Sastrawan Sori Siregar Tutup Usia

Senin , 21 Juni 2021 | 09:49
Sastrawan Sori Siregar Tutup Usia
Sumber Foto dok/ist
Ilustrasi

JAKARTA - Sastrawan Sori Siregar meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada Senin (21/6/2021) ini. Kabar itu disampaikan penulis Kurniawan Junaedhie dalam laman facebook-nya pagi ini. Penulis tersebut tidak menyebukan waktu dan di mana Sori Siregar tutup usia.

Kabar itu juga dibenarkan Rovina Loksanti Siregar alias Ovi Siregar, putri bungsu almarhum melalui pesan berantai di whatsApp pagi ini.

Penulis Kurniawan Junaedhie selanjutnya menulis: almarhum adalah cerpenis dan novelis terkemuka di tahun 1960-an. Juga banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia baik novel, cerita pendek maupun drama. Antara lain karya Jorge Luis Borges, Erskine, Caldwell, John Steinbeck, William Sorayan dan Lin Yu Tang.

SORI

Sastrawan Sori Siregar semasa hidup. (dok/ist)

Mengutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id disebutkan, Sori Siregar selain dikenal sebagai sastrawan, ia juga seorang aktor, dan penyiar andal. Nama lengkapnya adalah Sori Sutan Sirovi Siregar dilahirkan di Medan, Sumatra Utara, 12 November 1939.

Nama "Sirovi" diberikan oleh ayahnya karena kekaguman ayahnya terhadap Jenderal Belanda yang bernama Sirovi. Sori Siregar menganut agama Islam dan pernah pergi umroh ke Tanah Suci pada tahun 1974.

Ayah Sori Siregar bernama Abdul Manan gelar Sutan Naposo Parlindungan yang dilahirkan di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, tahun 1893 dan meninggal tahun 1948. Ibu Sori Siregar bernama Siti Loksa Harahap yang dilahirkan di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, tahun 1905 dan meninggal tahun 1987.

Kedua orang tua Sori Siregar berasal dari kelompok etnik yang sama, yaitu Batak Angkola Mandailing. Ayahnya yang berpendidikan Mulo menjabat sebagai wakil bupati (patih) di Tapanuli Selatan.

Sori Siregar dilahirkan dari keluarga yang gemar membaca. Ibunya senang sekali membaca buku-buku cerita, dan cerita-cerita yang telah dibaca diceritakan kembali kepada anak-anaknya.

Bakat gemar membaca itu menurun kepada Sori dan kakaknya, Ridwan Siregar. Ridwan Siregar berlangganan majalah Kisah, dan Sori sudah dapat membaca pada usia empat tahun ikut membaca majalah Kisah milik kakaknya itu. Sori Siregar tertarik pada sastra ketika ia duduk di bangku SMP. Karya sastra yang pertama kali dibacanya adalah Rumah Mati di Siberia.

Sori Siregar menikah dengan gadis Batak Angkola Mandailing bernama Yusni Nasution yang lahir di Bogor, tetapi dibesarkan di kota Malang. Mereka menikah 24 September 1970 dan dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Yang tertua bernama Teti Filantri Siregar, yang kedua laki-laki bernama Yuli Heikal Parlindungan Siregar, dan yang ketiga bernama Rovina Loksanti Siregar.

Sebelum menetap di Jakarta, Sori Siregar pernah tinggal di Medan, London, dan Malaysia. Dia mengawali pendidikan formalnya di sekolah dasar di beberapa tempat, yakni di suatu perkebunan di Bukittinggi, di Kutaraja (Aceh), dan di Medan tahun 1951 kemudian melanjutkan ke SMPN I Medan tahun 1955. Pendidikan terakhirnya adalah SMA tahun 1960.

Selain pendidikan formal, Sori juga pernah mengikuti pendidikan nonformal, yaitu mengikuti pendidikan Pegawai Staff Departemen Penerangan di Medan, tahun 1968-1969 dan mengikuti International Writing Program, School of Letters, University of Iowa, Iowa City, Iowa, USA, tahun 1970-1971. Program pendidikan ini disponsori oleh The Asia Foundation, Kuala Lumpur.

Sori juga pernah belajar teater di Medan tahun 1958 dan terpilih sebagai aktor terbaik Festival Seni Drama Sumatra Utara ke-3 tahun 1962. Dalam kegiatan teater, ia pernah bergabung dengan Bengkel Kerja Aktor Studio.

Selain itu, ia bersama dengan Burhan Piliang mendirikan Teater Nasional (TENA). Profesinya berawal sebagai staf redaksi pada mingguan Waspada Teruna di Medan tahun 1960-1964. Selanjutnya, ia bekerja sebagai penyiar RRI (Radio Republik Indonesia) Medan tahun 1966-1971. Pada tahun yang sama ia bekerja sebagai wartawan pada mingguan Taruna, Medan.

Pada tahun 1971-1972 Sori menjadi penyiar Siaran Berbahasa Inggris di RRI, Medan dan tahun 1972-1974 ia menjadi penyiar di International Broadcaster, British Broadcasting Corporation (BBC) London, Inggris. Tahun 1974-1975 ia menjadi penyiar Siaran Bahasa Inggris dan Siaran Kata RRI Medan.

Tahun 1975-1979 Sori menjadi penyiar di International Broadcaster, Suara Malaysia Bahagian Indonesia, Radio Talivishen Malaysia (RTM), Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1979-1982 Sori bekerja menjadi redaktur majalah Zaman di Jakarta.

Pada waktu yang sama ia memegang jabatan sebagai redaktur pelaksana majalah Eksekutif. Tahun 1982-1985 ia bekerja menjadi penyiar di International Broadcaster, The Voice of Amerika (VOA), Washington DC, USA.

Tahun 1985-1986 ia bekerja sebagai redaktur majalah Matra, Jakarta, dan tahun 1986-1988 menjadi redaktur senior majalah Sarinah. Di samping itu, Sori Siregar juga pernah menjadi editor Medan Multi Media, Jakarta (1988-1992). Tahun 1990-1992, ia menjadi redaktur penyumbang untuk mengisi "Rubrik Plus" pada majalah Swasembada. Setelah itu, ia menjadi redaktur pelaksana majalah Forum Keadilan (1992-1995).

Tahun 1995—1996 Sori menjadi konsultan majalah Belanja milik A. Latief Corporation dan tahun 1998 menjadi kontributor harian The Jakarta Post, Jakarta. Sejak tahun 1998 sampai sekarang Sori Siregar menjadi penulis, penerjemah, dan penyunting freelance pada Pustaka Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Jakarta.

Sori Siregar mengawali karier sastranya dengan menulis cerita pendek. Cerita pendek pertama yang ditulisnya adalah ketika ia duduk di bangku SMA dikirimkannya karyanya itu ke majalah Aneka dan dimuat. Selanjutnya, cerita-cerita pendeknya bermunculan, dimuat dalam majalah Aneka, Roman, Sastra, Horison, Pustaka dan Budaya, Berita Republik, Mimbar Indonesia.  Di samping itu, ia juga menulis dalam majalah Bintang Timur, Gelora, Tanah Air, Sarinah, dan Teruna.

Karya-karya Sori Siregar antara lain adalah kumpulan cerita pendek Dosa Atas Manusia (1967), Senja (1979), Di Antara Seribu Warna (1980), Penjara (1982), Titik Temu (1996), dan Sang Aktris (2004). Novel Wanita Itu adalah Ibu (1979) mendapat hadiah Perangsang Kreasi Sayembara Mengarang Roman DKJ, 1978. Karya lainnya Susan (1981), Awal Musim Gugur (1981), Telepon (1982) mendapat hadiah Harapan dalam Sayembara Mengarang Roman DKJ, 1979. Awal Pendakian (1985) karya terjemahan Slaves Soldiers and Islam (1981), dan New Horizon in Muslim Education. Karya Sori yang berbentuk cerita pendek masih tersebar di berbagai media massa.(*)

 



Sumber Berita: Pelbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load