Tim Pencari Fakta Koalisi Sipil Temukan 12 Pelanggaran Dalam Tragedi Kanjuruhan

- Minggu, 9 Oktober 2022 | 23:49 WIB
Foto: dok
Foto: dok

SINAR HARAPAN--Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari YLBHI, LBH Pos Malang, LBH Surabaya, Lokataru, IM 57+ Institute dan KontraS mengemukakan 12 temuan awal terkait dengan aksi pelanggaran HAM oleh sejumlah pihak di Stadion Kanjuruhan.

Dalam laporan dari hasil investigasi selama 7 hari, Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil mendapatkan temuan awal bahwa peristiwa kekerasan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan merupakan dugaan kejahatan yang terjadi secara sistematis.

Tindak kejahatan tersebut tidak hanya melibatkan pelaku lapangan. Selain itu, Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil menduga timbulnya korban jiwa akibat dari efek gas air mata yang digunakan oleh aparat kepolisian.

Selain itu, Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil menduga timbulnya korban jiwa akibat dari efek gas air mata yang digunakan oleh aparat kepolisian.

“Saat proses investigasi, kami bertemu dengan sejumlah saksi, korban dan keluarga korban dengan kondisi ada yang mengalami gegar otak, luka memar bagian muka dan tubuhnya, ruam merah pada muka, hingga trauma yang berat akibat peristiwa kekerasan yang telah terjadi,” tulis Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil dalam siaran persnya, Minggu (9/1/2022).

Dikutip dari Bisnis.com, berikut ini 12 temuan awal tim pencari fakta terseut: 

Pertama, bahwa pada saat pertengahan babak kedua, terdapat mobilisasi sejumlah pasukan yang membawa gas air mata. Padahal diketahui tidak ada ancaman atau potensi gangguan keamanan saat itu

Kedua, bahwa ketika pertandingan antara Arema FC dan Persebaya selesai, diketahui terdapat sejumlah suporter yang masuk ke dalam lapangan. Berdasarkan keterangan para saksi yang ada, hal tersebut terjadi oleh karena para suporter hanya ingin memberikan dorongan motivasi dan memberikan dukungan moril kepada seluruh pemain. “Namun, hal tersebut direspon secara berlebihan dengan mengerahkan aparat keamanan dan kemudian terjadi tindak kekerasan. Hal inilah yang kemudian, para suporter lain ikut turun ke dalam lapangan bukan untuk melakukan penyerangan tetapi untuk menolong suporter lain yang mengalami tindak kekerasan dari aparat keamanan,” lanjut Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil.

Ketiga, Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil menemukan bahwa sebelum tindakan penembakan gas air mata, tidak ada upaya dari aparat untuk menggunakan kekuatan lain yang memiliki dampak pencegahan, perintah lisan atau suara peringatan hingga kendali tangan kosong lunak. Padahal berdasarkan Perkap No. 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan, Polisi harus melalui tahap-tahap tertentu sebelum mengambil tahap penembakan gas air mata.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Bisnis.com

Tags

Terkini

X