• Senin, 5 Desember 2022

Sejarah 57 Tahun Lalu, G30S Membunuh Para Jenderal Angkatan Darat

- Jumat, 30 September 2022 | 09:46 WIB

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur (dok)

SINAR HARAPAN--Setiap tanggal 30 September ingatan masyarakat Indonesia selalu terpaku pada peristiwa berdarah yang terjadi 57 tahun lalu, tepatnya 30 September 1965. Pada tanggal itu, malam harinya, terjadi penculikan dan pembunuhan para perwira tinggi Angktana Darat.

Tercatat gugur dalam peritiwa tersebut adalah enam jenderal TNI-AD dan seorang perwira menengah. Mereka yang gugur adalah Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal R Soeprapto, Letnan Jenderal MT Haryono, Letnan Jenderal S Parman, Mayor Jenderal D.I Panjaitan, dan Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Perwira AD paling senior ketika itu adalah Jenderal Abdul Haris Nasution, juga tidak lepas dari upaya penculikan, namun berhasil meloloskan diri. Salah seorang ajudannya, Kapten Pierre Andreas Tendean, menjadi korban dalam peristiwa ini. Putri AH Nasution, Ade Irma Suryani Nasution juga terkena peluru dalam peritiwa malam itu dan akhirnya meninggal.

Keenam perwira tinggi AD dan seorang perwira menengah yang gugur tersebut saat ini dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Para jenderal tersebut ditemukan jenazahnya beberapa hari kemudian di sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur, oleh pasukan pasukan khusus TNI-AD. Di lokasi tersebut saat ini berdiri Monumen Pancasila Sakti.

Alkisah, Jenderal AH Nasution yang berhasil lolos dari penculikan kemudian bisa menyelamatkan diri dan kemudian bergabung ke markas Kostrad yang dipimpin oleh Mayjen TNI Soeharto pada tanggal i Oktober petang hari.

Salah satu perwira Angkatan Darat, Panglima Kostrad Mayjen Soeharto melalukukan analisa keadaan sejak pagi hari tanggal 1 Oktober bersama beberapa perwira menengah, antara lain Yoga Sugomo dan Ali Murtopo. Situasi menjadi lebih jelas ketika melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 14.00 siang Letkol Untung mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi

Menurut mereka, Dewan Revolusi dibentuk untuk menghentikan rencana Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta pada hari ABRI tanggal 5 Oktober. Dewan Revolusi Indonesia juga menunda pelaksanaan Pemilu dan membekukan UUD 1945, serta mempersiapkan sumber hukum baru bagi otoritas Republik Indonesia.

 

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Anies Bertemu Wali Nanggroe Aceh

Jumat, 2 Desember 2022 | 22:33 WIB
X