AS Bangun Konflik dengan China, Menjual Senjata ke Negara Ketiga

Senin , 18 Oktober 2021 | 06:55
AS Bangun Konflik dengan China, Menjual Senjata ke Negara Ketiga
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi - Konflik Amerika Serikat dengan China.
POPULER

NEGARA-NEGARA Barat, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, memandang China dan Rusia sebagai musuh, lawan atau penentang. Dalihnya China dan Rusia secara alamiah bukan negara demokratik serta menolak, menantang atau menentang norma-norma liberal dalam sistem internasional.

Atas dasar pandangan itu maka hampir setiap tindakan China dan Rusia dianggap membahayakan kepentingan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Mulai dari pembangunan kekuatan militer Rusia di perbatasan dengan Ukraina, peningkatan kekuatan laut China di Laut China selatan serta prakarsa China yakni  One Belt One Road  yang mencakup pembangunan infrastruktur dan keuangan di 152 negara. Begitu juga dengan penjelajahan kapal-kapal nelayan China ke kepulauan Galapagos.

Paling akhir, latihan bersama angkatan laut China dan Rusia di laut Jepang pada 15 Oktober 2021 mendapat sorotan tajam. Latihan gabungan tersebut mencakup penghancuran ranjau, menyerang kapal perang, tembakan altileri pantai, serbuan dan pertahanan udara.

Mengapa Khawatir?      

Sekalian kekhawatiran AS itu menimbulkan pertanyaan, apakah ini karena mengganggu supremasinya sebagai negara adidaya? Merusak sistem politik demokrasi? Lagi pula, mengapa gangguan itu harus dihadapi dengan membuat koalisi ala AUKUS yang terdiri dari Australia, Amerika Serikat dan Inggris. Disamping tidak membubarkan NATO sekalipun Uni Soviet sudah berantakan.

Malahan, lebih jauh lagi AS  mengimbau negara-negara lain untuk turut serta menangkal ‘ekspansi’ pengaruh China. Pengertian ekspansi itu terutama dimaksudkan membendung arus investasi dan perdagangan China.

Amerika Serikat dewasa ini memiliki sekitar 750 basis militer di sedikitnya 80 negara di hampir setiap penjuru dunia. Rangkaian pangkalan militer itu terputus di Kepulauan Indonesia, sekalipun sebetulnya AS menghendaki  memiliki basis militer di Kepulauan Natuna, pulau Miangas dan Biak.   

Kalau mempunyai keunggulan militer  dalam jumlah basis dan teknologi militer sedemikian rupa, kenapa AS mengkhawatirkan China dan Rusia?  

Industri militer Amerika Serikat telah kepalang menggurita.  Presiden Dwight D.Eisenhower dalam pidato perpisahanannya pada 17 Januari 1961  mengingatkan pengaruh negatif industri militer dalam kebijaksanaan negara. Penegasan mantan jenderal Perang Dunia II itu mengisyaratkan peran industri militer dalam berbagai konflik berdarah di banyak negara, termasuk perang Vietnam.

Pengaruh itu tak pernah berhenti. Untuk tahun fiskal 2022, total anggaran pertahanan yang diajukan mencapai US$ 715 miliar atau setara dengan Rp 10.224 triliun (kurs Rp 14.300/US$) alias setara Rp 10,22 kuadriliun. Sementara pada tahun sebelumnya, jumlahnya mencapai hampir US$705.39 miliar.

Dalam anggaran 2022 tu, terdapat kenaikan anggaran litbang sebanyak US$5,5 miliar, sedangkan untuk teknologi baru turun US$8,8 miliar.

Besarnya anggaran dari tahun ke tahun membuat industri militer menjadi tulang punggung industri manufaktur Amerika Serikat. Persentasenya sekitar60% dari total industri manufaktur.

Produk industri militer itu digunakan di dalam negeri maupun diekspor ke luar negeri. Institut Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) mengungkapkan, ekspor AS pada 2016-2020 mencapai 37% dari total produk industri militer seluruh dunia. Persentase itu naik 15% dari periode 2011-2015. Pembeli terbanyak adalah Arab Saudi dengan 24%, Australia 9,4% dan Korea Selatan 6,7%.

Menurut data industri pertahanan AS, ekspor pada 2020 berjumlah US175,08 miliar yang berarti 2,8% dari tahun sebelumnya. Penjualan dilakukan secara kredit atau hibah berdasarkan skema pemerintah ke pemerintah (G to G).   

Mempertahankan Konflik

Mengingat peran industri militer dalam perekonomian nasionalnya, maka AS harus membangun situasi konflik secara berkesinambungan. Maka dari itu sesudah meninggalkan Afghanistan, tahapan berikutnya adalah membuat China sebagai penantang di Asia dan Rusia di Eropa.

Keseriusan itu ditunjukkan dengan meningkatkan  kekuatan militernya di Laut China Selatan dan Asia Timur. Membangun aliansi dengan Australia dan Inggris serta Prancis. Inggris mempunyai basis militer terbatas di Singapura sedangkan Prancis sejak lama menempatkan pasukan dan armada laut di Pasifik Selatan. 

Para ilmuwan dari berbagai pusat pengkajian terkemuka di Amerika Serikat turut urun rembug. Mereka membuat banyak artikel yang menunjukkan China telah tumbuh menjadi penantang dan penganggu kepentingan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.  

Sejauh ini, Indonesia berhasil mempertahankan sikap tidak berfihak dalam kecenderungan konflik China-Amerika Serikat. Tak ingin menyediakan pangkalan permanen bagi para pihak yang berkonflik tetapi bersedia mengadakan latihan militer bersama. Menyediakan pulau Natuna sebagai pusat penangkapan ikan dengan bantuan Jepang.

Indonesia pantas berhati-hati karena AS-China tidak akan berkonflik langsung sebab mempunyai hubungan dagang yang erat, total US$ 558,1 miliar pada 2019. China juga membeli obligasi kementerian keuangan AS sebanyak US$1,062 triliun pada Juni tahun ini. Turun US$16,5 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

China masih menduduki posisi kedua setelah Jepang yang membeli obligasi AS per Juni 2021 sebanyak  US$1,277 triliun.

Yang juga membuat sulit konflik langsung adalah keduanya mempunyai peluru kendali nuklir yang mampu menjangkau masing-masing negara.

Dengan demikian yang mungkin terjadi adalah proxy war. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior, pengamat politik dan ekonomi Asia Timur dan Amerika Serikat.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load