Hubris Dan Pentingnya Kerendahan Hati

Senin , 20 September 2021 | 19:41
Hubris Dan Pentingnya Kerendahan Hati
Sumber Foto madaninews.id
Ilustrasi grafis

 

Oleh Taufik Darusman

Sekitar 50 tahun lalu saya pertama kali berkenalan dengan kata “hubris” melalui “The Best and The Brightest.” Buku karya pemenang Hadiah Pulitzer almarhum David Halberstam itu mengulas asal-usul Perang Vietnam pada 1960an, dan permainan politik dan militer pemerintah AS yang mewarnai konflik tersebut. Perang tersebut, ia simpulkan dalam buku 700-halaman itu, bukan semata mengenai kekhawatiran AS perihal bahaya komunisme menguasai Asian Tenggara tapi juga “hubris” yang melanda para pejabat AS yang mengelola konflik itu.

Hubris, sebuah kata Yunani kuno, umumnya diterjemahkan sebagai “sirnanya cita rasa tentang kenyataan, dan rasa percaya-diri yang berlebihan terkait dengan kemampuan manusia.” Dalam bahasa populer biasa disebut “PD” yang bersinggungan dengan keangkuhan. Ini suatu istilah yang juga dapat diterapkan pada sementara pejabat kita ketika virus Corona pertama kali ditemukan di Indonesia, Pebruari tahun lalu.

Mungkin masih banyak dari kita yang ingat bahwa salah satu pernyataan agak konyol yang diutarakan seorang pejabat kita ketika itu adalah: “Jangan risau,” katanya, “virus tersebut dapat dilawan melalui doa.” Seorang pejabat lainnya, menunjuk kepada birokrasi kita yang semrawut, malahan menganggap enteng masalah itu. Ia bergurau dengan mengatakan virus itu tidak berani masuk Indonesia karena urusan izinnya rumit.

        Pernyataan-pernyataan ini dibuat pada saat Wuhan di Tiongkok, ketika itu episentrum dari virus tersebut, berada dalam status “lockdown” sementara para pejabat WHO kalang-kabut mengevaluasi dampak globalnya. Hubris yang melanda para pejabat kita malahan menjadi-jadi: mereka menganjurkan para pelaku parawisata untuk menawarkan diskon tiket pesawat dan kamar hotel besar-besaran guna menarik wisatawan. Akibatnya, mobilitas manusia asing maupun lokal meningkat dan ini memungkinkan virus tersebut untuk menyebar ke mana-mana.

Hingga kini tidak ada pejabat yang merasa bersalah atas pernyataan dan keputusan keliru itu, yang mengakibatkan kita harus mengalami situasi sulit dewasa ini. Untungnya, pada Maret tahun lalu pemerintah membentuk Satgas untuk mengatasi apa yang dalam beberapa bulan saja berkembang menjadi suatu pandemi. Namun pada September 2020 saja sudah 300,000 warga terpapar Covid-19, dan pada Agustus 2021 angka tersebut bertambah menjadi empat juta dengan 130,000 kematian. (Di Jakarta saja terdapat lebih dari 400,000 pasien Covid dan hingga kini 13,000 sudah meninggal.) Lebih parah lagi, virus itu sudah tersebar di seluruh 32 propinsi.

Apakah situasinya tidak akan separah seperti sekarang bila saja para pejabat tidak demikian angkuh dan mengambil langkah-langkah yang tepat? Mungkin juga tidak mengingat virus tersebut demikian ganas, belum lagi kecepatannya yang dahsyat untuk menyebar. Namun kita bukan berbicara angka-angka saja; ini menyangkut nyawa manusia yang sangat berarti bagi mereka yang ditinggalkan.

Baru pada Juli pemerintah mengakui kewalahan menghadapi pandemi ini kendati pelbagai tindakan telah diambil tanpa hasil yang menjanjikan. Namun dalam suatu langkah mulia yang sarat diperlihatkan seorang pejabat pemerintah, Menko Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan, yang juga bertugas sebagai ketua satgas penanganan Covid-19, meminta maaf kepada publik atas kemajuan yang berarti. Tiada yang mengharapkan seorang purnawirwan jenderal yang terkenal tegas dan keras memiliki kerendahan hati. Namun itulah yang diperlihatkan kepada para anggota DPR ketika ia menyampaikan betapa seriusnya keadaan dan penyesalannya bahwa pemerintah masih belum dapat menepati janjinya.

Sesungguhnya – kebalikan dari pandangan populer selama ini – kebanyakan orang Indonesia memang  angkuh dan selalu merasa benar sendiri. Hampir setengah abad lalu, pada April 6, 1977, jurnalis dan penulis piawai Mochtar Lubis mencengangkan publik dalam suatu orasi kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM) ketika ia mengatakan orang Indonesia umumnya munafik dan feodal serta memiliki karakter yang lemah.

Dua generasi bangsa Indonesia telah lahir sejak Mochtar membuat pernyataan yang agak kurang menggembirakan mengenai rekan-rekan sebangsanya itu. Kita hanya bisa menerka apa pandangannya tentang orang Indonesia dewasa ini. Namun sudah dapat dipastikan, ‘defisit dalam kerendahan hati’ termasuk dalam daftarnya. *

Penulis adalah mantan wartawan yang bermukim di Tangerang Selatan.



Sumber Berita: Taufik Darusman

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load