Nyambal Dimulut!

Rabu , 21 Juli 2021 | 10:32
Nyambal Dimulut!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

TULISAN dengan judul seperti ini pastilah mengundang pertanyaan, “Apa maksudnya ya?” Ini adalah pengalaman yang penulis alami pada dekade tahun 1950-an, waktu di mana penulis masih menuntut ilmu sebagai murid Sekolah Dasar (SD) di Desa Mersam, Jambi. Dan juga kemudian sebagai siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Jambi.


Secara kualitatif penghidupan rakyat di Kresidenan Jambi tercermin pada kualitas makanan, yakni : pagi, siang, dan malam. Makanannya masih jauh dari : kenyang dan nikmat.

Orang-orang penduduk Jambi, secara tradisional makan yang utama adalah, makan siang, dan bukan malam, sebagai makan yang utama.

Dilihat dari kualitas makanan yang disajikan, masih cuma satu macam makanan saja, misalnya : goreng telor saja, atau goreng ikan saja, atau sayur bening saja, dan atau sambal mentah saja, yakni belum lagi mengudap sambal tumis?

Sekarang ini, pada dekade tahun 1990-an sampai dengan tahun 2020-an, jumlah dan atau macam makanannya, sudah jauh berbeda sekali dibandingkan dengan keadaan kualitas dan jumlah makanan dibandingkan dengan keadaan pada dekade tahun 1950-an.

Pada masa dekade yang dahulu itu macam makanan yang dihidangkan sudah beraneka ragam masakan seperti : gulai, goreng, bakar, dan sebagainya.

Pada dekade tahun 1950-an sampai dengan dekade tahun 1960-an di kampung penulis, Desa Mersam, Jambi, kadang-kadang, dan bahkan seringkali terjadi, sang isteri yang lagi hamil, dan sang suami yang baru lagi pulang dari menyawah.

Karena isterinya masih menahan sakit, karena usia kandungannya sudah dekat waktu bersalinnya, maka dia mohon maaf, karena si isteri tidak sempat ke pasar terdekat untuk berbelanja bahan makanan, untuk membahagiakan suaminya yang sudah satu hari bekerja menyawah.

Akan tetapi karena sang isteri lagi menahan sakit hamilnya, maka dia meminta suaminya, untuk menikmati sambal yang dibuat di mulut saja, yakni dengan memasuki : cabe segar ke dalam mulutnya, seraya diikuti dengan memasuki satu sendok teh, garam, ditambah lagi dua siung bawang merah, dan silahkan mengunyahnya. Maka, jadilah jenis makanan dengan nama Nyambal Di Mulut!

Untunglah, sang suami penuh pengertian, maka dia bisa memaklumi. Seandainya suami ibu itu sangat mencintai dirinya sendiri, maka sudah pastilah sang suami itu dengan congkaknya menceraikan isterinya.

Moral dari tulisan ini, marilah kita berterima kasih kepada para Aparat Sipil Negara (ASN) yang telah bekerja keras membangun Indonesia, dalam kurun waktu 4 dasa warsa. Sehingga Indonesia sekarang ini sudah masuk kepada kelas Negara Yang Berpenghasilan Menengah!

Ini berarti bahwa rakyat Indonesia sudah lebih berbahagia karena pendapatan perkepalanya sudah membuat rakyatnya dapat memakan makanan yang sudah beraneka ragam. Alhamdulillah. (Marzuki Usman)



KOMENTAR

End of content

No more pages to load