Tahun Baru, Tantangan Baru

Sabtu , 01 Januari 2022 | 08:50
 Tahun Baru, Tantangan Baru
Sumber Foto Dok/Istimewa
ilustrasi grafis
POPULER

JAKARTA--Malam pergantian tahun kali berlangsung tidak semeriah tahun-tahun sebelum pandemic Covid-19. Kali ini kita melewatinya  dalam suasana prihatin karena ternyata setelah dua tahun berlamngsung pandemic belum juga berakhir. Bahkan belakangan ini merebak varian Omicron yang meresahkan masyarakat berbagai negara di dunia.

Kita sepatutnya tetap bersyukur karena telah melewati perjalanan melelahkan sebelum memasuki tahun baru 2022 ini dengan selamat. Karenanya kita tetap optimistis bahwa sebesar apapun cobaan dan tantangan yang ada bisa kita hadapi dengan baik. Kita optimis varian Omicron akan bisa diatasi sebagaimana kita berhasil menghadapi varian-varian yang lain sebelumnya.

Keberhasilan mengatasi berbagai varian virus Corona itu memberikan keyakinan bahwa pemulihan ekonomi akan berjalan lebih baik tahun ini. Bangsa Indonesia umumnya juga berpandangan serupa bahwa keadaan akan berubah tahun ini menjadi lebih baik.

Survei terbaru oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap mayoritas publik optimistis dengan kondisi ekonomi nasional pada 2022 nanti. Hal itu terungkap dalam survei bertajuk Ekonomi-Politik 2021 dan Harapan 2022: Opini Publik Nasional.

Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, mengatakan 62,2 persen responden menilai ekonomi nasional tahun 2022 lebih baik atau jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tentu ada responden yang menilai perekonomian tetap buruk, atau jauh lebih buruk, namun hanya 10,6 persen. Sisanya sebanyak 19,2 persen memperkirakan tidak ada perubahan, sedangkan yang 7,9 persen sisanya menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

"Temuan ini sejalan dengan optimisme warga pada ekonomi rumah tangganya. Ada sekitar 72,9 persen yang menilai ekonomi rumah tangga tahun depan akan lebih baik atau jauh lebih baik dibanding sekarang. Sementara yang menilai akan lebih buruk atau jauh lebih buruk hanya sekitar 6,7 persen, dan yang menilai tidak ada perubahan 15,9 persen. Yang tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 4,4 persen," tutur Deni, pekan lalu.

Tahun 2021 memang penuh dengan tantangan berat. Banyak warga menilai kondisi tahun lalu buruk, bahkan lebih buruk dari tahun sebelumnya. Meski tak sedikit pula yang menilainya lebih baik.

Hasil survey SMRC tersebut merupakan temuan yang menggembirakan karena para pengamat ekonomi umumnya memperkirakan tahun ini kondisinya akan lebih baik. Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal juga meyakini ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik dari 2021.

"Potensi untuk tumbuh di 2022 lebih bagus daripada di 2021. Kalau di 2021 proyeksi kami pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 3,6% sampai 4%, di 2022 nanti lebih tinggi di kisaran 4% sampai 5%. Meskipun lebih rendah dari target pemerintah, tapi lebih tinggi dibandingkan 2021,” kata Mohammad Faisal dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2021 yang digelar Core Indonesia, di Jakarta, pekan lalu.

Namun ia juga mememperkirakan tingkat inflasi di tahun depan naik cukup signifikan, bahkan bisa naik dua kali lipat yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Kondisi ini juga bisa menahan laju pertumbuhan ekonomi. "Kalau inflasi naik dua kali lipat, sementara dari sisi pendapatan naiknya tidak setinggi itu, inilah yang menjadikan daya beli menurun,” kata Faisal.

Ini tantangan yang tidak ringan. Penurunan daya beli masyarakat, utamanya mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, bisa menimbulkan implikasi lain yaitu gap ekonomi yang melebar. Sebab, ternyata lapisan ekonomi menengah keatas umumnya tak terpengaruh oleh kesulitan ekonomi ini karena mereka memiliki  tabungan yang cukup.

Tantangan lainnya adalah mengenai pengendalian virus Corona yang harus segera tuntas. Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono optimistis Indonesia akan memulai untuk masuk ke dalam fase endemi Covid-19 pada 2022. “Pada 2022 diharapkan Indonesia sudah masuk ke fase endemi dengan tingkat penularan rendah dan kemampuan Negara dalam menekan tingkat kematian, tetapi tetap dengan protokol kesehatan prokes yang masih sangat dianjurkan untuk dijalankan,” ujarnya.

Moga-moga saja demikian. Namun kita patut menggarisbawahi peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Varian Omicron dan varian Delta yang dating bersamaan, menurut WHO,  dapat memicu gelombang tsunami Covid-19 serta memberikan tekanan hebat pada sistem perawatan kesehatan dunia. 

“Saya sangat prihatin bahwa Omicron, yang lebih menular [dan] beredar pada saat yang sama dengan Delta, menyebabkan tsunami kasus,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers, Kamis (30/12). 

Maka, kita harus tetap waspada namun tidak boleh pesimistis. Sebagai bangsa kita telah berhasil melewati masa-masa sulit, yang mestinya bisa memperkuat daya tahan dan mempertinggi kesiapan mental menghadapi masa depan. Semoga saja segala tantangan bisa diatasi dengan cepat dan tuntas sehingga tahun ini kita bisa benar-benar bangkit untuk mengejar berbagai ketertinggalan yang terjadi akibat hempasan pandemic. (bc)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load