DFW: Sebanyak 82 Nelayan Hilang, 14 Meninggal Dalam 6 Bulan Terakhir

Senin , 21 Juni 2021 | 17:13
DFW: Sebanyak 82 Nelayan Hilang, 14 Meninggal Dalam 6 Bulan Terakhir
Sumber Foto Republika
Ilustrasi

JAKARTA--Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, mengungkapkan, dalam kurun waktu enam bulan telah terjadi 42 kali insiden kecelakaan  perahu nelayan. Sebanyak 83 nelayan hilang dan 14 meninggal.

"Mayoritas kecelakaan tersebut dialami oleh perahu nelayan ukuran dibawah 10GT," ucap Koordinator Nasional DWF Indonesia Moh Abdi Suhufan, seperti dikutip rri.co.id, Senin (21/6).

“Dari 42 insiden tersebut, kami mencatat 142 orang korban dengan rincian 83 hilang, 14 meninggal dan  42 selamat. Rata-rata dalam satu bulan 7 kejadian dialami nelayan dan pasti memakan korban” jelasnya.

Menurutnya, banyaknya insiden yang dialami kapal nelayan ini mengindikasikan tingginya tingkat kerentanan nelayan ketika mencari nafkah. “Mereka bekerja tanpa perlindungan diri, minim sarana keselamatan, dan beberapa tanpa asuransi," imbuhnya.

Ia juga turut menyoroti program asuransi nelayan yang sarat birokrasi dan prosedural, yang dinilai sulit diakses oleh nelayan. “Implementasi UU 7/2016 tentang perlindungan nelayan, yang dikuatkan dengan PP 27/2021 tentang penyelenggaraan bidang kelautan dan perikanan belum optimal dilaksanakan," terangnya.

"Banyak nelayan dan ABK yang tidak mengetahui tentang program dan skema asuransi tenaga kerja bagi nelayan dan ABK  sebagai kelompok pekerja Bukan Penerima Upah," tambahnya.

Kementerian teknis seperti KKP dan Kementerian Perhubungan perlu meningkatkan strategi perlindungan nelayan kecil agar mengurangi jatuhnya korban nelayan yang sedang mencari nafkah di tengah laut. 

"Program asuransi nelayan yang dijalankan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu menjangkau nelayan di daerah terpencil dan perlu inovasi pelayanan sebab selama ini sulit di akses," pungkasnya.

Selain itu, Peneliti DFW Indonesia Subhan Usman meminta kepada KKP untuk meningkatkan perhatian dan intervensi kepada kelompok nelayan kecil dan tradisional. 

"Kami khawatir, KKP saat ini fokus pada pengembangan perikanan skala besar atau industry karena mengejar target PNBP. Padahal kita ketahui bahwa perikanan skala kecil adalah mayoritas dari usaha perikanan Indonesia saat ini. 99,16% struktur armada perikanan kita dibawah 30GT, mereka ini merupakan kelompok yang rentan sehingga proporsi perlindungan mesti ditingkatkan," terang Subhan Usman. 



Sumber Berita: rri.co.id
KOMENTAR

End of content

No more pages to load