China: AS Harus Turut Serta Membangun Kembali Afghanistan

Kamis , 02 September 2021 | 19:46
China: AS Harus Turut Serta Membangun Kembali Afghanistan
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi.

RUSIA, China, Pakistan, Iran dan Turki menyatakan akan membantu pembangunan kembali Afghanistan. Perincian minat itu diperkirakan baru diketahui beberapa waktu mendatang. Ketika pemerintahan Taliban terbentuk dan memperoleh pengakuan internasional. Sangat menarik untuk melihat apakah kelimanya akan membantu per negara atau melalui suatu konsorsium.

Lembaga-lembaga internasional, yang dimotori negara-negara Barat, kemungkinan akan turut urun rembug untuk mengurangi pengaruh China.
China menjadi titik perhatian karena menjadi anti tesa Amerika Serikat. Juga karena mempunyai cadangan yang terbesar diantara keempat negara yaitu US$ 3,236 triliun.

Jumlah itu, lebih tinggi dari cadangan devisa bulan Juni yakni US$ US$ 3,214 triliun. Naik US$ 21,88 miliar. China juga dikenal datang ke negara lain dengan motif melakukan investasi, membangun infrastruktur dan membeli produk-produk pertambangan. Tidak seperti Washington yang hampir setiap empat tahun merangsek negara lain.

Dewasa ini, China mengembangkan pendekatan melalui realisasi prakarsa One Belt One Road (OBOR). Sejak digagas delapan tahun lalu, sejumlah sedikitnya 135 negara sudah menyatakan turut serta. Berarti membentang dari Indonesia, Pakistan, Italia hingga Afrika. OBOR menyasar infrastruktur pelabuhan laut, udara, jalan kereta api, jalan bebas hambatan, koridor ekonomi dan lainnya.

Seperti yang telah banyak dikemukakan, China berkepentingan bagi hadirnya stabilitas di Asia Tengah maupun Asia Selatan. Dua kawasan yang rawan karena dapat dimanfaatkan basis bagi kelompok-kelompok teroris.

China lebih mudah melakukan kerjasama sebab saat Taliban berkuasa pada 2000-2005 telah menyepakati pengelolaan berbagai pertambangan di Afghanistan.

Kesepakatan itu berantakan sesudah Amerika Serikat menggulingkan pemerintahan Taliban. Meskipun demikian, China tetap mempertahankan
hubungan dagang, bahkan dalam kurun 2019-2020.

Ekspornya mencapai US$986,5 juta sedangkan impor dari Afghanistan US$55,3 juta. Bagi Kabul, China merupakan mitra perdagangan ketiga terbesar.

Bentuk Kerjasama

Seperti juga sejumlah negara lain, temasuk Indonesia, China tidak menutup kedutaan besarnya di Kabul. Hal ini dimungkinkan karena Beijing juga mempertahankan hubungan baik dengan pemerintahan Afghanistan yang didirikan tentara pendudukan Amerika Serikat.

Bahkan pada 2016, kedua pihak menandatangani MoU terkait OBOR dengan memprakarsai beberapa proyek seperti pembangunan jalan kereta api. Realisasinya tak berjalan mulus akibat terhambat masalah keamanan serta kondisi iklim dan geografis.


Pada musim panas, suhu bisa mencapai 40 derajat Celsius, sedangkan pada musim dingin temperatur merosot hingga minus 25 derajat Celsius. Sementara perbatasan China-Afghanistan sepanjang 5.000 km terdiri pegunungan tinggi dan lembah yang selama sembilan bulan dalam setahun, diselimuti salju.

Kemungkinan besar, China akan menghubungkan pembangunan kembali di Afghanistan dengan prakarsa China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Sejak mula, CPEC ditargetkan mempunyai dampak positif terhadap Iran dan Afghanistan.

Di bawah CPEC, China menghabiskan milyaran dolar untuk membangun jalan raya, kereta api dan pelabuhan laut yang berlokasi di Gwadar, Pakistan. Pusat pertambangan atau ekonomi Afghanistan dapat dihubungkan dengan jalur Barat, jalan kereta api dan pipa minyak bumi, yang berawal dari Gwadar hingga perfektur Kasghar di bagian barat daya provinsi Xinjiang, China.

Prospek Cerah Yang Bersyarat

Afghanistan diketahui memiliki tambang plutonium, uranium, bijih besi, kromium, Migas, tanah jarang, tembaga dan lain-lain. Nilai keseluruhan tambang diperkirakan mencapai US$3 triliun. Ketidakstabilan politik dan keamanan telah mengganggu rencana eksplorasi. China pada 2014 telah mencapai kesepakatan untuk mengeksplorasi tambang tembaga namun sampai saat ini belum ada realisasinya.

Penguasaan Taliban akan membuka jalan bagi pengembangan sumber daya alam dan proyek-proyek yang lain, tetapi pengembangan tidak akan terjadi tanpa bantuan modal, teknologi bahkan SDM asing. Perang dengan Soviet selama sepuluh tahun (1979-1989) dan dengan Amerika Serikat (2001-2021) merusak lingkungan alam. Kehidupan sosial. Pendidikan yang mempengaruhi kualitas SDM. Menghancurkan infrastruktur.

Menyusutkan Perekonomian

Presiden Hamid Karzai dalam pembicaraan terakhir dengan Joe Biden mengungkapkan, gaji tentara dan polisi tidak naik selama sepuluh tahun terakhir.

Selain pertambangan, Afghanistan memiliki berbagai produk pertanian yang berorientasi ekspor. Tercatat almond, pistachio, kismis, kacang kenari dan delima.

Akhir-akhir sekalian produk tidak dikelola dengan baik. Potensi SDA dan lokasinya yang strategis tidak cukup untuk menarik investasi asing. Lantaran masih terhambat berbagai faktor yang dikemukakan di atas.

Para pemimpin Taliban memahami hal tersebut oleh sebab itu mereka menyatakan menyambut baik negara manapun, tidak terkecuali AS dan Israel, untuk berinvestasi di Afghanistan.

Pernyataan verbal tersebut masih harus disertai bukti. Banyak pihak khawatir, Taliban hanya akan berubah dalam gaya tetapi intinya tidak. Taliban sediktnya tediri dari 12 faksi yang berdasarkan kesukuan dan faham agama.

Faksi moderat diketuai Mullah Abdul Ghani Baradar Akhund dan wakilnya Mohammed Omar mereka menerima kehadiran negara lain dan membuka sektor pendidikan bagi anak-anak perempuan. Bagaimana dengan faksi garis keras?

Tugas utama bagi pemerintahan baru adalah menata friksi internal dan menyusun pemerintahan secara pragmatis. Kemudian bagaimana pemerintah pusat berhubungan dengan 34 provinsi yang diantaranya dikuasai penentang Taliban?

China Tak Ingin Sendiri

Akibat perang, sejak 1979 sampai sekarang, jutaan orang Aghanistan mati dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tingkat kematian bayi dan anak-anak merupakan yang tertinggi di dunia.

Sejumlah 50 persen dari anak-anak mengalami stunting atau tinggi badannya lebih pendek dari yang seharusnya. Sebanyak 20 persen anak perempuan memiliki bobot lebih ringan dari yang seharusnya.

Afghanistan merupakan negara termiskin di dunia dengan peringkat sedikit di atas Burundi, Somalia dan Sierra Leone, ungkap Bank Dunia, total perekonomiannya bernilai US$198,80 miliar pada 2020.

Pemilikan cadangan devisa yang besar, kemampuan membangun perekonomian dan niat baik, membuat China menjadi yang paling digadang-gadang untuk membangun Afghanistan. Namun Beijing tidak mau terjebak.

Wakil Tetap China untuk PBB Geng Shuan di depan Dewan Keamanan PBB, New York beberapa waktu lalu menyatakan China bersikap absen dalam resolusi Dewan Keamanan terhadap Afghanistan. Alasannya, kekacauan yang terjadi di Afghanistan disebabkan penarikan pasukan-pasukan asing yang gegabah dan tidak tertib.

Kami berharap para pihak terkait menyadari penarikan bukanlah akhir tetapi awal renungan dan koreksi. Para pihak yang terkait sudah seharusnya bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan selama 20 tahun terakhir.Memenuhi komitmen mereka untuk mewujudkan perdamaian dan pembangunan kembali di Afghanistan.

Anda tidak dapat mengklaim peduli terhadap kesejahteraan rakyat Afghanistan, sementara pada saat yang sama mengenakan sanksi secara sepihak. Anda tidak dapat mengklaim mendukung percepatan ekonomi dan pembangunan sosial di Afghanistan,namun pada saat yang sama menyita dan membekukan aset-asetnya di luar negeri.

Anda tidak dapat pergi begitu saja setelah menimbulkan bencana besar di Afghanistan, lalu mengalihkan tanggung jawab ke negara-negara tetangga Afghanistan dan Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat dan Australia juga harus bertanggung jawab atas tindak kriminal
terhadap rakyat Afghanistan, katanya. (Sjarifuddin)

Penulis adalah pengamat politik dan ekonomi Asia Timur dan Amerika Serikat.

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load