banyak terjadi di Desa Buahan dan Abang Batu Dinding. Yang lain tidak kena,” bebernya.

Sementara saat ini, kematian ikan hampir merata terjadi di semua titik dan kemungkinan masih terus berlanjut.  

“Kondisi semburan belerang memang kita perkirakan sudah mereda. Namun tingkat kematian ikan masih terjadi. Besok akan kita lakukan pembersihan kembali di keramba. Kita sudah janji dengan beberapa kelompok petani ikan di Songan, untuk membantu upaya pembersihan dan kita siapkan satu truk pengangkutan,” jelasnya.  

Karena itu, diperkirakan total kerugian yang diderita para petani mendekati miliaran rupiah dengan hitung-hitungan harga ikan saat ini mencapai Rp28.000 per kilogram.

Disinggung bantuan yang bisa diberikan kepada para petani, Sarma mengaku sudah berupaya mengajukan permohonan ke Kementrian Perikanan dan Kelautan. 

“Kemarin kita sudah berkoordinasi ke pusat, diminta untuk diajukan. Tahun lalu juga kita sudah lakukan seperti itu, namun belum ada respon dari pusat. Mungkin karena kondisi covid-19 saat ini, kita maklumi,” bebernya. 

Karena itu, pihaknya juga mengaku akan mengajukan permohonan bantuan dari daerah. 

“Setelah selesai fenomena ini, kita akan lakukan pendataan dan akan kita sampaikan ke pimpinan. Semoga ada celah-celah aturan yang memungkinkan daerah untuk bisa membantu meringankan para petani ikan di Danau Batur,” pungkasnya.



Sumber Berita:rri.co.id
KOMENTAR

End of content

No more pages to load