Belajarlah Kepada Studi Kasus, Melihat Peluang!

Selasa , 20 April 2021 | 08:54
Belajarlah Kepada Studi Kasus, Melihat Peluang!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

KASUSNYA terjadi pada tahun 1988, tahun Penulis diberi amanat oleh Bapak Menteri Keuangan RI, Bapak DR JB Sumarlin untuk memimpin Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam).

Beliau berujar, “Juk, (nama pendeknya penulis, karena Beliau sudah menganggap penulis sebagai anak didikannya), karena Bapak Prof Barli Halim sudah mencapai umur 63 tahun, umur yang paling tua untuk seorang pejabat, maka Marzuki sementara, duduk di situ! Dan, nanti pada bulan Juli 1989, Marzuki menggantikan Bosmu, Bapak Oskar Surya Atmadja sebagai Direktur Jenderal Moneter, Departemen Keuangan RI”.

Maka, berkat amanat Menteri Keuangan RI, dan dibantu oleh rekan-rekan pegawai Bapepam dengan dedikasi dan pengabdian yang tulus ikhlas, maka terjadilah Pasar Modal Indonesia! seperti Pasar Modal New York (New York Stock Exchange).

Di dalam usaha untuk meminang para pengusaha untuk menjual saham dari perusahaan yang mereka miliki, maka penulis rajin bersilaturahmi kepada para pemilik (owner) dari perusahaan-perusahaan yang sudah berkelas dunia (Internasional) itu.

Pada suatu hari, penulis bertemu seorang pengusaha besar, yang berbisnis pada industri kertas. Penulis bertanya, ”Bagaimana ceritanya Bapak bisa memiliki usaha yang sudah mendunia (global) ini?”

Beliau menjawab, “Pak Marzuki, ceritanya sedikit agak panjang”. Penulis berujar, ”Pak, saya dengan senang hati akan belajar dari pengalaman hidup Bapak menjadi pengusaha sukses”.

Dia bertutur sebagai berikut, “Saya memulai bisnisnya sebagai restoran warung tenda di tepi pantai di kota Makassar. Pada zaman Penjajahan Jepang. Ide ini timbul ketika saya lihat orang Jepang suka makan ikan laut, sambil menenggak bir. Dan saya tahu, tentara Jepang itu sudah menyita semen yang diperdagangkan di warung-warung bahan bangunan. Dan, lalu mereka ceburkan ke laut. Terbersit di otak saya, pastilah semen-semen itu akan membeku, menjadi  batu. Kalau saya bisa mengambil semen yang sudah membatu itu, kemudian saya jemur, dan kemudian saya hancurkan sehingga menjadi semen lagi. Lalu nanti saya akan jual lagi sebagai bahan bangunan, maka pastilah saya akan memperoleh uang.

Dengan saya membuka warung makan tenda itu, dan kemudian ketika saya mengambil semen yang sudah membatu di laut itu, mereka tidak lagi melarang saya karena sudah menjadi teman. Dan, setelah saya memperoleh uang yang banyak dan mulailah berbisnis segala macam”.

Dan dia melanjutkan lagi sebagai berikut, “Setelah saya mendengar dan memahami, betapa indah dan cantiknya Pasar Modal Indonesia, maka saya berminat untuk menjual saham saya di Pasar Modal Indonesia! Tolonglah saya dibimbing, sehingga nanti orang sedunia menjadi demam ingin memiliki saham perusahaan saya, yang sudah diperdagangkan di Pasar Modal Indonesia”.

Alangkah semakin baik masa depan NKRI, apabila semua pengusaha Indonesia ingin berbuat seperti pengusaha kita ini. Semogalah! (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pakar pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load