Langkah Taktis Airlangga Menuju 2024

Rabu , 29 September 2021 | 23:13
Langkah Taktis Airlangga Menuju 2024
Sumber Foto Radar Malang
Airlangga Hatarto dan Muhaimin Iskandar
 

OLeh Anthony Zeidra Abidin

JAKARTA--Diplomasi berolahraga pagi di SCBD bersama Muhaimin Iskandar (25/9), unik dan sangat taktis.

Unik, karena dalam sejarah awal reformasi, PKB dan Golkar bagaikan air dan minyak. Bermusuhan dan bahkan sulit menyatu, sampai-sampai Gus Dur (Abdurrahman Wahid) setelah menjadi presiden mengeluarkan Dekrit: membubarkan Golkar dan Parlemen.

Padahal sebelum terpilih menjadi presiden, Gus Dur datang khusus menemui Ketua Umum Golkar Ir. Akbar Tandjung di kantor DPP Golkar Slipi. Memohon dukungan Golkar untuk memilihnya menjadi Presiden pada SI-MPR (Sidang Umum MPR) 20 Oktober 1999.

Dengan janji, jika Golkar mendukungnya “Saya meminta kesediaan Bang Akbar untuk menjadi Wakil Presiden”. Setelah pertemuan yang disaksikan Aulia Rachman dan saya tersebut, saya mendampingi Bang Akbar ke suatu stasiun TV untuk wawancara. Dalam perjalanan, kami membincangkan tawaran yang bukan hanya datang dari Gus Dus, tetapi hal yang sama juga ditawarkan Megawati.

Sebagai partai pemenang pemilu 1999 kedua, Gokar punya posisi tukar yang tinggi. Siapa pun yang didukung Golkar pasti menang. Langkah taktisnya ketika itu, Akbar Tandjung tetap maju bertarung dalam SI-MPR. Sayangnya, pada detik-detik terakhir menjelang penetapan calon presiden oleh MPR, terjadi peristiwa singkat namun dramatis dan tragis yang mengakibatkan Akbar Tandjung mundur.

Golkar mendukung Gus Dur bersama Poros Tengah. Jadilah Gus Dur Presiden RI ke-3, menggantikan BJ Habibie. Keesokan harinya, 21 Otober 1999, Gus Dur lebih memilih Megawati sebagai Wapres. Golkar kehilangan “momentum taktisnya”, karena mundur sebelum bertempur. Jika saja AT tetap maju, Gus Dur tidak akan terpilih dan Mega melalui diplomasi Taufik Kemas dapat dipastikan akan menyandingkan AT untuk maju daalam pemilihan putaran kedua.

Dengan kehilangan “mementum taktis” tersebut, sejak saat itu hingga sekarang, Golkar tidak pernah berhasil mengusung kadernya memenangkan Pemilihan Presiden. Pada hal Golkar adalah pemenang Pemilu 2004 dengan 128 kursi di DPR dan ketika itu PDIP pada urutan kedua: 109 kursi.

Bagaimana dengan Jusuf Kalla? Baik Pilpres 2004 yang memenangkan pasangan SBY-JK, maupun Pilpres 2014 yang menjadikan Jokowi Presiden dan JK Wakil Presiden, Partai Golkar berada dalam posisi bersebarangan. Tidak mengusung JK, kader dan tokoh Partai Golkar yang bahkan pernah menduduki jabatan ketua umum partai berlambang beringin itu.

Mungkin berdasarkan pengalaman dramatis dan tragis pada masa lalu itu, Airlangga Hartarto memilih sejumlah langkah taktis. Antara lain melakukan “diplomasi SCBD” dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (25/9).

Jika terbangun koalisi dua partai ini, maka terhimpun suara Golkar (85 kursi) dan PKB yang (juga unik) jika kursi Golkar itu dibaca terbalik adalah 58. Total 143 suara melebihi 20% presidential threshold yang hanya 115 kursi.

Mudah-mudahan saja, keunikan matematika angka 85 dan 58 itu merupakan pertanda datangnya era baru bagi Golkar.

Dapatkah Airlangga dengan berbagai langkah taktisnya mengembalikan kejayaan Golkar yang sudah lama hilang?

Sejarahlah nanti yang akan membuktikannya.

*Penulis adalah wartawan dan pengamat politik senior yang tinggal di Jakarta



Sumber Berita: Anthony Z Abidin
KOMENTAR

End of content

No more pages to load