Bernie/Bernard Bell dan Pinjaman US$ 50 Juta

Selasa , 04 Mei 2021 | 09:38
Bernie/Bernard Bell dan Pinjaman US$ 50 Juta
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

KEJADIANNYA, adalah pada suatu pagi, pada awal bulan Januari 1988, penulis kedatangan tamu DR. Bernard Bell. Beliau pada waktu itu menjabat sebagai Presiden Komisaris, PT Papan Sejahtera (Persero). Yakni, Perusahaan Patungan antara Bank Indonesia dengan International Finance Corporation (IFC), perusahaan Investasi milik Bank Dunia (World Bank).

Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia memperoleh bantuan dari Bank Dunia untuk menumbuhkan, serta menggalakkan industri pembangunan perumahan (real estate).

DR. Bernard Bell bemukim di kota Washington DC, di mana Bank Dunia berkantor pusat. Beliau ini bertugas sebagai Presiden Komisaris PT Papan Sejahtera, dan selalu datang ke Jakarta, apabila diperlukan.

Sebelumnya, mulai pada tahun 1968 sampai tahun 1983, Beliau diberi kepercayaan oleh Bank Dunia untuk memimpin kantor Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, yang berkedudukan di Jakarta.

Pada tahun 1983 Beliau pamitan kembali ke Amerika Serikat kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Beliau diantar oleh Bapak Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Bapak Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, dan Bapak Menteri Keuangan RI, Bapak Prof. Dr. Ali Wardhana. Oleh Bapak Presiden RI, Beliau dianugerahkan Penghargaan sebagai Bintang Kehormatan RI.

Dan, apabila Beliau datang ke Jakarta, penulis ditugaskan oleh Bapak Menteri Keuangan RI untuk mengurusi akomodasi Beliau selama di Jakarta. Dan pada waktu pagi itu, penulis bertanya kepada Beliau, “Kapan pertama kali kenal dengan Indonesia?”.

Beliau berujar sebagai berikut. “Marzuki, pada tahun 1949 saya baru lulus dari perguruan tinggi, dan bekerja sebagai staff junior di US Exim Bank di kota Washington DC. Pada suatu hari di tahun 1949 itu, Presiden Direktur US Exim Bank, memanggil saya untuk menghadap Beliau.

Begitu saya sampai di kantor Beliau, dan lalu Beliau berujar, “Hai Bernie tolong carikan informasi tentang Indonesia. Itu negara apa dan adanya di mana?”.

Saya lalu pergi ke perpustakaan kantor, dan mengambil buku encyclopedia dunia. Dan saya tulis secara ringkas satu halaman apa itu Indonesia? Beliau berujar, “Terima kasih ya Bernie, saya dapat perintah dari Presiden kita untuk menerima dua orang delegasi Indonesia yang langsung terbang dari Amsterdam ke Washington DC. Dan Beliau itu rupanya ingin berutang kepada Bank kita”.

Penulis bertanya kepada Bapak Bernie Bell, “Siapa kedua orang itu?” Pak Bernie berujar, “Mereka adalah Bapak Ir Djuanda, dan Bapak Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Dan mereka mau berutang untuk membangun  Indonesia. Dan langsung diberikan pinjaman sebesar USD 50 juta.

Kemudian setelah sampai kembali ke Jakarta, Beliau itu, Bapak Ir. Djuanda menulis surat kepada US Exim Bank, pada tahun 1950, minta dikirim bantuan tenaga ahli. Dan US Exim Bank menugaskan saya untuk menjadi tenaga ahli ekonomi membantu Indonesia.

Saya mendarat di Jakarta pada tahun 1951, dan bermukim di Hotel Transera di Jakarta. Saya kemudian membantu Bapak Djuanda dan Bapak Sumitro Djojohadikusumo untuk membuat rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PNSB).

Uang yang sejumlah USD 50 juta itu digunakan Indonesia untuk membangun Pabrik Semen di Gresik, Jawa Timur, dan Pabrik Pupuk Pusri di Palembang, Sumatera Selatan”.

Pada tahun 1965, karena situasi Negara Indonesia sudah berubah sekali, maka Bapak Djuanda meminta supaya kembali lagi bekerja di Bank Dunia, di Washington DC. (Marzuki Usman)



KOMENTAR

End of content

No more pages to load