Selera Aneh?

Selasa , 08 Juni 2021 | 13:10
Selera Aneh?
Sumber Foto: Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

PADA kuliah tahun pertama pada Fakultas Ekonomi, yakni Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Mikro, ketika dibahas tentang Teori Permintaan dari pada seorang konsumen, maka disampaikan bahwa seorang konsumen didalam mengkonsumsikan suatu barang adalah bergantung kepada : 1. Penghasilan dari konsumen yang bersangkutan, 2. Harga dari barang tersebut, dan 3. Selera dari konsumen yang bersangkutan.

Misalnya seorang konsumen ingin memakan ayam goreng. Hal ini ditentukan oleh penghasilan konsumen yang bersangkutan, semakin kaya dia, maka dia akan membeli, misalnya seekor ayam yang sudah digorengkan. Kalau konsumen miskin, maka dia membeli goreng cakar ayam saja. Kalau si konsumen itu kaya, maka dia beli barang-barang yang mahal harganya. Sebaliknya kalau dia itu miskin, maka dia beli barang-barang yang murah harganya. Kata pepatah, “Ada uang, ada kualitas barangnya”. Pepatah lain, “Ada uang abang disayang, Tidak ada uang abang dibuang?”

Faktor lain yang juga ikut menentukan seseorang konsumen berperilaku, adalah ditentukan juga oleh selera konsumen yang bersangkutan. Misalkan si konsumen itu seleranya ingin selalu makan goreng pahanya ayam. Kalau penghasilan besar, misalnya harga barang itu mahal, maka barang itu tetap dibelinya. Apalagi didorong lagi oleh seleranya yang demen sekali makan goreng paha ayam.

Lalu yang dimaksud dengan selera Aneh? Hal itu pernah penulis temukan pada tahun 1977, ketika itu penulis memperoleh kepercayaan dari Bapak Menteri Keuangan R.I sebagai Direktur Investasi, dan Kekayaan Negara. Salah satu tugas penulis, adalah membayar klaim (tuntutan) kepada negara, yang dituntut oleh seorang Warga Negara Indonesia, yang dia berpendapat bahwa Negara berhutang kepada si Penuntut itu.

Pada waktu itu, si penuntut meminta negara harus membayar kepada si penuntut itu, senilai, Rp.110 juta. Ketika itu si penuntut, penulis undang ke kantor penulis, untuk membayar uang yang dia tuntut itu. Setelah diteliti memang si penuntut, memang berhak untuk menerima bayaran tuntutan itu.

Ketika si penuntut datang ke kantor penulis, dan penulis beritahu, bahwa tuntutannya akan dipenuhi oleh Pemerintah. Yang bersangkutan itu berdomisili di Bandung. Penulis bertanya kepada si penuntut itu. “Uang itu akan saya transfer ke rekening saudara, dan adanya di Bank Mana, di kota Bandung?” “Pak Marzuki”. Dia menjawab, “saya minta Uang Tunai saja! Penulis bertanya. “Apa saya tidak salah dengar?” Dia menjawab, “Saya sudah kawulan pak. Saya ingin melihat secara phisik uang kertas sebanyak Rp. 110 juta itu” Penulis bertanya lagi, “Bagaimana nanti saudara membawanya ke Bandung?” Dia jawab, “Uang itu saya tempatkan di bagasi mobil saya pak”. Penulis berujar lagi “Tunggu saya telepon Kepala Cabang Bank dimana rekening saya berada disitu”.

Saya minta kepada Kepala Cabang itu. “Ada Bapak si A ini, akan menerima pembayaran dari saya. Dan dia meminta Uang Tunai sebesar Rp 110 juta. Apa anda bisa laksanakan?”, tanya penulis kepada Kepala Cabang Bank itu. Dia menjawab, “bisa pak”.

Seminggu kemudian, si Bapak itu lapor lagi kepada penulis. Dan dia berujar, “Terima kasih pak, saya sudah ada kawulan, bahwa kalau tuntutan saya itu berhasil, maka saya minta uang tunai, dan saya akan jejerkan, uang itu di lantai rumah saya”.

Inilah contoh konsumen yang seleranya sangat aneh. Rupanya masih banyak orang berkonsumsi dengan selera yang aneh-aneh itu? Makanya, di dalam Ilmu ekonomi, disebut bahwa Besaran / Variabel Selera itu, tidak bisa di ukur. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load