Penanganan Covid-19 Memerlukan Upaya Terpadu, Terkoordinasi dan Punya Dana

Selasa , 13 Juli 2021 | 11:28
Penanganan Covid-19 Memerlukan Upaya Terpadu, Terkoordinasi dan Punya Dana
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi - Antrean di salah satu tempat pengisian oksigen.
POPULER

DI sebuah toko di pinggiran Jakarta. Antrean konsumen mengular di sela-sela rak-rak barang-barang kelontong. Butuh waktu minimal lima belas menit bagi setiap orang untuk sampai di depan kasir. Mereka rela antre berlama-lama hanya untuk membeli satu kotak masker. Harganya murah. Isinya banyak. Ada yang membawa tiga sampai empat kotak. Namun belum sampai di depan kasir, seorang pegawai menegaskan konsumen hanya boleh beli satu kotak.

Kesediaan untuk antre dan membeli banyak masker menunjukkan masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan, sekaligus juga takut sakit akibat terpapar Covid-19.
Memakai masker disebut sebagai salah satu cara agar tubuh manusia tidak dimasuki musuh yang tak terlihat itu. Selain itu, dianjurkan pula untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan sabun dan membilasnya dengan air mengalir, membatasi mobilitas dan interaksi. Selain Prokes, vaksinasi juga penting untuk mengurangi bahkan menghilangkan wabah Covid-19.

Wabah menimbulkan kekalutan dimana-mana. Tak jauh dari toko kelontong itu, satu toko jasa pengisian tabung oksigen juga didatangi konsumen. Para konsumen harus pasrah sebab mesti menunggu tiga jam. Bagaimana ini?, kata seorang pria yang sore itu memakai celana loreng.

Sejak mengalami pandemi gelombang kedua, jumlah yang terpapar dan meninggal terus bertambah. Menurut Our World In Data, total kasus di Indonesia per 13 Juli 2021 berjumlah 2,53 juta. Sembuh 2,08 juta sedangkan yang meninggal dunia 64.464 orang.

Pertambahan jumlah yang terpapar dan meninggal menyebabkan kekurangan relawan pemulasan jenazah. Rumah sakit kekurangan tempat tidur. Obat-obatan yang diperlukan menghilang dari pasaran. Lahan kuburan pun susah dicari.

Wabah yang melanda Indonesia sejak Januari 2020 ini, memukul semua aspek perekonomian. Jumlah penduduk miskin naik menjadi 27,55 juta jiwa. Antara lain, disebabkan kebijaksanaan PHK karena perusahaan-perusahaan mencegah kerugian lebih besar.
Dapat dibayangkan dampak penutupan super market ratusan bahkan ribuan pemasok. Sektor formal maupun informal terpengaruh. Tentu juga ada pengaruh terhadap lembaga keuangan dan perbankan.

Bank Dunia menurunkan status Indonesia dari negara berpendapatan menengah atas menjadi menengah bawah karena pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita turun dari US$4.050 pada 2019 menjadi US$3.870 pada 2020.

Bank Dunia sebelumnya menetapkan, negara yang masuk kategori penghasilan menengah bawah adalah yang memiliki GNI US$1.026 hingga US$3.995. Jadi posisi Indonesia sebelumnya memang rawan karena tak jauh dari batas yang ditetapkan.

Jangan lupa penetapan pendapatan penduduk itu bersifat rata-rata. Di dalamnya ada aspek ketimpangan. Dengan wabah ini, ketimpangan makin melebar.

Menkeu Sri Mulyani juga mengingatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tergantung dari lamanya pengetatan pandemi.Semakin lama pengetatan, ekonomi Indonesia akan terpuruk. Pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berada pada posisi 3,7-4,5%.

Perlu diingat, target lazim ditetapkan tinggi sedangkan inflasi rendah. Tujuannya adalah untuk membangkitkan harapan. Bila realisasi target terbalik, tidak masalah.
Diragukan target tercapai karena defisit APBN bertambah dari Rp 257,8 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp 283,2 triliun pada semester satu tahun ini. Lantaran keterbatasan dana, pemerintah telah menggeser dana dari yang menopang pertumbuhan ekonomi kepada pembiayaan kesehatan, terutama buat mengatasi wabah Covid-19.

Pengaruh Non-ekonomis

Wabah diperkirakan berhenti bila Indonesia berhasil mencapai target herd immunity, yakni jika 75%-80% dari total penduduk berhasil divaksinasi. Selama target itu belum tercapai maka evolusi virus atau varian dari virus itu akan terus berlanjut.

Dewasa ini penduduk yang sudah berhasil divaksin dosis pertama berjumlah 34,9 juta (per 9 Juli 2021), sedangkan yang sudah divaksin dosis kedua berjumlah 14.969,330 orang. (10 Juli 2021). Dengan demikian masih perlu waktu lama untuk mencapai herd immunity.

Terjadi perlombaan yang sangat ketat. Pemerintah mempercepat vaksinasi, namun di saat bersamaan varian Kappa, Delta dan Lambda mampu menginfeksi manusia kurang dari satu menit. Apakah vaksin ampuh dengan perkembangan varian Covid-19 tersebut?

Menkeu Sri Mulyani disebut telah mempersiapkan skenario apabila masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diperpanjang dari dua minggu menjadi enam minggu. Katanya, pemerintah akan memperpanjang belanja di sektor kesehatan dan perlindungan sosial dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Ironisnya, para ahli penyebaran penyakit serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan gelombang ketiga penyebaran virus akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Bila Indonesia sudah memasuki gelombang kedua, maka India, Eropa dan negara-negara lain akan memasuki gelombang ketiga.

Ahli vaksin Universtas Sydney Professor Robert Booy kepada para wartawan di Press Club di Sydney, Februari menyatakan virus baru dapat muncul setiap tiga bulan.Jadi bila virus yang mendominasi pada tahun lalu telah berlalu dan kita sekarang menghadapi virus yang lain lagi.

Gelombang ketiga dapat melanda Indonesia, namun cepat atau lambatnya akan tergantung dari disiplin masyarakat dan penambahan jumlah yang divaksin. Jepang, Inggris, Jerman, China dan Amerika Serikat menjanjikan dan sudah mengirimkan vaksin, termasuk yang datang pada 13 Juli 2021.

Wabah telah menimbulkan dampak psikologis di mana-mana. Suatu riset di Wuhan, China pada tahun lalu menunjukkan kaum bujangan paling terdampak, tetapi riset tidak merinci dampak tekanan psikologis itu.

Di Indonesia, diperkirakan terdapat dampak psikologis yang besar mulai dari akibat PHK hingga kehilangan sanak kadang. Budaya yang erat di kalangan masyarakat porak poranda karena Covid-19. Bayangkan, belahan jiwa harus menjadi dari jenazah baik di rumah sakit maupun pekuburan tanpa bisa dijenguk.

Ironisnya, sampai sekarang belum muncul jargon Kesetiakawanan Sosial secara nasional. Yang muncul adalah inisiatif pribadi antar tetangga.
Pemerintah juga mulai membangun kebersamaan lewat pendekatan keagamaan. Hasilnya?

Masalah baru juga akan muncul dalam waktu dekat. Satuan tugas Kapal Perang Pemukul Inggris 21 Inggris yang dipimpin kapal induk HMAS Queen Elizabeth II awal bulan ini tiba di Siprus dalam perjalanan menuju laut China Selatan. Grup ini diperkirakan akan mengadakan latih bersama dengan kapal-kapal Armada Ke Tujuh AS, kapal selam Prancis serta kapal perang Australia di Laut China Selatan akhir Juli atau Agustus mendatang.

Negara Yang Berhasil

WHO menyatakan strategi menguji, menjejaki dan memperlakukan pasien serta membangun kepercayaan merupakan resep keberhasilan mengendalikan penyebaran Covid-19. Selain melakukan hal tersebut, pemerintah Korea Selatan juga berinovasi dengan menyeimbangkan langkah-langkah pengawasan, pencegahan dan mempertahankan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sehari-hari.

Foreign Policy’s COVID-19 Global Response Index tahun lalu menyebut Selandia Baru, Senegal, Islandia, Denmark, Saudi Arabia berhasil mengendalikan penyebaran vius dengan lockdown, isoman dan aspek-aspek yang dikemukakan di atas secara efektif.

PBB juga mencatat, Brasil, China, Jerman, Italia, Rwanda, Afrika Selatan, Uruguay dan Vietnam termasuk berhasil mengendalikan penyebaran virus.
Secara umum dapat disimpulkan negara-negara yang berhasil mengatasi Covid-19 adalah negara-negara kaya, memiliki leadership, mempunyai rencana yang jelas, rakyat percaya kepada pemerintah dan tingkat korupsi yang rendah, seperti Denmark.

Amerika Serikat meskipun kaya namun dibawah kepemimpinan Donald Trump, amburadul dalam menangani Covid-19. Di negara berkembang, tentara perlu memainkan peran lebih besar. Tentara mempunyai organisasi yang teratur rapih dari pusat hingga pelosok. Hirarki yang jelas. Mempunyai tenaga ahli, wahana dan sarana yang diperlukan. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior  dan pengamat ekonomi politik Asia Timur dan Amerika Serikat.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load