• Selasa, 4 Oktober 2022

Din Minta Banser Akui Kesalahan

- Kamis, 25 Oktober 2018 | 18:22 WIB
Din Syamsudin
Din Syamsudin

DEPOK - Ketua Dewan Kehormatan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsudin mengharapkan Barisan Anshor Serbaguna (Banser) mengakui kesalahannya membakar bendera berkalimat tauhid. Menurutnya, tidak sepantasnya Banser dan NU mencari-cari Alibi untuk membenarkan tindakannya.

"Melihat kasus itu haruslah lihat secara jernih. Dan tidak ada salahnya, kalau itu dirasakan secara mendalam dengan hati nurani sebagai sebuah kesalahan, akuilah itu sebagai kesalahan. Jangan dibungkus-bungkus dengan apoligi dengan alibi. Itu tidak menyelesaikan masalah, karena Tuhan maha tahu," ujar Din Syamsudin saat ditemui di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (25/10/2018).

Sebelumnya, Ketua PBNU Said Aqil Siradj meyakini bendera yang dibakar anggota Banser adalah bendera HTI. Karena, pasca kejadian tanggal 22 Oktober 2018 lalu, dirinya mendapat informasi dari tim pencari fakta PBNU bahwasahnya, bendera yang sama telah ditemukan di satu truk dalam jumlah yang banyak.

Adapun bendera bertuliskan "La Illaaha Illallah Muhahammadarrasulullah" itu, sebagian telah dikibarkan pada peringatan hari santri nasional di sejumlah titik di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Din Syamsudin menegaskan bahwa alasan apapun tidak mampu membenarkan kesalahan yang telah dilakukan Banser. "Mau HTI atau mau apapun, apalagi bukan. Itu kalau saya. (Karena) ada kalimat syahadat yang sangat prinsipil bagi umat islam, di bendera siapapun, warna apapun itu tidak bisa kita berdalih, ngeles seolah-olah itu tidak ada kalimat tauhid," tuturnya.

Lebih lanjut lagi, Mantan Ketua Umum MUI itu menyarankan kepada pihak yang telah melakukan pembakaran untuk meminta maaf, bukan hanya kepada umat Islam, akan tetapi juga kepada Tuhan yang Maha Esa. "Membakar kalimat tauhid itu dosa, sebaiknya cepat-cepat minta maaf. Mungkin minta maaf bukan kepada umat Islam, tapi kepada Allah SWT. Dan nggak usah berdalih, ngeles, cari apologi," tambah Din Syamsudin.

Sebelumnya, diberitakan insiden pembakaran bendera dengan kalimat Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah oleh Barisan Anshor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat. Dimana, pada tanggal 22 Oktober 2018 lalu, seluruh wilayah di Indonesia tengah memperingati Hari Santri Nasional pertama.

PBNU selaku pengurus yang menaungi Banser mebyatakan bahwa insiden tersebut disebabkan karena adany provokasi yang dilakukan HTI terhadap Banser. Sekjen PBNU mengatakan kalau peringatan hari santri nasional di Garut disusupi oknum dari ormas islam yang telah dibubarkan itu. "Harusnya itu (bendera) nggak sempat masuk ke arena hari santri," tegasnya saat menggelar konferensi pers di kantor PBNU, di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).(ryo)

Editor: editor2

Tags

Terkini

Indonesia Terus Matangkan Persiapan KTT G20

Senin, 3 Oktober 2022 | 13:02 WIB
X