Introspeksilah, Korban Meninggal Terus Meningkat

Selasa , 27 Juli 2021 | 19:31
Introspeksilah, Korban Meninggal Terus Meningkat
Sumber Foto detiknews.com
Ilustrasi

JAKARTA--Angka kematian Covid di Indonesia terus meningkat. Para korban itu bukan hanya mereka yang meninggal di rumah-rumah sakit melainkan ribuan orang tercatat menghembuskan nafas terakhir ketika menjalani isolasi mandiri.

Apa yang salah dengan negeri ini? Ketika negara-negara lain berhasil menekan angka kematian, bahkan India yang mengalami lonjakan Covid sangat parah, kini telah berhasil menekan angka korban, kita justru sebaliknya. Penambahan korban meninggal terus meningkat, seakan sistem kesehatan nasional telah gagal melayani rakyatnya.

Pada Selasa (27/7) angka resmi pemerintah menunjukkan korban meninggal mencapai 2.069 orang, sekaligus rekor tertinggi. Dalam sepekan tercatat sebanyak 9.046 orang meninggal, meningkat 30% dibandingkan pekan sebelumnya. Negara yang paling dekat adalah Brazil dengan kematian sepekan sebanyak 7.700 orang, sedangkan India sudah jauh lebih rendah.

Epidemiolog menyoroti kasus kematian Covid yang tinggi tersebut sebagai indikasi betapa parah pandemi di negeri ini. "Angka kematian yang rata-rata di atas 1.000 ini menunjukkan bahwa situasi sangat serius," ujar epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, seperti dikutip Kontan.co.id, Minggu (25/7).

Tim LaporCovid-19 menyodorkan angka lain yang juga mengejutkan. Tercatat sebanyak 2.313 orang meninggal di luar rumah sakit, saat mereka isolasi mandiri. Data tersebut merupakan temuan pendataan dari seluruh provinsi di Indonesia.

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan, temuan tim LaporCovid-19 tersebut perlu menjadi perhatian semua pihak. Ini menunjukkan berbagai kelemahan dalam penanganan orang yang terpapar.

Ada beberapa hal, kata Daulay, yang perlu diperhatikan. Pertama, rumah-rumah sakit dan fasilitas kesehatan ternyata tidak mampu menampung semua yang terpapar. Kedua, fenomena ini juga menunjukkan keterbatasan tenaga medis yang tersedia. Ketiga, data yang disampaikan ini menunjukkan adanya kelemahan dari sisi pendataan. Artinya, petugas yang semestinya mendata tidak mampu menjangkau semua yang terpapar.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri telah meminta agar angka kematian akibat virus corona (Covid-19) dapat ditekan. Terutama bagi daerah yang memiliki angka kematian tinggi. Persiapan penanganan pasien Covid-19 harus dilakukan untuk menjamin perawatan pasien dengan baik. "Peningkatan kapasitas rumah sakit, isolasi terpusat dan juga ketersediaan oksigen perlu ditingkatkan segera," ujar Jokowi saat memberikan keterangan resmi, Minggu (25/7).

Kenyataan ini sungguh mengkhawatirkan. Apalagi membaca perkiraan The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) beberapa waktu lalu, bahwa angka kematian Covid di Indonesia melebihi data yang dilaporkan pemerintah. IHME merupakan pusat penelitian kesehatan global independen di Washington University, Amerika Serikat.

IHME mencatat, prediksi per 22 Mei kumulatif kasus kematian Covid-19 Indonesia mencapai 123.533 kasus. Sementara laporan kasus kematian di Indonesia per 22 Mei dilaporkan 49.205 kasus. Artinya, IHME memprediksi kematian Covid-19 di tanah air sebesar 2,5 lipat dari data yang dilaporkan pemerintah Indonesia.

Perkembangan kasus baru dan jumlah kematian sungguh mengkhawatirkan karena tidak terihat upaya yang solid, massif dan terukur.  Ini terlihat dari kegagalan mencapai target pada sejumlah indikator sangat penting dan pokok. Yaitu, target  penurunan kasus baru, testing, tracing, fatality rate, vaksinasi dan beberapa indikator lainnya.

Ini yang harusnya dikejar sehingga penanganannya efektif, peta penyebarannya terdata dengan baik, demikian pula penangananya. Sehingga kita tidak kelabakan seperti sekarang.

Kiranya sudah waktunya pemerintah melakukan evaluasi dan introspeksi mengapa pengendalian Covid yang telah menghabiskan anggaran ratusan trilyun rupiah belum mampu mengatasi pandemi ini. Para pejabat yang berwenang tak usahlah terus menerus menyalahkan warga, apalagi “wong cilik” yang kehidupannya makin terhimpit oleh berbagai langkah pembatasan. Mereka ini sangat rentan terpapar virus tapi di lain pihak tidak mudah mereka mengakses pelayanan kesehatan. (BC)



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load