China Menahan Pengaruh Amerika Serikat Di Myanmar

Jumat , 14 Januari 2022 | 13:49
China Menahan Pengaruh Amerika Serikat Di Myanmar
Sumber Foto : Istimewa
Aung San Suu Kyi
POPULER

CHINA maupun negara-negara Barat mendukung pemerintahan Aung San Suu Kyi sekalipun dengan motif yang berbeda. Ketika junta militer menggulingkan Suu Kyi pada 1 Februari 2021, para pendukung ketua Partai Liga Untuk Demokrasi itu memprotes. Mereka mengecam junta militer sekaligus membakar pabrik-pabrik milik perusahaan China.

Para demonstran menilai China mendukung junta yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing. Sedikitnya empat pabrik dibakar. Kebanyakan membuat pakaian jadi.

Junta bereaksi keras menanggapi. Aksi brutal sepanjang tahun lalu itu. Setidaknya 19  pendemo ditembak mati.

Asean bereaksi keras dan tidak mengundang Myanmar ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean di Brunei Darussalam November lalu. Hanya Kamboja yang bersikap lunak.

Empat Kepentingan

China sangat berkepentingan dengan Myanmar yang stabil dan tidak dipengaruhi negara yang bermusuhan. Atas  dasar itu Beijing membangun kerja4sama berdasarkan empat hal.

1. Mengamankan perbatasan kedua negara sepanjang 2.129 km atau 1.323 mil dari penyelundupan narkotika, manusia dan mencegah penyebaran virus Covid-19 dan Omicron.

2. Melakukan investasi puluhan miliar dolar AS di berbagai bidang. Menurut data Kadin China-Myanmar, terdapat 340 perusahaan China. 30 persen diantaranya adalah perusahaan tekstil dan pakaian jadi.

Perusahaan–perusahaan China yang lain menghasilkan produk-produk pendukung untuk membuat komputer, produk elektronik dan keperluan industri pertahanan. Bergerak di sektor pertanian dan  pertambangan termasuk mengeksplorasi tanah jarang. Di samping sektor konstruksi.

Myanmar mengekspor minyak bumi gas dan timah ke China, sedangkan impornya antara lain  perlengkapan telekomunikasi dan kendaraan bermotor.

China merupakan mitra bisnis utama bagi Myanmar dengan nilai perdagangan mencapai US$12 miliar pada 2020. Di tahun yang sama, kedua negara menandatangani beberapa proyek sebagai bagian dari program One Belt One Road (OBOR).

3. China berkepentingan mempersingkat pengiriman migas dari Timur Tengah. Salah satu cara adalah dengan mendapatkan pelabuhan laut Kyaukpyu  yang berada di sisi Teluk Benggala. Sebelumnya China bekerjasama dengan Pakistan membangun pelabuhan di Gwadar dan dengan Sri Lanka di Hambantota.

4. Mencegah Myanmar berada dibawah pengaruh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, termasuk India yang berbatasan dengan Myanmar. Atas dasar itu, China bersikap lunak terhadap junta militer dengan menolak pernyataan Dewan Keamanan PBB yang mengutuk kudeta terhadap Aung San Suu Kyi dan sikap keras junta militer terhadap pendemo. China juga bersama 36 bersikap abstain terhadap seruan PBB agar menghentikan penjualan senjata ke Myanmar. Beijing meminta supaya dibangun dialog-diplomasi dengan Myanmar.

Berbeda dengan AS,  China juga tidak mengenakan sanksi kepada Myanmar.

Melalui India dan ASEAN

Upaya Amerika Serikat untuk menekan Myanmar melalui ASEAN  tidak berhasil sebab junta militer tetap menjatuhkan hukuman empat penjara kepada Aung San Suu Kyi. Dalihnya adalah memiliki walkie talkie tanpa izin impor, satu set pengacau sinyal dan melanggar undang-undang yang berkaitan larangan berkumpul mencegah penyebaran Covid-19.

Junta diperkirakan menjatuhkan lebih banyak hukuman kepada Suu Kyi dengan peraturan yang dibuat-buat.

Sementara tindakan Asean dengan tidak mengundang Myanmar ke KTT merupakan upaya maksimal karena tak ingin bersikap terlampau jauh dalam urusan internal negara anggota. Sikap ini tidak memuaskan AS yang telah mengirim Menlu Anthony Blinken ke Asia Tenggara Desember lalu.

Asean tampaknya lebih memperhitungkan China yang  memberi bantuan keuangan dan investasi.

Upaya AS untuk memanfaatkan India supaya menekan Myanmar belum dilakukan sekalipun keduanya sudah bergabung dalam QUAD yang juga mengikut sertakan Australia dan Jepang. Washington selama ini mengabaikan posisi strategis Myanmar yang berada diantara India dan China. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior dan pengamat politik dan ekonomi Asia Timur dan Amerika Serikat.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load