Komitmen Investasi Sangat Besar, Ingat Hutan Kita Jangan Makin Gundul

Kamis , 04 November 2021 | 17:40
Komitmen Investasi Sangat Besar, Ingat Hutan Kita Jangan Makin Gundul
Sumber Foto Dok/Istimewa
Ilustrasi
POPULER

JAKARTA--Selama sepekan Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke tiga negara untuk menghadiri beberapa pertemuan internasional.  Dimulai dengan KTT G20 di Roma, Italia, kemudian mengikuti KTT COP26 di Glasgow, Skotlandia, dan terakhir berkunjung ke Dubai, Uni Emirat Arab.

Dari beberapa pertemuan dengan sejumlah kalangan di luar negeri, Presiden membawa pulang komitmen investasi dalam jumlah besar. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan totalnya ada US$ 41,99 miliar atau sekitar Rp 596 triliun komitmen investasi yang masuk ke Indonesia selama perjalanan Jokowi di luar negeri.

Berbagai komitmen investasi tersebut didapatkan dalam pertemuan dengan para investor di sela konferensi COP 26 di Glasgow dan juga dalam pertemuan Jokowi dengan beberapa petinggi Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi. Rinciannya, ada US$ 9,2 miliar komitmen investasi yang didapatkan di Glasgow dan US$ 32,7 miliar yang didapatkan di UEA. Maka totalnya, US$ 41,99 miliar.

"Waktu di Glasgow, komitmen investasi dalam pertemuan dengan investor di sela-sela COP26 adalah US$ 9,2 miliar. Sampai detik ini totalnya US$ 9,2 miliar ditambah (komitmen UEA) US$ 32,7 miliar, maka total US$ 41,99 miliar," kata Retno, Kamis (4/11).

Jumlah itu mungkin saja bisa bertambah lagi.  Menteri Investasi/Kepala BPKM Bahlil Lahadalia mengatakan komitmen investasi di Abu Dhabi yang mencapai US$ 32,7 miliar bisa bertambah hingga US$ 35 miliar. "Kita aka komunikasi dengan beberapa investor dalam forum investasi, saya harapkan besok kita masih kerja sampai tengah malam lagi untuk tingkatkan yang US$ 32,7 miliar meningkat lebih lagi. Kami targetkan akan bisa di atas US$ 35 miliar," ungkap Bahlil.

Kita menyambut gembira berbagai komitmen investasi yang disampaikan oleh banyak investor dari luar negeri, baik yang dicapai di Glasgow maupun Abu Dhabi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap memiliki daya tarik yang tinggi sehingga investor luar negeri tertarik untuk menanamkan modal mereka di Indonesia. Banyak proyek strategis yang diminati asing, salah satu diantaranya adalah mega-project pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur.

Salah satu catatan penting adalah para investor tersebut tentu meminta kemudahan yang sepadan, termasuk ketersediaan lahan yang sangat luas. Dikabarkan bahwa produsen gula Dubai yang terbesar kelima di dunia, yaitu Al Khaleej Sugar Co, siap untuk membenamkan dana investasi sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp28,68 triliun untuk membangun pabrik ethanol yang siap memasok sebanyak 750.000 ton per tahun. Untuk itu investor UEA tersebut membutuhkan lahan seluas 100.000 hektare.

Kita menyambut gembira berbagai catatan kesuksesan selama kunjungan Presiden di luar negeri. Namun demikian kita juga perlu mengingatkan bahwa komitmen investasi besar jangan hanya berhenti dalam janji-jani belaka, namun harus dikejar realisasinya. Ini penting agar catatan sukses tersebut lebih bermakna, bukan hanya komitmen yang meninabobokkan rakyat.

Lebih penting lagi, investasi besar asing harus memberikan manfaat besar bagi rakyat, antara lain dalam penyerapan tenaga kerja dan alih teknologi yang bisa mempertinggi mutu sumberdaya manusia Indonesia. Pemerintah juga harus berkomitmen untuk mengarahkan investasi bagi terciptanya green economy,  bukan investasi yang merusak lingkungan.

Harus diingatkan disini komitmen global yang dicapai di Glasgow mengenai penghentian deforestasi. Kita semua mencatat, penggundulan hutan telah menimbulkan kesengsaraan rakyat dimana-mana, berupa kerusakan lingkungan, bencana tanah longsor, banjir dan berbagai dampak negatif lainnya. (BC)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load