Hati-Hati Dengan Angka Pertumbuhan!

Selasa , 09 November 2021 | 08:01
Hati-Hati Dengan Angka Pertumbuhan!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

PERISTIWANYA terjadi di Kampus Duke University, Durham, North Carolina USA. Ketika itu pada tahun 1974, penulis mengikuti kuliah S2, “Ekonomic Development (Pembangunan Ekonomi)” pada suatu negara. Kuliahnya, disampaikan oleh Profesor DR. Martin Bronfen Brenner, seorang Ahli Ekonomi Pembangunan yang terkenal di Amerika Serikat.

Beliau berujar bahwa untuk membuat dari suatu negara menjadi negara kaya, maka diperlukan investasi yang besar sekali. Beliau mensitir pendapat dari Ahli Pembangunan Ekonomi yang tersohor dikala itu, di Amerika Serikat, yakni Prof. DR. W.W Rostow, yang berpendapat “Bahwa apabila negara yang sedang berkembang, investasinya tidak cukup besar, maka negara itu lagi berada dalam “Perangkap Kemiskinan”.

Oleh karena itu, negara itu haruslah berinvestasi besar sekali, sehingga pertumbuhan ekonominya besar sekali, sehingga negara yang bersangkutan itu bisa menembus “Perangkap Kemiskinan”, seraya secara pesat, menuju kearah Negara Kaya.

Profesor DR. Martin Bronfen Brenner, berujar lagi, “Hal seperti itu sudah terjadi di Negara Jepang pada abad ke19. Jepang berinvestasi besar sekali. Maka pada abad ke 20, yakni pada tahun 1940 an itu Jepang sudah berani berperang melawan Amerika Serikat”

Beliau melanjutkan lagi ,” Kalau investasi di negara yang miskin itu jumlahnya tanggung sekali, maka negara itu tidak bisa menembus “Perangkap Kemiskinan” itu.

Beliau memberikan contoh yang terjadi pada suatu negara di Amerika Tengah. Di negara itu Presidennya, seorang diktator.

Pada suatu hari, kantor pusat statistiknya melapor, bahwa pertumbuhan ekonomi pada suatu tahun yang dilaporkan sudah mencapai 7% pertahun. Pada tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan ekonominya selalu dibawah 4% pertahun.

Maka, sang diktator lalu berpidato berapi-api menyampaikan kepada rakyatnya, “Bahwa Negara kita lagi tumbuh pesat sekali”. Beliau lupa untuk melihat berapa sesungguhnya Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kedua tahun yang dilaporkan itu.

Sesungguhnya negara diktator itu, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan itu adalah 7%, adalah betul. Tetapi, kenaikan PDB nya dari Rp 100 triliun menjadi Rp 107 triliun, berarti negara diktator itu sudah tumbuh 7%.

Padahal pada PDB sebesar Rp 100 triliun itu, jika dibagi dengan jumlah penduduk maka Pendapatan Perkepala Penduduk, hanya 10.000 saja. Dan, negaranya masih termasuk negara miskin. Dengan pertumbuhan 7% yang dilaporkan itu, Pendapatan per kepala penduduknya, cuma menjadi 10.100, dan negaranya, tetap masih negara miskin lagi.

Karena pernyataan sang diktator itu, yang telah merasa puas, maka akibatnya para birokratnya sudah berpesta pora, dan lupa kepada kenyataan bahwa negara itu, masih miskin. Akibatnya, rakyat di negara itu merasa dikibulin, dan terjadilah pemberontakan di sana sini di negara diktator itu. Dan, berakhir dengan diktator itu di gantung oleh rakyatnya sendiri.

Profesor DR. Martin Bronfen Brenner memberi nasIhat kepada para mahasiswanya . “Anda harus berhati-hati sekali terhadap Angka Pertumbuhan Ekonomi. Anda harus juga melihat apakah negara itu masih miskin, atau sudah menjadi negara kaya. Hal ini penting sekali, jangan sampai terjadi lagi pada negara lain, seperti pengalaman negara diktator di Benua Amarika Tengah itu”. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load