Menelisik Bentuk Perang AS-China

Kamis , 20 Mei 2021 | 10:27
Menelisik Bentuk Perang AS-China
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi - Perang dagang Amerika Serikat dan China.

AMERIKA SERIKAT lebih mudah menekan karena Russia secara politis terpencil dan perekonomiannya sangat tergantung kepada ekspor migas. Meskipun demikian Amerika Serikat tidak memberi tanggapan konfrontatif ketika Russia menganeksasi Semenanjung Krimea. AS tidak menghendaki konflik langsung, seperti yang pernah dilakukan terhadap Libya.

Bagaimana terhadap China?

Seperti Donald Trump, Presiden Joe Biden telah menetapkan China sebagai lawan utama. Anggaran militer dari US$714 milyar pada 2020 menjadi sekitar US$ 733 miliar pada 2021. Biden juga memindahkan mayoritas kekuatan militer ke Indo-Pasifik dengan ‘titik api’ di laut China Selatan.

Kecemasan AS adalah keberhasilan China di bidang ekonomi menjadi bukti faham komunis dapat menjadi alternatif dari kapitalisme dalam mengelola perekonomian dan kesejahteraan. Pada akhirnya kedigjayaan China akan menggusur dominasi AS selama lebih dari 75 tahun.

Sebagai kekuatan nomor dua dunia, China memperluas pengaruh tanpa menggunakan kekuatan militer sebagaimana ditunjukkan dalam program One belt One Road (OBOR). Proyek infrastruktur ini melibatkan minimal 78 negara Asia, Eropa dan Afrika.
Sikap humble juga ditunjukkan dalam menanggapi kebijaksanaan ofensif AS yang melarang Huaiwei. China tidak terjebak dengan menyerang balik seperti menutup perusahaan AS karena hal itu dapat menyebabkan berkurangnya lapangan kerja. Resiko berikutnya, perusahaan tersebut pindah ke negara lain. Menjadi pesaing baru.

Di laut China Selatan, China lebih banyak menggunakan kapal-kapal nelayan untuk menegaskan kehadirannya. Sekalipun status nelayan itu diragukan, namun keberadaannya menunjukkan menghindari konflik yang melibatkan organ resmi negara, seperti tentara.
Meskipun begitu, Beijing tidak selalu bersikap mengalah. AS beberapa waktu lalu membatalkan latihan perang yang tengah berlangsung antara dua kapal induk dan belasan kapal pendukung. Alasannya, satelit mata-mata mendeteksi kapal selam China telah meninggalkan pangkalan dengan tujuan yang tidak diketahui.

Persaingan di Mars

Bila di masa lalu AS dan Russia bersaing untuk mendaratkan wahana ruang angkasa serta manusia di bulan, kini Beijing dan Washington berlomba-lomba mendaratkan wahana di Mars. Kesimpulan yang dapat ditarik dari China adalah mereka juga telah menguasai teknologi ruang angkasa.

Amerika Serikat juga tidak dapat terlampau menekan karena China telah menjadi mitra investasi, supply chain dan perdagangan yang mendukungnya terwujudnya pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja serta memenuhi kebutuhan konsumen. Ekspor produk China pada 2019 ke AS memberi manfaat untuk 1,2 juta pekerja di AS dan 197 ribu lainnya pada 2018 dipekerjakan secara langsung oleh perusahaan-perusahaan multinasional China yang beroperasi di AS.

Menurut data US Trade Representative, perdagangan barang dan jasa AS dengan China pada 2019 diperkirakan US$634,8 miliar dengan rincian ekspor US$163 miliar dan impor US$471,8 miliar. AS mengalami defisit US$308.8 billion in 2019.

Kedua negara terbukti saling tergantung tetapi ini tidak menutup peluang untuk saling menjatuhkan dengan segala cara dan di berbagai bidang. AS telah meningkatkan kekuatan militer tetapi tersedia sedikit kemungkinan bagi pecahnya konflik terbuka. Genderang yang ditabuh Biden sebetulnya hanya untuk menjadi alasan agar belanja militer ditambah dan memuaskan para pendukungnya, kalangan industri militer.

Di bidang teknologi, Senat dengan dukungan 86 suara berbanding sebelas, mensahkan RUU untuk mencegah China mengungguli AS dalam sektor teknologi. Senat menyetujui anggaran sejumlahUS$120 miliar untuk membiayai riset terkait teknologi baru yang berfokus keada kecerdasan buatan, super konduktor dan robot. Anggaran juga akan dimanfaatkan untuk menganeka ragamkan pusat-pusat industri teknologi yang selama ini terkonsentrasi di Silicon Valley.

Kelemahan China adalah jumlah penduduknya yang terlampau banyak. Bertangga dengan 14 negara dengan total panjang perbatasan darat, menurut data CIA, 22.450 km. Terpanjang dengan Mongolia yakni 4630 km, Russia (Timur Laut) 4.133 km, Russia (Barat Laut) 46km, India 2659 km, Myanmar 2.129 km, Kazakhtan 1.765 km, Korea Utara 1.352 km, Nepal 1.389 km, Vietnam 1.297 km, Kyrgisthan 1.063, Tajikistan 477 km, Laos 475 km dan Pakistan 438 km. Perbatasan darat yang demikian panjang dan garis pantai 14.500 km sangat rawan terhadap infiltrasi. Intelijen China mendeteksi para provokator kerusuhan di Tibet atau Xinjiang berasal dari India.

Amerika Serikat dan China sangat berkepentingan untuk sikap bermusuhan. Tujuannya agar di dalam negeri terbangun sikap bersaing atau berkompetisi. Bermusuhan juga akan menciptakan alian. AS membangun kerjasama dengan Jepang, India dan Australia. Sementara dengan Indonesia, melaksanakan pelatihan prajurit raider dan marinir di Baturaja, Balikpapan, Manado, Sukabumi, Jawa Timur dan lainnya.

Perlu dicermati yang akan berlangsung di masa dekat dan akan berkepanjangan adalah perang hibrida. Perang ini bermakna luas karena mencakup aktifitas diplomasi, konspirasi, tekanan ekonomi, perang siber, sabotase, penggunaan milisi/nelayan dan turut campur dalam pemilihan presiden atau lainnya. Lokasi konflik bisa berlangsung di negara lain, misal Myanmar.

Perang hibrida tidak bersuara apalagi rupa. Sasarannya bersifat terbuka tapi tujuan tertutup. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior dan pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load