Menakar Tingkat Ekonomi Indonesia dari Sayur Bening

Selasa , 13 Juli 2021 | 08:18
Menakar Tingkat Ekonomi Indonesia dari Sayur Bening
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi -Sayur bening.
POPULER

PENULIS ingin memotret keadaan Ekonomi Indonesia pada rentang waktu (periode) tahun : 1950-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2020-an, secara kualitatif yang dapat dilihat oleh penglihatan mata saja.

Kebetulan sudah takdir Ilahi, penulis mengalami sendiri cara kehidupan rakyat lndonesia pada rentang waktu tersebut di atas.

Dengan mengamalkan pengetahuan Ilmu Statistik, penulis sebagai Dosen Mata Pelajaran Pengantar Statistik pada tahun 1960-an sampai tahun 2000-an, penulis ingin menggambarkan kehidupan pada masa itu dengan mengambil metode, “Judgement Sampling”, artinya sampel yang ditentukan sendiri oleh si peneliti, yakni kehidupan di dusun Mersam, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, yakni dusun, di mana penulis dilahirkan. Dan penulis meninggalkan dusun Mersam itu, ketika penulis harus merantau ke Jambi, pada tahun 1957, untuk belajar meneruskan ke Sekolah SMP Negeri nomor 1, (pada waktu itu cuma ada satu Sekolah SMP pada Provinsi Jambi).

Kemudian meneruskan lagi belajar kepada satu-satunya SMA di Provinsi Jambi. Dan, pada saatnya juga pada tahun 1963, penulis terus merantau ke Yogyakarta, ikut kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada. Dan, alhamdulillah pada tahun 1973 pergi belajar mengambil S2, di Departement of Economis, Duke University, Durham North Carolina, Amerika Serikat.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an dengan melihat masakan sayur saja di desa Mersam. Ada namanya, “Sayur Bening”. Artinya sayur itu cuma satu macam saja, misalnya, bayam saja, atau kangkung saja, yakni satu sayur saja, dan sebagainya. Bayam itu dimasukkan ke dalam air bersih. Kemudian lalu dikasih garam saja, dan langsung dimasak. Inilah namanya sayur bening bayam.

Dikatakan sayur bening, karena cuma air bersih yang direbus lalu dimasukkan bayam, atau kangkung dan sebagainya. Pada waktu itu makan sayur bening bayam saja, uwah sudah nikmat betul.

Sekarang kita melompat ke masa teknologi digital tahun 2000-an, kita sudah susah sekali mencari masakan sayur bening / sayur air ini. Karena ekonomi NKRI sudah masuk negara berpenghasilan menengah. Maka anak-anak digital bernyanyi dengan judulnya, “Sayur bening, sayur dahulu Kala!”

Terima kasih kepada Bapak-Bapak, dan Ibu-Ibu dari ASN (Aparat Sipil Negara) yang mengabdi tanpa berpamrih, dan melupakan waktu lalu, menyebabkan NKRI kita sudah masuk, “Kelompok negara berpenghasilan menengah kaya”. Semoga bakti mereka para ASN itu, Allah bayar dengan Barokah-Nya, pada hari akhirat nanti. Amin ya Allah Robbal ‘Alamin. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load