Jangan Hanya Janji, Pemerintah Harus Tegas Hentikan Deforestasi

Selasa , 02 November 2021 | 18:30
Jangan Hanya Janji, Pemerintah Harus Tegas Hentikan Deforestasi
Sumber Foto BeritaSatu.com
Ilustrasi
POPULER

JAKARTA--Sebuah kesepakatan penting dicapai dalam KTT mengenai perubahan iklim yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia, berkaitan dengan penghentian penggundulan hutan (deforestasi). Kesepakatan tersebut disertai dengan dukungan dana sebagai kompensasi atas penghentian pembabatan hutan tersebut, mengingat dampak negatifnya sangat besar dan menyengsarakan rakyat.

Indonesia sebagai salah satu pemilik hutan yang sangat luas memiliki tanggungjawab besar bagi suksesnya kesepakatan tersebut. Lagi pula deforestasi di Indonesia berlangsung sangat massif selama 50 tahun terakhir. Banyak pengusaha berkembang menjadi sangat kaya raya dengan memanfaatkan kekayaan hutan, namun dampak yang ditimbulkan sangat merugikan rakyat hingga saat ini.

Banyak wilayah di Indonesia yang kini rawan kebakaran hutan di musim kemarau dan menderita banjir bandang di musim penghujan. Sebagian besar penyebabnya adalah penggundulan hutan yang terus terjadi.

Maka kesepakatan penghentian deforestasi dalam 9 tahun ke depan sangatlah relevan bagi Indonesia. Dikabarkan dari Glasgow bahwa sebanyak 100 negara yang mewakili 85 persen dari hutan di dunia berkomitmen selama 9 tahun ke depan untuk menghentikan deforestasi dalam perhelatan COP26 hari ke-3 di Glasgow, Skotlandia. Komitmen ini akan didukung menggunakan pendanaan senilai US$19,2 miliar.

Selain itu juga akan disediakan oleh 12 negara termasuk Inggris senilai US$12 miliar melalui pendanaan publik dari 2021-2025. Pendanaan ini akan digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan, restorasi lahan, dan membantu masyarakat adat. Sebelumnya dikabarkan bahwa upaya pencegahan perubahan iklim akan menelan biaya hingga US$100 milyar.

Juru bicara pemerintah Inggris mengatakan kontribusi ini berasal dari komitmen keuangan yang sudah ada. "Dengan komitmen yang belum pernah terjadi sebelumnya hari ini, kita akan memiliki kesempatan untuk mengakhiri sejarah panjang umat manusia sebagai penakluk alam, dan sebagai gantinya menjadi penjaganya,” kata Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, seperti dikutip Bloomberg pada Selasa (2/11).

Sebanyak 30 perusahaan keuangan termasuk Aviva Plc., Schroders dan Axa juga bakal berkontribusi untuk menghentikan investasi pada kegiatan yang berhubungan dengan deforestasi. Inggris mengatakan terdapat wilayah hutan sebesar 27 lapangan sepak bola yang hilang setiap menitnya.

Beberapa negara seperti Brasil, Rusia, Kanada, Kolombia dan Indonesia bakal berupaya untuk menghentikan kehilangan hutan dan degradasi lahan hingga 2030. Peran Brasil yang memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia menjadi sangat krusial di tengah ambisi negara-negara untuk mengurangi emisi dan mengatasi deforestasi.

Peneliti isu perubahan iklim Heru Santoso mengatakan Indonesia ikut berkontribusi dalam perubahan iklim dunia, dengan sumbangan besar ke depan adalah emisi atau gas buang dari pemakaian energi. “Tapi selama ini penyumbang besar dari emisi Indonesia adalah deforestasi dan kebakaran hutan, terutama di lahan gambut,” kata peneliti ahli madya Pusat Riset Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional itu, beberapa waktu lalu.

Deforestasi atau penebangan hutan banyak terjadi di lahan gambut atau dataran rendah seperti di Sumatera dan Kalimantan. Tujuannya untuk membuka lahan untuk tanaman kelapa sawit dan kebutuhan pabrik kertas. Masalah itu, tambahnya, yang menyebabkan crude palm oil (CPO) dari Indonesia menjadi sorotan di Eropa. “Dianggap tidak green, tidak ramah lingkungan, dan emisinya besar,” ujar Heru.

Dari hasil studinya, Heru mengatakan dampak masalah emisi pada perubahan iklim di Indonesia adalah kenaikan suhu 1 derajat Celcius seiring tren global. Hasilnya seperti hujan ekstrem yang makin meningkat, mempengaruhi ekosistem laut, waktu tumbuhan berbunga dan berbuah juga dapat berubah, dan mengganggu kehidupan beberapa spesies. “Kalau sampai naik 2 derajat yang akan terpengaruh lebih besar adalah sumber daya air, kekeringan, atau kejadian cuaca ekstrem,” katanya.

Masalah penggundulan hutan sudah menjadi keprihatinan sejak lama namun tidak ada upaya serius pemerintah untuk menghentikannya. Eksploitasi hutan terus berlangsung, bahkan tidak sedikit yang melibatkan praktek korupsi dalam proses perijinannya. Maka, sekali lagi, komitmen pemerintah pusat dan daerah sangat penting. Jangan hanya janji, melainkan melakukan upaya nyata untuk menghentikan penggundulan hutan kita. (BC)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load