Sikap Assertif Xi Jin Ping dan Risikonya

Jumat , 16 April 2021 | 13:02
Sikap Assertif Xi Jin Ping dan Risikonya
Sumber Foto : Istimewa
Presiden China Xi Jinping.
POPULER

MEDIA Barat dan para pengamat seringkali menggunakan kalimat...Xi Jinping more assertive, beda dengan pendahulunya Deng Xiaoping yang humble. Mereka menilai sikap Xi telah menimbulkan ketegangan, membahayakan perdamaian.

Assertive berarti tegas. Ketika Presiden Obama dan Trump memberlakukan sanksi dagang, Xi membalas. Ketika Gedung Putih menutup konsulat China di Houston, Texas. China menutup konsulat jenderal AS di Chengdu, China bagian barat.

Australia juga kena batunya. China menghentikan impor anggur dan batubara, setelah Canberra mengirim kapal perang ke laut China Selatan dan mengecam perlakuan terhadap suku Uyghur di Xinjiang. Akibatnya 98% ekspor Australia ke China anjlok.

Australia yang ingin berdamai menyatakan hubungan dengan Amerika Serikat tidak berarti merusak hubungan dengan China. Muncul pula berita bahwa menghentikan impor batubara menyebabkan China harus mengeluarkan uang lebih banyak. China tak peduli.


Melalui jurubicara Kemlu Hua Chunying, Beijing melancarkan protes keras dan menuduh Jepang menyebarkan ‘perselisihan’ terkait sengketa maritim. China prihatin dengan serangkaian tindakan yang dilakukan Jepang.

Protes itu muncul setelah Kemenhan Jepang dan Indonesia menyepakati kerjasama bidang produk-produk pertahanan di Tokyo, 30 Maret 2021.

Sesuai Situasi

Kebijaksanaan para pemimpin China. berkelanjutan dari waktu ke waktu. Deng Xiaoping mengawali dengan menciptakan dan membuat peraturan yang konsisten dan sistematik.

Disertai bersikap merendah dan menyambut mitra asing dengan tangan terbuka karena perlu dukungan untuk membangun. Ketika itu China berulangkali menyatakan statusnya sebagai negara Dunia Ketiga.

Data perekonomian China pada 1978 memang kurang menggembirakan. Produk domestik brutonya tercatat seperlima dari PDB Jepang, separuh PDB Inggris, kurang dari sepersepuluh PDB AS. Rata-rata pendapatan per kapita penduduk China kurang dari US$100 per orang.

Untuk memperbaiki kondisi perekonomian, Deng mengambil langkah berani dengan (1) mengizinkan perusahaan asing menanam modal (FDI) dan mendirikan pabrik di China.

(2) Memproduksi barang-barang konsumsi untuk ekspor. Awalnya produk yang dihasilkan berharga murah dan kurang berkualitas.

(3) Mendirikan Zona Ekonomi Khusus di provinsi Guangdong dan Fujian, yakni Shenzen, Zhuhai, Shantou dan Xiamen pada tahun 1980.

Perusahaan yang beroperasi di zona spesial tersebut mendapat berbagai insentif, termasuk pajak.

Tiga tahun berikutnya hingga 1991, kawasan bebas FDI diperluas yaitu pulau Hainan, 14 kota tepi pantai di sepuluh provinsi, Delta Sungai Yangtse, Delta Sungai Mutiara, Delta Min Nan, Pudong di Shanghai dan lainnya.

Sejak tahun 1992 tercatat ada 15 zona perdagangan bebas, 32 zona pembangunan ekonomi dan teknologi serta 53 zona pembangunan industri berteknologi tinggi. Semuanya berlokasi di kota besar maupun menengah di provinsi di pedalaman maupun kawasan otonomi.

Tujuannya adalah mengembangkan perekonomian yang berorientasi ekspor untuk memperoleh devisa dan mengimpor teknologi maju.

Di samping mempercepat pembangunan ekonomi di pedalaman supaya setara dengan kawasan pantai.

Zona ekonomi khusus Shenzhen merupakan percontohan yang berhasil. Memproduksi produk-produk berteknologi tinggi senilai 81,98 miliar yuan pada 1999. Yang berarti 40.5% dari nilai total produk industri kota tersebut.

Berhasil

Taktik Deng dengan membuat kebijaksanaan yang atraktif dan bersikap merendah. Menyembunyikan kekuatan dan menunggu waktu . Ternyata berhasil.

Dalam laman Australia National University terungkap, modal langsung ke China sejak 1979 hingga 1991 berjumlah US$ 1,8 miliar tiap tahun. Tahun 1992, US$11 miliar. Tahun berikutnya US$22 miliar dan pada 1993 mencapai US$27,5 miliar.

Setahun berikutnya hingga 1997 pertumbuhan berlanjut. Aliran FDI menurun pada 1999-2.000 akibat krisis ekonomi di Asia Timur.

Tanggal 11 Desember 2001, China menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ternyata pengaruhnya besar. FDI naik dari US$46,9 miliar pada 2001 menjadi US$108,3 miliar pada 2008. Turun menjadi US$95 miliar setahun berikutnya, lalu meningkat lagi pada 2010 menjadi US$114,7 miliar pada 2010 dan US$135 miliar pada 2017.

FDI yang terbesar mengalir dari Hong Kong, Kepulauan Virgin, Jepang, AS, Singapura, Taiwan, Korea selatan, Kepulauan Cayman, Jerman, Samoa, Inggris, Belanda, Prancis, Mauritius dan Makao. Ke 15 investor menguasai 87,5% dari total FDI ke China pada 2014.

Lebih Maju Dari Deng

Dengan dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, China menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Konon, dukungan tersebut bertujuan supaya negara komunis tersebut mengubah sistem politik/ ekonominya menjadi demokratis/kapitalis.

Ternyata baik Jiang Zemin (1993-2003) maupun Hu Jintao (2003-2013) yang merangkap jabatan sebagai presiden dan berbagai posisi penting dalam partai, tak tunduk kepada keinginan Barat.

FDI memang diselaraskan dengan peraturan internasional, namun perselisihan dagang dengan mitra di WTO berulangkali terjadi.
China berhasil memanfaatkan keanggotaannya dalam WTO.

Surplus dagangnya pada 2019 mencapai US$422 miliar dengan total ekspor hampir US$2,5 triliun. 17,4% dari Produk Domestik Bruto. Tetapi secara politis China tetap di tangan satu partai. Dalam konteks ini keinginan Barat tak tercapai.

Xi Jinping, pengganti Hu Jintao, setali tiga uang. Malah juga memperlihatkan ketegasan dalam kebijaksanaan luar negeri dan keamanan...China akan berdiri tegak di Timur dengan postur baru.

Yang berarti lebih maju dari Deng yang memfokuskan kepada menumbuhkan perekonomian dengan slogan...humble, sembunyikan kekuatanmu dan tunggu waktu.

Xi membayangkan dirinya dan anggota partai mengendalikan kapal yang membawa impian 1,3 miliar penumpang. Berlayar memecah gelombang, menuju masa depan yang cerah.

Sikap tegas Xi selain diperlihatkan dalam sengketa dagang, juga melakukan reklamasi dan militarisasi di Laut China Selatan. Zona identifikasi di Laut ChinaTimur. Mengabaikan keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag yang memenangkan Pilipina dalam sengketa batas wilayah di Laut China Selatan.

Xi juga konsisten atau berpegang teguh kepada model pembangunan dan ideologi, sebagaimana yang dilakukan Deng (China Punya Model Sendiri). Jiang Zemin (Tidak Mungkin Hanya Ada Satu Model di Dunia). Hu Jintao (Sistem Politik Otoriter yang Menolong China Ketika Perekonomian Memburuk).

Mengapa Tidak Tunduk


Sampai kuartal pertama 2021, tak terlihat ada upaya memperkecil perbedaan antara China-Amerika Serikat. Xi tetap berpegang kepada keyakinannya, sementara AS menghimpun India, Australia dan Jepang (QUAD) untuk membendung pengaruh Beijing.

Para pengamat memperkirakan tidak akan tercetus konflik militer, meskipun persaingan ekonomi akan terus berlanjut dan yuan atau renminbi semakin populer menggerus posisi dolar.

Sebegitu jauh, China tidak mudah ditekan karena (1) perekonomiannya tidak bergantung kepada satu atau dua sektor tertentu. Cadangan devisanya per Maret 2021 mencapai US$,170 miliar. Meskipun dari tahun sebelumnya, US$3,205 tapi China masih menjadi salah satu kreditor terbesar untuk AS

Menurut The Balance, utang AS ke China per Januari 2021 berjumlah US$1,1triliun, lebih dari 15% dari total utang surat berharga yang dikeluarkan AS. Jepang di posisi pertama dengan US$1,28 triliun.
China juga telah membuka pusat perdagangan yuan di pasar uang London dan Frankfurt. Dengan demikian yuan bisa diperdagangkan dalam banyak matauang, termasuk greenback.

(2) China juga mempunyai kekuatan penjera, termasuk rudal-rudal balistik nuklir.

(3) Merusak China akan mempengaruhi perekonomian negara lain. Sedikitnya 25 negara terlibat dalam program One Belt One Road, Jalur Sutera Maritim dan Pembangunan Infrastruktur Asia.

(4) China mempunyai pasar domestik dengan jumlah konsumen terbesar di dunia.

Faktor lain yang membuat Barat berfikir menekan China terlalu jauh adalah pengalaman masa lalu. Mayoritas rakyat China dan pemimpinnya, faham bahwa pendahulu mereka telah ditipu bangsa-bangsa Eropa, terutama Inggris yang kemudian menguasai AS.

Dr. Sun Yat Sen mengatakan ..bangsa-bangsa Barat telah mempermalukan bangsa China. Perang Candu 1 dan 2 memberi pelajaran pahit yang menyebabkan Hong Kong dan Makao harus diserahkan kepada Inggris.

Pengalaman ini yang tak ingin terulang lagi . Apapun resikonya! (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior dan pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat.

 

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load