Jenazah Pollycarpus Dimakamkan dengan Protokol Kesehatan

Minggu , 18 Oktober 2020 | 06:21
Jenazah Pollycarpus Dimakamkan dengan Protokol Kesehatan
Sumber Foto dok/Liputan6.com
Pollycarpus Budihari Prijanto semasa hidup.

JAKARTA - Jenazah Pollycarpus Budihari Prijanto akan dimakamkan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur pada Minggu (18/10/2020) pagi ini.

"Iya, rencananya di TPU Pondok Rangon," kata Hera, istri almarhum Pollycarpus semalam.

Jenazah Pollycarpus akan diberangkat dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan pada pukul 07.00 WIB.

Pollycarpus meninggal dunia akibat terpapar virus corona Covid-19. Karena itu, seluruh prosesi pengurusan hingga pemakaman akan dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Terpisah, istri aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib, Suciwati turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Pollycarpus Budihari Prijanto. Pollycarpus merupakan mantan terpidana kasus pembunuhan Munir yang telah selesai menjalani masa hukuman.

SUCIWATI

Istri almarhum Munir, Suciwati. (Dok/Antara/Rosa Panggabean)

"Pelaku lapangan kasus pembunuhan Munir meninggal dunia. Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) mengucapkan turut berduka atas meninggalnya Pollycarpus, khususnya kepada keluarga," kata Suciwati saat dihubungi liputan6.com, Sabtu (17/10/2020).

Dia juga meminta aparat berwenang untuk menyelidiki penyebab kematian Pollycarpus. Sebab, sebagai pelaku lapangan, Pollycarpus dinilai memiliki banyak informasi terkait kasus pembunuhan Munir.

"Terutama informasi tentang atasan yang memerintahkan dia. Oleh karenanya, penyelidikan atas meninggalnya Pollycarpus perlu dilakukan secara objektif dan terbuka oleh otoritas yang berwenang. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kecurigaan-kecurigaan terkait meninggalnya Pollycarpus," tutur Suciwati.

Dia menegaskan bahwa meninggalnya Pollycarpus tidak boleh menghentikan proses pengusutan kasus pembunuhan terhadap Munir. Dia menyatakan, pembunuhan terhadap aktivis HAM itu bukan kejahatan biasa, tapi persekutuan jahat yang melibatkan banyak pihak.

Suciwati juga menyebut, penyelesaian kasus Munir hanyalah janji pemerintah saja. Sebab hingga saat ini, lanjut dia, kasus tersebut belum diselesaikan dengan tuntas.

"Kami memandang persoalan pengungkapan kasus pembunuhan Munir hambatannya bukan karena tidak adanya bukti atau karena meninggalnya Pollycarpus. Tetapi lebih dikarenakan tidak adanya kemauan politik pemerintah untuk mengungkap kasus pembunuhan Munir ini hingga tuntas," ia menambahkan.(*)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load