Mereka Yang Tidak Terbayar Haknya?

Selasa , 13 April 2021 | 08:17
Mereka Yang Tidak Terbayar Haknya?
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

KETIKA penulis menuntut ilmu di Universitas Duke (Duke University) di kota Durham, Negara Bagian Carolina Utara (North Carolina), Amerika Serikat, diantara 6.000 mahasiswa, ada juga 1.000 orang mahasiswa dari luar negeri; India, Pakistan, China, Amerika Latin, dan Indonesia.

Pada suatu hari penulis bercengkerama dengan teman mahasiswa dari Amerika Latin, Meksiko. Kelihatannya dandanan pakaiannya sedikit parlente, alias lebih hebat sedikit dibandingkan dengan kebanyakan mahasiswa di situ.

Penulis ingin tahu, apakah dia adalah anak orang kaya di Meksiko. Ternyata tidak. Rupanya dia nyambi, di samping kuliah, juga bekerja sebagai pembantu mengurusi orang jompo.

Dan penulis bertanya pekerjaan apa itu gerangan? Dia menjawab, “Saya bekerja sebagai manager orang-orang tua.”

Dia jelaskan pekerjaannya, kalau di Indonesia disebut  sebagai pembantu ngurus orang tua. Penulis berujar, “Kalau pembantu rumah tangga di Indonesia, mereka itu dianggap sebagai anggota keluarga, dan bukan sebagai pegawai. Sehingga mereka tidak ada hak untuk libur, dan cuti. Toh, habis mereka dianggap sebagai anggota keluarga. Karena tidur, dan makan di rumah yang sama. Tetapi kualitas makanannya, dan tempat tidurnya, dan kamar mandinya, tidak sama dengan keluarga tuan rumahnya”.

Teman saya itu berujar, bahwa dia itu adalah pekerja profesional. Jadi ada hak untuk libur, cuti, dan penggajian, yang adanya sesuai dengan apa-apa yang telah tercantum di dalam Undang-Undang Tenaga Kerja di Amerika Serikat.

Dari pengalaman perlakuan majikan terhadap karyawan yang terjadi di Amerika Serikat, ternyata kita belum sepenuhnya memberi perlindungan yang wajar kepada, misalnya pembantu rumah tangga. Kebanyakan mereka tidak punya hari libur, juga tidak punya hak untuk cuti tahunan, dan sebagainya.

Kadang-kadang mereka diperlakukan berbeda di dalam berpakaian, makanan dan minuman, dan sebagainya. Artinya mereka ini adalah warga negara kita yang tidak dibayar hak-haknya!

Menurut teman penulis, seorang Sarjana Ilmu Fiqih, menitip pesan kepada penulis, bahwa apabila kita memperlakukan seseorang tidak memberikan haknya, maka nanti di pengadilan di negeri akhirat, hak-hak itu harus dibayar oleh orang yang tidak memberikan hak orang lain itu. Oh alangkah malangnya nasib ya? (Marzuki Usman)
  









KOMENTAR

End of content

No more pages to load