Wartawan Senior Alwi Shahab Meninggal Dunia

Kamis , 17 September 2020 | 07:55
Wartawan Senior Alwi Shahab Meninggal Dunia
Sumber Foto dok/Cnnindonesia.com
Alwi Shahab semasa hidup.

JAKARTA - Innalillahi wa inna ilahi rojiuun. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Harian Republika. Wartawan senior, Alwi Shahab, Kamis (17/9/2020) dini hari pukul 03.00 WIB meninggal dunia.

"Telah berpulang ke Rahmatullah Alwi Shahab, sejarawan Betawi, wartawan harian Republika. Meninggal Kamis, 17 Sept 2020 pukul 03.00. Rumah Duka, Kompleks Balekambang Asri no 14, Gang Haji Sarbii, Jalan Mungggang, Condet, Jakarta Timur. Al Fatihah," demikian informasi yang diperoleh dari Idrus Shahab seperti dilansir republika.co.id.

Abah Alwi, demikian ia akrab disapa, seorang wartawan yang telah menjalani profesinya hampir 60 tahun. Kariernya dimulai tahun 1960 sebagai wartawan kantor berita Arabian Press Board di Jakarta. Sejak Agustus 1963 ia bekerja di kantor berita Antara.

Berbagai jenis liputan digelutinya saat di Antara, mulai dari reporter kota, kepolisian, parlemen, sampai bidang ekonomi. Selama sembilan tahun (1969-1978), anak Betawi kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat ini, menjadi wartawan Istana.

Sepanjang bertugas sebagai wartawan, Alwi Shahab kerap melakukan liputan di luar negeri. Di antaranya, tahun 1983 ia mengunjungi perbatasan Malaysia-Thailand untuk meliput operasi penumpasan gerakan Komunis oleh tentara Malaysia.

Pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan Harian Republika. Tanpa kesulitan Abah Alwi langsung beradaptasi dengan lingkungan baru yang dihuni oleh orang-orang muda.

Dengan komitmennya yang tinggi terhadap kewartawanan Abah Alwi langsung menjadi contoh bagi rekan yuniornya, bagaimana seseorang bisa menjadi wartawan sejati, walau telah memasuki usia senja. Ia tidak kalah produktif dibandingkan dengan rekan yuniornya.

Sejak di Republika, ia mulai menulis artikel-artikel tentang sejarah kota Jakarta, baik dalam bentuk tulisan lepas, di rubrik kebudayaan, maupun di rubrik Sketsa Jakarta dan Nostalgia. Abah Alwi seolah-olah tidak kehabisan bahan untuk mengangkat permasalahan kota Jakarta, terutama kisah-kisah tempo doeloe-nya. Untuk objektivitas penulisan, ia bukan saja mendatangi nara sumber, menelaah berbagai koleksi dan bahan, tetapi juga mendatangi tempat yang menjadi bahan penulisannya. Selamat jalan Abah Alwi.(*)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load