Tambuh Sepalih dan Tambuh Seperempat?

Kamis , 21 Oktober 2021 | 07:38
Tambuh Sepalih dan Tambuh Seperempat?
Sumber Foto: Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

PERISTIWANYA terjadi pada era 1960-an akhir. Pertama, bermula di kota Yogyakarta, dan kedua, di kota Jakarta, Ibu Kota NKRI kita.

Pada tahun 1967 penulis lulus sebagai Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta. Penulis beruntung ketika sudah mendapat gelar sebagai Sarjana Muda Ekonomi pada tahun 1967. Oleh Dosen Ilmu Statistik, Ir. Zamzawi Suryuti M.St, karena penulis mendapat nilai ujian Ilmu Statistik yang nomor satu di kelas Beliau, maka Beliau meminta penulis menjadi Asisten Dosen Mata Kuliah Pengantar Ilmu Statistik.

Jika Beliau karena satu dan lain hal, tidak bisa memberi kuliah, maka beliau menugaskan penulis untuk memberi kuliah Ilmu Statistik di kelas-kelas pada Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, yang kedua kampusnya berada di kota Yogyakarta.

Dan, oleh Dekan Fakultas Ekonomi, Bapak Drs. Sukadji Ranuwihardjo MA, meminta penulis membantu mengerjakan statistik untuk, “Disertasi Beliau”, untuk mengambil gelar Doktor dalam Ilmu Ekonomi, pada Fakultas Ekonomi,  Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Penulis pada waktu itu, bulan Juni 1967 diminta oleh Bapak Drs. Sukadji Ranuwihardjo untuk menjadi dosen pada Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, dan mulai mengajarnya pada bulan September tahun 1967.

Karena masih ada waktu terluang sebanyak, Tiga Bulan, sebelum bertugas sebagai dosen di Fakultas Ekonomi, UGM, maka penulis mohon ijin kepada Bapak Dekan FE-UGM, DR Sukadji Ranuwihardjo, untuk merasakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di Jakarta.

Karena penulis juga mendapat Ikatan Dinas dari Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (Kementerian PTIP), maka penulis melapor bahwa sudah lulus Sarjana Ekonomi. Penulis minta kepada Bapak Sulaiman Madina, pejabat dari Kementerian PTIP, untuk berkenan menempatkan penulis pada Kementerian Keuangan RI. Akhirnya, penulis mulai bekerja di Departemen Keuangan R.I, ditempatkan di kantor Bapak Drs. Kartono Gunawan M.St, Sekretaris Direktorat Jenderal Keuangan, Departemen Keuangan R.I. Bapak Drs. Kartono Gunawan M.St juga adalah Dosen Kuliah Ilmu Ekonomitrika, pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis diminta juga sebagai Asisten Dosen Beliau. Dan, pada Kelas disitu, penulis lalu bersahabat dengan Mahasiswa Syahrir. Kemudian Beliau ini menjadi DR. Syahrir sebagai Ekonom yang terkenal di Indonesia.

Ketika telah menjadi sahabat karib, maka pada suatu waktu, dia mengajak penulis untuk makan siang di Warung Makan di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta, di Rawamangun. Pada warung itu, penulis di kenalkan dengan istilah tambuh seperempat?

Pengalaman penulis kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM, kalau kita lagi makan di warung Kampus itu, kalau mau tambuh. Pertama, kita tambuh satu (piring). Kalau masih lapar, minta tambuh lagi, tambuh sepalih = separuh. Ini adalah kebiasaan hidup di Yogyakarta. Pada waktu itu belum ada warung makan boleh ngambil sendiri (prasmanan). Begitulah keadaan ekonomi Indonesia pada waktu itu.

Di kedai Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia Jakarta, tambuhnya bukan lagi tambuh satu, tambuh lagi tambuh separoh, dan masih boleh tambuh lagi dengan Tambuh Seperempat?. Mungkin sampai saat ini, belum ada warung nasi di Indonesia yang seperti itu?

Beruntunglah Mahasiswa sekarang ini, di mana saja di Indonesia, kapan saja makannya sudah boleh nambah semaunya dan sepuasnya dengan harga yang sama saja.

Maka, sudah sepantasnyalah para Mahasiswa berterima kasih kepada para aparat NKRI, yakni Beliau-beliau itu sebagai Aparat Sipil Negara (ASN), yang bekerja keras tanpa pamrih. Paling sedikit makan bukanlah lagi barang mahal bagi rakyat NKRI. Alhamdulillah, dan Syukurilah karunia Allah SWT kepada rakyat NKRI kita! Amin. (Marzuki Usman)

 

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load