NATO Membangun Bibit Konflik Dengan China

Senin , 19 Juli 2021 | 08:09
NATO Membangun Bibit Konflik Dengan China
Sumber Foto: Istimewa
NATO.

CHINA bukan musuh apalagi lawan, ujar Sekjen NATO Jens Stoltenberg, seraya menambahkan namun kami memprihatinkan perluasan pengaruh China di berbagai bagian dunia.

Ucapan Stoltenberg itu mengisyaratkan pergeseran perhatian NATO dari terorisme. Sebagaimana diketahui, NATO sebelumnya menganggap Un Soviet sebagai ancaman. Ketika Soviet runtuh, terorisme menjadi ancaman utama. Setelah terorisme melemah, China kini dianggap bukan musuh atau lawan tetapi systemic challenge.

Systemic challenge berarti China menjadi pesaing dalam arti luas yakni pada aspek investasi, perdagangan, teknologi dan sebagainya.

Negara-negara Barat tidak mengungkapkan bahwa persaingan itu sebenarnya mencakup pula masalah ideologi. Bukankah bila China menjadi nomor satu, maka ideologi kapitalis/imperialis bakal goyah.

Bukan Perang Dingin

Stoltenberg menegaskan dengan penyebutan systemic challenge itu, bukan berarti akan berlangsung Perang Dingin baru. China masih merupakan mitra di berbagai bidang.

Bagaimanapun alasan NATO, pergeseran pandangan paling akhir ini sejalan dengan pendapat Amerika Serikat. Presiden Joe Biden menegaskan China kurang tertarik hidup berdampingan tetapi lebih berambisi mendominasi. Tugas utama Amerika Serikat adalah menumpulkan ambisi itu.

Washington akan bekerjasama pada bidang-bidang dimana China juga berkepentingan yakni perubahan iklim. Tetapi AS akan membendung ambisi China di manapun, dengan memperkuat kondisi di dalam negeri dan membangun kerjasama di berbagai bidang dengan negara lain.

Pertanyaannya, apakah kerjasama militer yang intensif dengan Indonesia belakangan ini. Merupakan bagian dari tekad Biden?

Menilik tekad Stoltenberg dan Biden, maka China akan menghadapi hambatan pada front yang luas. Mulai dari Eropa Utara hingga Asia Timur.

Di Asia Selatan, China memiliki ketegangan permanen dengan India karena masalah perbatasan. Hanya di Asia Tenggara tekanan berkurang sebab Asean tidak menghendaki AS cs terlibat dalam sengketa laut China Selatan antara China dengan Philipina Vietnam , Malaysia dan lainnya.

Meskipun demikian Amerika Serikat memiliki celah untuk terlibat yakni terkait dengan kebebasan pelayaran internasional. Laut ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Nilainya US$5 triliun per tahun.

Uni Eropa Bertindak

Enam bulan setelah Stoltenberg di London menyatakan sikap NATO, Uni Eropa pada Mei lalu membekukan setiap pertimbangan untuk perjanjian kerjasama investasi dengan China. Tindakan ini sebagai protes terhadap perlakuan pemerintah China terhadap suku minoritas Uyghur di Xinjiang.

UE dan China pada 2013 menyepakati Comprehensive Agreement on Investment (CAD), tetapi Parlemen negara-negara anggota maupun UE belum meratifikasi. CAD berpeluang merombak peraturan penanaman modal di China yang terkenal ketat. Sebaliknya ia juga memberi kesempatan luas bagi China untuk membeli secara langsung maupun tidak langsung perusahaan-perusahaan Eropa terutama yang mempunyai teknologi tinggi.

Kekhawatian terhadap ekspansi China itu membesar karena perekonomiannya lebih dulu bangkit di masa pandemi Covid-19. Aksi beli sana-beli sini sudah terjadi dan terus berlanjut, karena perusahaan-perusahaan Eropa memerlukan dana besar.

Pada 2010, Zhejiang Geely Holding Group Co.Ltd. membeli Volvo Cars dari Ford Motor Co (FN). Rencana Volvo akan digabung dengan Geely dan listed di bursa Hong Kong dan kemudian Nasdaq di Shanghai. Tahun lalu, Volvo menunda rencana penggabungan karena yakin penjualan akan membaik.

Pertarungan Panjang

Pierre Morcos, analis pada CSIS London, menyatakan China mungkin tidak akan segera menjadi ancaman melainkan baru akan berlangsung pada beberapa dekade mendatang.

Untuk memahami bentuk ancaman itu, Morcos menyarankan NATO meneliti secara spesifik terhadap negara-negara anggota. NATO juga harus bekerja sama dengan Uni Eropa dalam berbagai bidang.
Upaya untuk betul-betul menekan China tampaknya tidak mudah, sebab ke 30 negara anggota NATO mempunyai kepentingan nasional yang berbeda. Jerman, yang mempunyai perekonomian terbesar di Eropa, sangat berkeinginan melanjutkan ekspansi di pasar domestik China.

Bagi Eropa, China merupakan mitra dagang terbesar setelah pada tahun lalu menggeser AS. Kebanyakan yang diperdagangkan adalah produk-produk manufaktur dan industri.

Menurut data statistik Eropa, impor dari China pada 2020 mencapai 383,5 miliar Euro atau US$465 miliar, naik 5,6 persen. Sementara ekspornya 202,5 miliar atau tumbuh 2,2 persen dari tahun sebelumnya. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior, pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load