Belajar dari Kesuksesan China Mereformasi Pajak

Selasa , 11 Mei 2021 | 12:01
Belajar dari Kesuksesan China Mereformasi Pajak
Sumber Foto: Istimewa
Deng Xiaoping.
POPULER

KETIKA Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong, dia berujar, “Kucing hutan, kucing putih, pokoknya asal kucing haruslah menangkap tikus”. Beliau berucap lagi, “Seandainya setiap petani di China menanam bayam di pekarangan seluas 10 M2. Dan itu dikerjakan oleh seluruh petani, katakanlah jumlahnya 3 juta petani saja, maka sudah akan tertanam bayam di China seluas 3 juta x 10 meter persegi menjadi sama dengan 30 juta meter persegi, atau samalah dengan tanah seluas 3.000 hektar meter persegi. Dan China akan menjadi pemasok bayam terbesar di dunia”.

Di bidang perpajakan, Deng Xiaoping berujar, “Mulai besok pagi, kalau ada petugas pajak yang korupsi, maka pastilah dihukum mati!” Sejak itu, penerimaan pajak RRC mulai meningkat, kemudian untuk menaikkan lagi penerimaan negara dari pajak penjualan, maka Pemerintah RRC mengadakan undian dari bukti berbelanja (faktur) dari toko/perusahaan yang menjual barang itu. Oleh kantor pajak, bukti berbelanja itu (faktur) diundi. Dan pembeli yang kena undi, diberi hadiah mobil dan atau rumah. Maka konsumen RRC, setiap belanja, rajin mengirim fakturnya kepada kantor pajak. Dan, Kantor Pajak mendapat info, berapa hasil penjualan yang diterima oleh toko/perusahaan penjual itu. Dan, Kantor Pajak lalu menagih pajak penjualan yang harus dipungut dari toko/perusahaan yang bersangkutan.

Hasil akhirnya, penerimaan negara dari pajak menaik pesat sekali. Dan, berikutnya oleh negara dibangunlah prasarana: jalan, jembatan, pelabuhan laut, udara, dan darat. Dan, RRC menurut pakar ekonomi dunia, sudah akan menyalib ekonomi Amerika Serikat.
China juga sudah mempersiapkan dirinya untuk memasuki Era Perdagangan Internasional Bebas (Free Trade), di mana 113 negara di dunia, pada bulan September 1993, telah sepakat untuk melaksanakan Perdagangan Bebas. Kemudian, dibentuklah Organisasi Perdagangan Bebas (World Trade Organization – WTO), pada tahun 1995. China pada waktu itu berhasrat besar sekali untuk menjadi pendiri (founder), dan anggota dari WTO. Keinginan itu di blok oleh Amerika Serikat dan konco-konconya. Adapun Indonesia, pada tahun 1995, itu sudah ikut menjadi pendiri, dan Anggota dari WTO.

China menyadari keadaan itu, maka China mulai tahun 1993, sudah mengirim anak-anak muda China untuk mengambil Doktor, setiap tahun, masing-masing 500.000 (1/2 juta) ke negara-negara : Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Australia. Itu semua dibiayai dari hasil penerimaan pajak yang sudah meningkat itu. Dan mulai tahun 1998 China sudah memiliki 2 juta Doktor untuk pelbagai ilmu setiap tahun. Hal ini berarti, sekarang ini pada 2021, China sudah memiliki 46 juta Doktor pada pelbagai bidang ilmu. Teman penulis seorang Doktor Ekonomi, berujar, “China itu, sekarang ini sudah bisa memantau seekor semut di setiap rumah rakyat Indonesia?”

Penulis yakin betul bahwa, kalau China bisa, maka Indonesia juga akan lebih bisa. Hal ini bisa terjadi karena Allah S.W.T banyak sekali menganugerahkan Indonesia kekayaan alam yang banyak sekali, dan juga yang unik-unik! Penulis berani menerawang, Insya Allah pada tahun 2031 Indonesia akan bisa menyalib China! Apa mustahil? Jawabnya tidak, kata pepatah, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load