Pentingnya Membenahi Sejarah

Rabu , 27 Oktober 2021 | 21:40
Pentingnya Membenahi Sejarah
Sumber Foto Dok/Istimewa
Ilustrasi grafis
POPULER

 

Oleh Taufik Darusman 

JAKARTA--Dari waktu ke waktu saya minum kopi atau makan siang bersama dengan warga asing, umumnya pengusaha atau diplomat, untuk bertukar pikiran atau membahas topik tertentu yang sedang hangat. Kerap kali mereka memiliki sudut pandang yang dapat melengkapi sudut pandang perihal suatu peristiwa penting di dalam maupun di luar negeri.

Perjumpaan semacam ini juga saya manfaatkan untuk menjaga kefasihan dalam berbahasa asing yang mulai luntur akibat tidak pernah lagi ke luar negeri akibat pandemi. Kalau mereka yang mengajak, kami bersantap di restoran Italia atau Jepang. Kalau saya yang ajak, saya undang ke restoran khas Indonesia karena (terutama) lebih murah dan sekalian promosi kuliner Nusantara.  

Menjelang Hari Sumpah Pemuda saya teringat akan makan siang bersama dengan Philippe Augier beberapa hari setelah 17 Agustus. Philippe adalah penguasaha Perancis yang sudah bermukim puluhan tahun di Indonesia. Ia memiliki hotel dan museum seni rupa di Bali, masing-masing di Ubud dan Nusa Dua. Ia juga ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia-Perancis. Setelah kami memesan makanan, ia mengucapkan selamat atas perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76.

“Banyak yang sudah dicapai oleh Indonesia selama ini. Terus terang, lebih banyak dari apa yang telah dicapai bekas koloni-koloni Perancis seperti, misalnya, Aljazair dan Tunisia,” katanya.

“Terims, Philippe, tapi itu tidak lepas dari investasi dan dukungan negara-negara maju seperti Perancis. Tapi bekas jajahan Anda, Vietnam, juga hebat perkembangannya, apalagi kalau mereka tidak berperang selama belasan tahun melawan AS,” saya berkata.

   “Betul, tapi saya kerap bertanya-tanya mengapa Indonesia sampai bisa dijajah selama 350 tahun oleh sebuah negara kecil seperti Negeri Belanda? Anda ‘kan terkenal sebagai bangsa pejuang yang hebat?” katanya.

“Tunggu dulu, Philippe. Anda, seperti mayoritas warga Indonesia, adalah korban sejumlah ahli sejarah kita yang berkhayal tentang itu,” kata saya, seraya berusaha menafikan apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai kekeliruan yang memalukan.

“Orang Belanda memang pertama kali datang ke apa yang kemudian menjadi bagian dari Indonesia, yaitu Banten, pada sekitar 1550. Tapi mereka tidak serta-merta menjajah seluruh Nusantara.”

“Mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama ratusan tahun menghapus jasa Pangeran Diponegoro, Teuku Umar dan Imam Bonjol, untuk menyebut beberapa nama pahlawan nasional, yang berjuang melawan kehadiran Belanda di sini.”

“Ya, saya kira juga demikian. Memang aneh kedengarannya. Sepertinya tidak ada sebuah negara di dunia yang pernah dijajah selama ratusan tahun,” katanya sambil mencicipi sate ayam di hadapannya.

“Benar,” saya katakan, “bahkan saya merasa terhina kalau dikatakan kita dijajah selama berabad-abad. Dan jangan lupa, ketika itu yang namanya Indonesia belum ada. Yang ada adalah sejumlah kerajaan di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Indonesia praktis baru ada secara konsepsional pada 28 Oktober 1928.”

“Apa yang terjadi pada hari itu?” tanyanya.

“Pada hari itu para pemuda dari seluruh pelosok Nusantara mengucapkan sumpah setia kepada tanah air Indonesia, berbangsa Indonesia dan menyepakati satu bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia,” saya jawab.

“Lalu 17 Agustus 1945?” tanyanya.

“Itu tanggal saat para pemimpin perjuangan memproklamirkan kemerdekaan dari okupasi Belanda. Itu pun juga hampir tidak terjadi kalau beberapa pemuda tidak memaksa Soekarno dan Mohamad Hatta untuk melakukannya,” saya jelaskan.

“Begitu ya, luar biasa,” katanya seraya meneguk es cendol, yang menurutnya lebih lezat dari milkshake-nya McDonald’s.

Philippe kemudian menghela napas, mencuri waktu untuk mencerna sudut pandang lain tentang sejarah Indonesia. Kami sudah tahunan berkenalan dan selalu berdiskusi secara terbuka dan jujur. Dengan gaya sardonis yang tipikal Perancis, ia bertanya dengan setengah bersenyum, apakah ini pemikiran saya atau memang fakta sejarah?  

“Philippe, I’m just a struggling writer. I don’t write history,” saya jawab.

Saya jelaskan beberapa sejarawan seperti Prof Taufik Abdullah sudah lama membantah Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun. Ia bahkan mengatakan bahwa “bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun”

“Ini tidak sesuai dengan fakta, yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya dalam sebuah seminar di Medan pada 2010.

“Saya senang mendapatkan perspektif baru tentang sejarah Indonesia. Saya memang dari awal merasa canggung dengan ide bahwa suatu bangsa besar seperti bangsa Indonesia dapat dijajah selama ratusan tahun,” kata Philippe.

Setelah puluhan tahun di Indonesia, kemahiran Philippe dalam berbicara dan membaca dalam Bahasa Indonesia sangat baik, bahkan mungkin lebih baik dari rata-rata orang kita sendiri. Saya anjurkan ia membaca Indonesia Tidak Pernah Dijajah karya sejarawan Batara R. Hutagalung, yang menepis anggapan bahwa kita pernah dijajah sebuah kerajaan kecil selama ratusan tahun.  

Bagi saya, yang mencengangkan – bila tidak bisa dikatakan menakjubkan – adalah kenyataan bahwa ‘mitos’ ini diberikan hak hidup yang berkepanjangan oleh kebanyakan sejarawan. Lebih parah lagi otoritas tertinggi dalam urusan sejarah suatu bangsa, yaitu pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, menaruh sedikit perhatian atas kekeliruan sejarah ini. Nota bene, menterinya, Hamid Algadri, adalah perintis kemerdekaan. Kita hanya bisa berspekulasi kementeriannya menghadapi terlalu banyak masalah di tengah pandemi yang tidak kunjung berakhir; membenahi fakta sejarah bukan prioritas mereka dewasa ini.

Memang beragumentasi kita pernah dijajah selama ratusan tahun memberikan legitimasi kuat untuk memproklamsikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Apalagi argumentasi bahwa apa yang dinamakan Indonesia mencakupi seluruh teritori yang pernah diokupasi oleh Belanda, mulai dari Sabang sampai Merauke. Di sisi lain, martabat kita sebagai suatu bangsa agak terusik manakala dicatat dalam sejarah sebagai bangsa yang pernah dijajah selama ratusan tahun. Dan repotnya, terkesan kita bangga dengan mitos itu.

Negarawan Inggris Winston Churchill pernah berakata: “History is written by the victors.” Bangsa Indonesia unggul dalam perang kemerdekaan. Kita  berhak – dan wajib – menulis sejarah kita sendiri secara benar dan bermartabat. *

 



Sumber Berita: Taufik Darusman
KOMENTAR

End of content

No more pages to load