Kita Mudah Terpesona, Gampang Pula Terpedaya

Selasa , 03 Agustus 2021 | 18:55
Kita Mudah Terpesona, Gampang Pula Terpedaya
Sumber Foto Naviri Magazine
Ilustrasi grafis

JAKARTA--Drama “Sumbangan Rp 2 Trilyun” tampaknya hanya berlangsung singkat belaka. Polisi sudah menetapkan Heriyanti, putri Akidi Tio, sebagai tersangka kasus penipuan. Namun lebih penting, kasus ini harus menjadi pelajaran karena kita sering terlalu mudah terpesona terhadap rekayasa, sehingga seringkali kita kehilangan akal sehat dan tak mampu lagi berpikir jernih.

Kita tidak sempat menelisik duduk perkara ketika mendengar seseorang memberikan sumbangan dengan nilai yang sangat fantastis. Kita seperti tersihir, berdecak kagum atas kedermawanan Akidi Tio (almarhum) yang melalui keluarganya memberikan sumbangan jumbo untuk penanganan pandemic Covid di Palembang dan sekitarnya.

Siapa yang tidak percaya? Setidaknya orang melihat tempat dimana sumbangan tersebut diserahkan dan kepada siapa diterimakan. Hariyanti dan para penasehatnya diterima langsung oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen (Pol) Eko Indra Heri. Berbagai kalangan terdiri pejabat dan tokoh menyaksikan penyerahan sumbangan itu.

Kredibilitas institusi kepolisian menjadi jaminan bahwa pemberian sumbangan tersebut benar dan sah. Maka berbagai pujian dan sanjungan terdengar menggema dimana-mana. Bahkan seorang mantan menteri kabinet menulis berpanjang-panjang mengenai sosok milyuner tersebut, penuh dengan pujian dan sanjungan.

Kredibilitas kepolisian menjadi jaminan karena tidak ada opini apapun dalam menyambut dan menerima ide atau rencana sumbangan fantastis itu. Padahal, ternyata, dalam dokumen kepolisian, dalam hal ini di Polda Metro Jaya, nama Hariyanti tercatat pernah dilaporkan rekan bisnisnya karena berutang beberapa milyar rupiah yang tidak dilunasinya.

Maka kasus tersebut sungguh sangat memalukan. Kita semua, tak terkecuali para petinggi pemerintahan itu, tertipu oleh acting yang hebat. Cilakanya, kasus penipuan semacam ini, bukan baru sekarang terjadi. Kita seperti keledai yang jatuh berkali-kali dalam lubang yang sama. 

Pada jaman Presiden Soekarno pernah ada kasus “Raja Idrus dan permaisuri Markonah” yang disambut di Istana karena hendak menyumbangkan hartanya untuk membantu keuangan negara. Pasangan tersebut mengaku sebagai Raja dan Ratu suku Anak Dalam di wilayah Lampung.

Pada masa Presiden Soeharto juga pernah heboh kasus “Bayi Ajaib” dalam kandungan Cut Zahara Fona, yang diklaimnya pintar mengaji. Bahkan bisa diajak bicara. Presiden dan Wapres Adam Malik sempat tertarik dengan fenomena itu. Namun kasus ini terbongkar ketika Tim Medis RSPAD hendak memeriksa janin.  Cut sempat menolak, namun akhirnya ketahuan hanya penipuan belaka. Ketika itu tape recorder masih merupakan barang baru hasil kemajuan teknologi.

Para penipu rupanya memanfaatkan kondisi psikologis masyarakat yang sedang tercekam oleh situasi tertentu. Seperti saat ini, dalam kondisi sulit dan pemerintah membutuhkan dana sangat besar untuk menanggulangi pandemi Covid. Uluran tangan keluarga Akidi Tio pun disambut dengan tangan terbuka.

Ternyata semuanya sandiwara dan penipuan belaka. Polda Sumatera Selatan telah menetapkan Heriyanti sebagai tersangka kasus sumbangan Rp2 triliun. Polisi menyatakan sumbangan tersebut bermasalah. Heriyanti ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menyiarkan kabar tidak pasti mengenai pemberian bantuan sebesar Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 di Sumsel.

Kasus ini menjadi sebuah pelajaran sangat berharga. Dunia mentertawakan kita, begitu mudahnya bangsa Indonesia terpesona oleh janji-janji manis. Kita terlalu mudah terpedaya dan silau oleh bayangan kosong. Mungkin ini ciri bangsa yang suka menempuh jalan pintas, sering mengabaikan landasan hukum dan kaidah keilmuan dalam menetapkan kebijakannya.

Ini pelajaran sangat penting. Pemerintah dan seluruh anak bangsa hendaknya selalu konsisten terhadap konstitusi, taat aturan dan tidak merendahkan disiplin keilmuan. Ambisi mengejar hasil memang sangat penting, namun disiplin terhadap proses yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan juga tidak boleh diabaikan. Bila selalu menempuh jalan pintas, kita akan mudah terperdaya. Kualitas hasilnya pun bermutu rendah, bahkan mungkin nihil. (BC)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load