Slutsky Equation

Rabu , 02 Juni 2021 | 11:36
Slutsky Equation
Sumber Foto: Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

CERITANYA terjadi pada suatu hari di tahun 1992, di ruang Kantor Bapak Menteri Keuangan Republik Indonesia. Pada hari itu penulis sebagai Dosen Kembar untuk Mata Kuliah : 1. Seminar Keuangan Negara, dan 2. Seminar Uang dan Bank. Karena Bapak Menteri Keuangan R.I tidak sempat lagi untuk mengasih kedua Mata Kuliah itu, maka Beliau meminta Penulis untuk mengisi kedua Mata Kuliah itu. Penulis pada waktu itu melapor tentang keadaan perkuliahan, dan draft soal-soal ujian tertulis untuk mahasiswa Doktoral pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI).

Setelah selesai membahas draft soal ujian tertulis itu, Beliau berujar sebagai berikut, “Temanmu Marzuki yang baru pulang dari belajar di luar negeri pada University of Urbana, di Amerika Serikat dengan menggondol gelar Doktor (Phd) dalam Ilmu Ekonomi. Dia menyampaikan makalahnya yang berjudul, “Slutsky Equation”. Karena saya mengambil gelar Doktor Ekonominya pada tahun 1950 an, yang pada waktu belajar Teori Ekonomi masih lebih banyak secara kualitatif, dan belum kenal kepada Teori Ekonomi secara kuantitatif, yang banyak menggunakan rumus-rumus secara Aljabar. Maka saya belum mengerti apa yang dia maksud dengan Slutsky Equation?

Penulis menjelaskannya secara kualitatif sebagai berikut, “Slutsky Equation atau Persamaan Slutsky, karena Teori itu diketemukan oleh Prof. Dr. Slutsky, Ahli Teori Ekonomi Kuantitatif, yang Beliau rumuskan sebagai berikut :

rumus

Dan, secara kualitatif dibaca sebagai berikut. Konsumen itu mengkonsumsikan berbagai macam barang untuk mencapai kepuasan yang maksimum. Untuk itu dia bergantung kepada harga masing-masing barang, dan Penghasilan dari konsumen yang bersangkutan. Jadi setiap konsumen itu akan mengkonsumsikan barang-barang dan jasa-jasa. Perubahannya atau Efeknya, tergantung kepada Perubahan Efek Harga, dan Efek Penghasilan. Jadi, kalau setiap konsumen dalam berkonsumsi tergantung kepada harga barang tersebut, dan penghasilan dari konsumen yang bersangkutan”.

“Oh, Marzuki”, sela Beliau “Sebaiknya kalau menjelaskan sesuatu, pakailah bahasa, dan cara yang bisa di cerna atau dimengerti oleh pendengar, atau teman berdiskusinya !  Kalau tidak demikian, maka usaha anda hasilnya adalah Nol Besar !” Dan betul sekali nasehat Bapak Menteri itu. Jika kita ingin orang lain mengerti pendapat kita, maka kita haruslah berbicara dengan bahasa dan pengertian orang itu. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load