DFW: Sudah 13 WNI Meninggal Dan Hilang di Kapal Ikan China

Rabu , 22 Juli 2020 | 18:53
DFW: Sudah 13 WNI Meninggal Dan Hilang di Kapal Ikan China
Sumber Foto CNBC Indonesia
Ilustrasi

JAKARTA--Belasan Anak Buah Kapal Warga negara Indonesia (ABK WNI), tercatat meninggal dan hilang, ketika bekerja di kapal ikan berbendera Tiongkok. Berdasarkan catatan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, terdapat 13 WNI yang menjadi korban sejak periode 22 November 2019 hingga 19 Juli 2020.

"Korban ABK tersebut dengan rincian 11 orang wafat dan 2 orang hilang. Terbaru, ABK Indonesia asal Bitung bernama Fredrick Bidori pada tanggal 19 Juli 2020 meninggal di rumah sakit Peru setelah mengalami kecelakaan kerja di kapal ikan berbendera Tiongkok, Lu Yan Tuan Yu 016," kata Ketua DFW, Moh Abdi Suhufan kepada RRI, Rabu (22/7/2020).

Merujuk pada banyaknya ABK WNI yang menjadi korban di kapal berbendera Tiongkok tersebut, pihaknya mendesak agar pemerintah mengambil langkah-langkah progressif guna melakukan perbaikan secara total untuk melindungi ABK migran Indonesia. 

“Mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada ABK migran Indonesia dari tahap sebelum bekerja, selama bekerja dan setelah bekerja sesuai ketentuan UU 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Miigran Indonesia," tegas Abdi.

Menurut Abdi, dalam kajian pihaknya terdapat indikasi kerja paksa, perdagangan  dan penyelundupan orang.

“Mereka yang meninggal mayoritas disebabkan karena kekerasan fisik, intimidasi dan ancaman, kondisi kerja dan kehidupan yang kejam diatas kapal” kata Abdi. 

Modus penyeludupan orang juga ditemukan pada kasus yang menimpa korban bernama Eko Suyanto. Eko Suyanto yang dalam kondisi sakit ditransfer dari kapal ikan FV Jin Shung ke kapal nelayan Pakistan. Eko kemudian terlantar dan meninggal di pelabuhan Karachi Pakistan pada Mei 2020 lalu. 

“Setelah wafat, masalah yang dihadapi belum selesai sebab para korban tersebut masih mengalami pemotongan upah dan gaji yang tidak dibayarkan," ungkapnya.

Saat ini masih ada puluhan orang ABK Indonesia yang terjebak dan bekerja di kapal China sedang melakukan operasi penangkapan ikan di laut Internasional. 

“Mereka terjebak pada kondisi kerja yang tidak adil dan tertindas serta minta dipulangkan," terang Abdi. 

DFW Indonesia merekomendasikan sejumlah langkah yang perlu dilakukan pemerintah, sebagai upaya mencegah kembali terjadinya praktek kekerasan terhadap ABK WNI di kapal ikan berbendera Tiongkok.

Pertama, melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan asosiasi manning agent untuk pendataan keberadaan ABK perikanan yang bekerja di kapal Tiongkok baik yang legal dan ilegal. Pemerintah perlu memastikan status dan keberadaan mereka saat ini untuk mengambil langkah antisipasi seperti reptriasi untuk ABK yang bekerja di kapal ikan bermasalah dimana mereka mengalami kekerasan dan penyiksaan. 

Kedua, pemerintah perlu menjamin dan memastikan hak-hak para korban ABK tersebut dapat diterima oleh ahli waris korban. Keluarga korban perlu pendampingan dan perlindungan agar tidak dipermainkan oleh calo atau broker kasus. 

Ketiga, aparat penegak hukum Indonesia perlu melakukan peyeldikan terhadap sejumlah manning agen pengirim ABK yang meninggal karena ikut bertanggungjawab atas kematian yang dialami.

Selain, DFW Indonesia juga meminta otoritas terkait dan aparat penegak hukum Indonesia untuk melakukan koordinasi dan investigasi bersama dengan aparat penegak hukum di Tiongkok terhadap perusahaan dan kapal Tiongkok yang mempekerjakan ABK asal Indonesia.



Sumber Berita: rri.co.id
KOMENTAR

End of content

No more pages to load