Selamat Tim Thomas Cup, Namun PR Kita Masih Banyak

Senin , 18 Oktober 2021 | 14:35
Selamat Tim Thomas Cup, Namun PR Kita Masih Banyak
Sumber Foto Dok/Istimewa
Tim Thomas Cup Indonesia
POPULER

JAKARTA--Lama menunggu dan kini berhasil. Setelah 19 tahun, tim nasional bulu tangkis Indonesia berhasil memboyong pulang kembali Thomas Cup. Indonesia memenangkan laga final setelah mengalahkan China 3-0 dalam pertandingan di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10).

Kemenangan pemain tunggal Anthony Sinisuka Ginting yang mengalahkan Lu Guangzu mengawali pesta ini. Kemudian diikuti pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto mengalahkan pasangan China He Jiting/Zhou Ho Dong dua set langsung. Kepastian ditentukan oleh Jonatan Christie yang menghentikan perlawanan LI Shi Feng.

“Ini sangat luar biasa atmosfernya karena ini juga salah satu cita-cita kita dari kecil buat berlaga di Thomas Cup dan sekarang dapat menyumbang point untuk Indonesia di partai final. Memang salah satu tujuan kita ingin memenangkan Piala Thomas ini setelah 19 tahun. (Rasanya) sangat luar biasa!” ujar Fajar Alfian sebagaimana dikutip dari Reuters.

Hal senada disampaikan Jonathan Christie setelah mengalahkan Li Shi Feng. “Saya bangga menjadi warga Indonesia. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Anthony yang memulai dengan 1-0, dan Fajar-Ardian yang menjadikannya 2-0. Jadi saya menjadi lebih percaya diri ketika bermain di partai ketiga. Saya juga melihat Li di babak pertama tampak gugup, jadi saya memanfaatkan kesempatan itu," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Associated Press.

Presiden Joko Widodo tidak menyembunyikan kegembiraannya dalam menyambut kemenangan tersebut. Ia menulis di akun Instagramnya : “Piala Thomas akhirnya kembali ke Indonesia setelah penantian 19 tahun lamanya.”

Kita semua bangga dengan kembalinya Thomas Cup ke Indonesia setelah hampir 20 tahun tim kita selalu kandas. Sayang, tim Uber Cup kandas dalam turnamen bergengsi ini. Pada masa lalu Thomas Cup sering kita menangkan, demikian pula beberapa kali merebut Uber Cup.

Namun kita tidak perlu terlalu eforia menyambut kemenangan ini. Masih banyak pekerja rumah yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan olahraga nasional, khususnya bulutangkis. Fakta bahwa bendera Merah Putih tidak bisa dikibarkan dalam panggung itu harus dipandang sebagai pukulan.

Taufik Hidayat, mantan pebuutangkis nasional, menyoroti tidak berkibarnya bendera Merah Putih saat lagu Indonesia Raya berkumandang di Ceres Arena. Anehnya bendera Merah Putih diganti dengan bendera PBSI.

Dikabarkan, bendera Merah Putih tidak bisa berkibar di Ceres Arena karena Indonesia terkena sanksi Badan Antidoping Dunia (WADA) yang efektif per 7 Oktober 2021. Hukuman itu juga mencakup pencabutan hak Indonesia sebagai tuan rumah untuk kejuaraan atau turnamen level regional, kontinental, dan dunia selama masa penangguhan.

WADA juga melarang Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) untuk duduk sebagai anggota dewan di komite sampai status sanksi dipulihkan, atau minimal menjalani masa penangguhan selama satu tahun. WADA menjatukan sanksi tersebut karena Indonesia dinilai gagal menerapkan program pengujian yang efektif.

Kita berharap pemerintah dan LADI bekerja dengan serius untuk mengatasi masalah tersebut agar nama baik Indonesia bisa dipulihkan di dunia internasional. Ini bukan masalah sepele. Bila hal tersebut diabaikan maka Indonesia akan makin dikucilkin masyarakat olahraga internasional. Bisa dibayangkan betapa kerugian yang dialami bangsa dan negara ini bila hal tersebut terjadi.

Kita juga meminta pemerintah bekerja serius dalam membina keolahragaan nasional, bukan hanya bulutangkis, namun juga cabang-cabang olahraga lainnya. Kemajuan bulutangkis nasional tidak bisa dilepaskan dari kontribusi klub-klub swasta yang dengan tekun dan kerja keras membina atlet-atlet nasional dengan  resiko biaya yang sangat besar.

Catatan ini penting karena peringkat keolahragaan kita di Asia belumlah bisa dikatakan bagus, apalagi tingkat dunia. Dalam Asian Games 2018 di Jakarta kita mampu menduduki peringkat 4 dengan meraih 31 medali emas. Namun ada factor keuntungan sebagai tuan rumah. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya medali dari cabang pencak silat yang memang andalan Indonesia.

Maka, kita patut bergembira dengan kembalinya piala Thomas Cup, namun seajarnya saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk menegakkan kembali kehormatan kita sebagai gudangnya olahragawan hebat seperti terjadi di masa lalu. (bc)



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load