Inggris Turut Campur di Laut China Selatan

Kamis , 10 Juni 2021 | 06:24
Inggris Turut Campur di Laut China Selatan
Sumber Foto: Istimewa
Kapal induk Queen Elizabeth II.
POPULER

PENGUSAHA dan BUMN China  ternyata menjadi pemegang saham mayoritas maupun minoritas pada hampir 200 perusahaan Inggris, dengan total investasi per 2020 mencapai 134 miliar pound sterling. Seratus perusahaan diantaranya merupakan perusahaan blue chip di Bursa London.

China menguasai 49 saham HSBC (bernilai 45 miliar pound sterling). Perusahaan farmasi AstraZeneca, Shell , British Petroleum dan produsen alkohol Diageo, masing-masing 1 miliar pound sterling. Juga  berinvestasi di 17 sekolah independen, perusahaan mobil Lotus, klub sepakbola Barnsley, Wolverhampton Wanderers and Manchester City, waralaba bioskop Cineworld dan  Odeon UCI, grup Hotel Q dan website pariwisata Skyscanner.

China juga merupakan mitra dagang ke tujuh Inggris. Di urutan pertama Amerika Serikat US$57,5 miliar, (14,3% dari total ekspor), Jeman US$41.1 miliar (10.2%), Irlandia US$27.5 miliar (6.8%), Belanda US$24.9 miliar (6.2%), Prancis US$23.7 miliar (5.9%), Swiss US$ 19.4  (4.8%) dan China US$$18.6 miliar (4.6%)

Menurut The Times, Inggris sangat tergantung kepada bahan baku obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit, antibiotik dan obat yang diminum. Ketiganya adalah diantara  71 produk penting yang diperlukan Inggris yang diimpor dari China.

Kedekatan sebagai mitra bisnis tersebut ternyata tidak menghilangkan kekhawatiran Inggris tentang perluasan pengaruh ekonomi dan militer China. Satu armada kapal perang Inggris yang dipimpin kapal induk HMS Queen Elizabeth, disertai dua kapal frigate, dua kapal perusak, dua kapal pendukung dan satu kapal selam telah meninggalkan pelabuhan Portsmouth bulan lalu untuk melakukan pelayaran selama tujuh bulan dan mengunjungi 40 negara. Armada antara lain akan singgah di India, Singapura, Korea Selatan dan Jepang.

Walaupun dikesankan berlayar ke mana-mana, tetapi tujuan utamanya adalah laut China Selatan. Perdana Menteri Boris Johnson diketahui mulai memberikan perhatian serius ke Asia, setelah negaranya keluar dari Uni Eropa. Kebijaksanaan baru ini sejalan dengan Amerika Serikat yang menjadikan Asia sebagai poros dan Australia meningkatkan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik yang membentang dari Hawaii, Laut China Timur hingga India.

Johnson menegaskan pelayaran satuan tugas pemukul itu , yang disertai masing-masing satu kapal perusak Amerika Serikat dan satu frigat Belanda, adalah mencerminkan sikap negaranya yang berkomitmen terhadap ketertiban dunia, menegakkan demokrasi, pasar bebas dan kebebasan berlayar. Suatu pernyataan yang jelas ditujukan kepada China.

Beijing mengklaim dua pertiga laut China Selatan sebagai wilayahnya dan telah meningkatkan kehadiran dengan mendirikan pangkalan militer di gugus kepulauan Spratly yang dipersengketakan.  Di samping menyebarkan puluhan ribu nelayan,yang diduga milisi, untuk mencari ikan.  Penduduk China memerlukan dua juta ton ikan setahun. 

Inggris mengklaim khawatir dengan perluasan pengaruh China karena 12 persen dari total ekspor-impornya atau  senilai 97 miliar pound sterling melewati Laut China Selatan, menuju Asia Timur. Seandainya China menutup jalur tersebut maka perekonomiannya akan terganggu.

Merugikan Asean

Kecemasan Inggis patut dipertanyakan sebab China tidak mungkin akan menutup Laut China Selatan sebab juga akan mengganggu barang dan jasa yang diimpor dari negara lain termasuk Inggris. Jadi apa yang diinginkan Inggris?  

Walaupun Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO) dibubarkan pada 1977, Inggris tidak benar-benar meninggalkan Asia Tenggara. Ia masih menempatkan dua batalion tentara Gurkha di Brunei Darussalam dan delegasi militer permanen di Singapura. Inggris juga banyak menjual peralatan ke negara-negara Asean.

Pengiriman kapal induk Queen Elizabeth II yang membawa delapan F-35 miliknya dan sepuluh pesawat serupa punya Amerika Serikat serta 250 marinir tampaknya untuk mengingatkan sebagai bekas penjajah, Inggris masih memiliki kepentingan seperti dua sekutunya, AS dan Australia. Inggris juga mempunyai aliansi intelijen dengan Kanada, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Australia yang dikenal dengan nama Five Eyes.

Asean kemungkinan besar menilai kehadiran Inggris di Laut China Selatan akan menimbulkan ketegangan baru.  Padahal Asean, yang  negara anggota seperti Vietnam, Malaysia, Pilipina dan belakangan Indonesia  yang bersilang klaim dengan China, telah menandatangani Declaration on the Conduct of Parties  in the South China Sea pada 2002. Negara-negara penandatanganan sepakat menghindari ketegangan dan penggunaan kekuatan militer dalam menyelesaikan klaim.

Sejauh ini, China belum bersedia menandatangani deklarasi tersebut. Dengan demikian masuk akal apabila kehadiran Inggris disebut hanya menambah masalah baru. Apalagi kapal-kapal angkatan laut Inggris dan Amerika Serikat sudah dua kali melakukan  latihan di Laut China Selatan pada tahun lalu.

Bagi Indonesia adalah sangat penting untuk tidak terjerat dalam persaingan negara-negara Barat dengan China. Mengingat seperti telah digambarkan di atas, kedua pihak sebenarnya memiliki hubungan bisnis dan investasi  yang baik. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior dan pengamat politik dan ekonomi Asia Timur dan Amerika Serikat.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load