Pengalaman Memimpin RUPS 36 Jam

Selasa , 27 April 2021 | 09:25
Pengalaman Memimpin RUPS 36 Jam
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

PADA tahun 1990-an penulis mendapat amanat dari Pemegang Saham (Para pialang Pasar Modal Indonesia) untuk di daulat sebagai Komisaris Utama (Komut) dari PT Bursa Efek Indonesia (PT BEI).

Dan pada akhir tahun 1995, PT BEI mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membahas capaian Keuntungan Perusahaan untuk Tahun Buku 1994. Dan sekaligus membahas Keuntungan Tahun yang sedang berjalan 1995.

RUPS seperti ini, yakni setiap Pemegang Saham berhak bersuara, dan rupanya adalah RUPS yang pertama terjadi di bumi Indonesia. Biasanya pada masa yang lalu RUPS ini diatur dan diurus saja oleh Notaris. Artinya secara profarma sudah memenuhi aturan Perundangan Indonesia.

Rapatnya dipimpin oleh penulis sebagai Komisaris Utama. Akan tetapi para pemegang saham yaitu para pialang sudah berteriak, “Hai Bapak Komut, anda hanya memimpin Rapat RUPS, tetapi anda tidak ada hak untuk bersuara!”

Karena penulis sebagai Komut, tidak boleh bersuara, dan tidak boleh meng-intrupsi alias menyetop pembicaraan. Maka terjadilah rapat RUPS itu, sebagai rapat yang terpanjang di dunia, barangkali? Yakni selama non stop, dari jam 8.00 pagi hari, sampai 8.00 sore hari berikutnya, jadi pada rapat RUPS ini, semua peserta melek selama 36 jam?

Dan para pemegang saham itu, semua merasa puas dan berbahagia sekali. Karena mereka sangat puas sekali berbicara, dan penulis sebagai pemimpin rapat tidak boleh mengatur para pemegang saham itu. Kata mereka, para pemegang saham itu, “Inilah yang benar-benar Praktek Demokrasi di bumi Indonesia?”

Penulis sendiri sudah capek setengah mati, karena memimpin rapat itu, dan harus melek selama 36 jam. Dan celakanya lagi, penulis sudah terlanjur mengiyakan untuk ketemu pada acara makan malam dengan seorang Pembesar Republik, pada jam 20.00 malam di Restoran Hilton Grill.

Penulis yang sudah 36 jam melek, maka ketika ketemu Pembesar itu, penulis sudah menyerah, dan mohon ampun dan maaf, karena tidak bisa lagi melek. Untunglah Beliau  itu maklum. Dan penulis langsung pulang ke rumah, dan sesampai di rumah langsung jatuh tertidur pulas di atas Pulau Kapuk (Kasur). Kata isteri penulis, terdengar sayup-sayup sampai ke telinga penulis, “Itulah Indonesia?” (Marzuki Usman)




KOMENTAR

End of content

No more pages to load