Sulit Harapkan Langkah Terobosan Holding BUMN Pangan

Kamis , 13 Januari 2022 | 21:13
Sulit Harapkan Langkah Terobosan Holding BUMN Pangan
Sumber Foto lantaibursa.id
ID Food sebagai identitas baru holding BUMN Pangan
POPULER

JAKARTA--Pemerintah telah membentuk perusahaan induk (holding company) di bidang pangan dengan ambisi besar untuk mengefisienkan pengadaan dan distribusi bahan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang mulia tentu harus didukung. Namun masih harus ditelaah apakah perusahaan raksasa tersebut memang memiliki kemampuan sepadan atau kebijakan ini hanya konsolidasi beberapa BUMN yhang kinerjanya tidak bagus.

BUMN Holding baru tersebut Bernama “ID Food” hasil peleburan dari lima perusahaan pemerintah. Proses pembentukan holding pangan ini telah selesai dilaksanakan, ditandai dengan penandatanganan akta inbreng saham pada 7 Januari 2022. Pemerintah mengalihkan saham lima BUMN pangan, yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Indonesia, PT Berdikari, dan PT Garam kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI sebagai induk holding BUMN pangan.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, pembentukan Holding BUMN akan menciptakan nilai tambah, efisiensi, penguatan rantai pasok, hingga inovasi bisnis model. "Adanya holding BUMN pangan juga menjadi prioritas utama dalam transformasi industri pangan mengingat Indonesia sebagai negara agraris," ujar Menteri Erick, pekan ini.

Menurut Direktur Utama PT RNI (Persero), Arief Prasetyo Adi, launching identitas baru Holding Pangan tersebut menjadi pemicu semangat untuk mewujudkan tiga sasaran. Yaitu mendukung ketahanan pangan nasional, inklusivitas bagi petani peternak dan nelayan, serta menjadi perusahaan pangan berkelas dunia.

Masalah pangan di negeri ini ternyata lebih ruwet dari kemampuan pemerintah menanganinya. Pemerintah sejak jaman pemerintah Orde Baru telah membentuk Badan Urusan Logistik (Bulog) yang juga berfungsi menjaga stabilitas harga pangan. Bulog bertindak sebagai pembeli hasil petani dan mendistribusikannya ke pasaran.

Namun kebijakan harga yang dikendalikan menyebabkan petani tidak bisa menjual produknya dengan harga tinggi sehingga mereka mengalami kesulitan untuk menutup kebutuhan biaya produksi. Bulog juga harus menjual harga bahan pangan dengan patokan  tertentu untuk menjaga tidak terjadi ancaman  inflasi karena harga melonjak di pasaran.

Akibatnya selama puluhan tahun petani tidak mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, bahkan terjadi kecenderungan penurunan angkatan kerja di sektor pertanian. Sangat terasa angkatan kerja muda di pedesaan tidak mau lagi mennggantungkan masa depan mereka di sector ini sehingga kemampuan produksi pun terus menurun.

Bulog yang sudah sangat berpengalaman di sector ini tidak diajak masuk dalam pembentukan holding pangan tersebut. Kemana sebetulnya arah yang ingin dituju pemerintah ke depan karena keenam perusahaan yang bergabung tersebut tidak memilki kinerja cemerlang di bidang ini.

Seperti dikutip media, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI, Arief Prasetyo Adi mengakui beberapa anak perusahaan Holding BUMN Pangan ID Food, masih ada yang mencatatkan kinerja keuangan negatif. RNI sebagai induk Holding ID Food, diberi target untuk menghijaukan kinerja keuangan anak-anak perusahaan holding yang masih negatif tersebut.

Muncul beberapa pertanyaan lain. Apa bisnis inti (core business) holding tersebut mengingat keenamnya berbeda lingkup bisnisnya. Mengapa tidak sekalian memasukkan Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Perkebunan dan beberapa perusahaan lain dengan konsep yang lebih matang.

Ini layaknya sebuah langkah tanggung yang disangsikan mampu menjawab tiga target sasaran tadi. Kesannya terburu-buru dan tidak jelas kemana arahnya.

Ditengah dominasi swasta yang menguasai perdagangan dan distribusi bahan pangan di dalam negeri, sulit diharapkan holding pangan tersebut bisa berperan besar dan efektif. Padahal harapannya mereka mampu menjadi jangkar agar berperan dalam produksi, pengadaan dan distribusi bahan pangan sehingga pasar tidak mudah guncang.

Kiranya sukit mengharapkan langkah terobosan dan peran besar BUMN Pangan tersebut, kecuali hanya akan meramaikan kehadiran entitas baru dalam dunia perdagangan pangan di dalam negeri. Apakah mereka akan mampu melakukan terbosoan di pasaran ekspor, lebih sulit lagi.

Tidaklah berlebihan pihak yang berpandangan bahwa pembentukan BUMN Holding Pangan lebih atas pertimbangan pragmatis untuk mengkonsolidasikan enam BUMN yang kinerjanya belum bagus. Namun kita tidak apriori, hanya mengkhawatirkan kinerjanya tidak akan bagus karena kebijakannya terburu-buru. Selain konsepnya tidak terlalu jelas, pemerintah tidak membuang kerakap dan benalunya. Apakah kerakap dan benalu akan tetap tumbuh subur di holding yang baru? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. (BC)



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load