Hoegeng 100 Tahun. Masihkah Polisi Menghormatinya?

Kamis , 14 Oktober 2021 | 11:34
Hoegeng 100 Tahun. Masihkah Polisi Menghormatinya?
Sumber Foto Merdeka.com
Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso

JAKARTA--Hari ini, 14 Oktober 2021,  genap 100 tahun usia Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso.  Dia polisi yang sangat dihormati karena kejujuran dan integritasnya. Meski Hoegeng hanya menjabat tiga tahun sebagai Kapolri, tokoh ini selalu dikenang dan dijadikan simbol polisi yang ideal.

Sikapnya yang  tegas, bersih, sederhana, dan jujur membuat namanya menjadi legenda di kalangan kepolisian. Pelaku kejahatan tak berkutik selama Polri berada di bawah kepemimpinannya. Namun, keberanian dan integritasnya itu membuatnya harus berkorban lebih besar. Ia diberhentikan dari jabatan Kapolri karena ketegasan sikapnya, terutama dalam pemberantasan korupsi dan penyelundupan.

Banyak kisah yang selalu diingat hingga saat ini. Alkisah, ketika ia masih berpangkat Kompol di Medan, Hoegeng membongkar praktik suap menyuap di kalangan polisi dan jaksa, yang membekingi bandar judi.

Hoegeng tidak mau menerima uang suap. Barang-barang mewah pemberian bandar judi dilemparnya keluar jendela. Baginya, lebih baik hidup melarat dari pada menerima suap atau korupsi. Prinsip hidup itu ia tiru dari mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Tambah tinggi jabatan, makin besar pula godaannya. Ketika sudah bertugas di Jakarta, dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Perempuan itu meminta Hoegeng tidak melanjutkan kasusnya ke pengadilan. Hoegeng menolak, namun pengusaha cantik itu tidak menyerah, terus mengirim berbagai hadiah mewah . Namun tokoh kelahiran Pekalongan ini selalu menolaknya.

Dikutip dari merdeka.com, Kapolri Jenderal Hoegeng pernah dihadapkan pada kasus pemerkosaan yang dialami seorang penjual telur bernama Sumarijem di Yogyakarta. Dalam kasus tersebut diduga terlibat anak seorang pejabat dan anak pahlawan revolusi. Hoegeng sadar kasus di pengadilan waktu itu penuh rekayasa, Hoegeng siap mengusut tuntas kasus tersebut.

Hoegeng kemudian membentuk tim khusus, “Tim Pemeriksa Sum Kuning” pada Januari 1971. Namun entah mengapa, kasus tersebut kemudian ditangani oleh Tim Pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hoegeng bahkan dipensiunkan dari jabatan Kapolri pada Oktober 1971. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus tersebut.

“Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapapun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” ujar Hoegeng waktu itu.

Jenderal Hoegeng berpendapat, tugas polisi adalah mengayomi masyarakat. Baik itu dari pangkat tertinggi sampai terendah. Oleh karena itu, Hoegeng merasa tidak pernah malu untuk turun langsung ke lapangan mengambil alih tugas polisi yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Termasuk, misalnya, mengatur lalu lintas yang macet.

Dalam menjalani kesehariannya di kantor, Hoegeng merupakan sosok yang disiplin. Dia selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00. Sebelum sampai ke kantor, dia menyempatkan diri dulu untuk memantau situasi lalu lintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.

Meski tak lagi menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng tetap memberi perhatian khusus pada institusi tempat ia dulu bekerja. Pada 1977, dia mendapat laporan dari seorang perwira menengah polisi kalau ada dugaan korupsi di sejumlah perwira tinggi. Atas laporan itu, Hoegeng langsung mengirim memo kepada Kapolri saat itu Jenderal Widodo Budidarmo. Isinya, Hoegeng mengkritik habis-habisan perilaku polisi bergaya hidup mewah.

Karena tak kunjung mendapat balasan, Hoegeng lantas membocorkan dugaan korupsi itu ke beberapa media. Tak lama kemudian meledaklah kasus dugaan korupsi mencapai Rp 6 miliar. Setelah diusut, diketahui kasus itu menyeret sejumlah nama seperti Deputi Kapolri Letjen Polisi Siswadi dan tiga perwira lainnya. Mereka kemudian divonis bersalah.

Kepercayaan Publik Rendah

Itu cerita masa lalu yang patut terus dikenang. Kondisi saat ini telah berubah. Beberapa tahun lalu, para penerus Hoegeng dikabarkan memiliki “rekening gendut”, namun kasus-kasusnya tidak diperiksa secara tuntas, seolah menguap begitu saja. Selain kasus korupsi, banyak sekali masalah aktual yang menggambarkan betapa makin sedikit pewaris Hoegeng di lingkungan Polri.

Kini kepercayaan public terhadap Polri pun rendah. Sebuah penelitian yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) beberapa bulan lalu memperlihatkan fakta itu. Berdasarkan survei SMRC, kepercayaan publik terhadap Polri hanya 58 persen. Angka tersebut lebih kecil ketimbang lembaga-lembaga lain.

Angka yang diraih Polri lebih rendah dibandingka pengadilan (61%), KPK (60%) dan Kejaksaan (59%). Jumlah responden yang mengaku tidak percaya kepada institusi kepolisan sebesar 38 persen. Angka ini juga paling tinggi dibandingkan ketidakpercayaan terhadap KPK (36%) dan Kejaksaan 35%).

Apakah Hoegeng menangis di alam sana melihat fakta-fakta tersebut? Tidak ada yang tahu. Namun kondisi saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Belakangan ini bahkan sempat viraln tagar #PercumaLaporPolisi di media social.

Ditambah lagi, kasus oknum polisi membanting mahasiswa yang berdemo di Tangerang pekan ini. Polisi macam ini sudah  sangat jauh, bahkan lupa, terhadap nia-nilai yang diwariskan leluhur dan panutannya, Jenderal Pol Hoegeng Imam Santoso. (BC)



Sumber Berita: Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load