Proyeksi Ekonomi Sering Membingungkan

Kamis , 08 April 2021 | 19:45
Proyeksi Ekonomi Sering Membingungkan
Sumber Foto Majalah Peluang
Ilustrasi grafis
POPULER

JAKARTA--Alangkah membingungkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini karena sangat beragam, terus berubah dan tidak konsisten. Dalam situasi sulit saat ini semestinya para birokrat, ekonom dan analis lebih berhati-hati dalam melontarkan pendapatnya agar tidak menambah kebingungan masyarakat.

Bagaimana tidak membungungkan, seorang pejabat tinggi Kementrian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II (April-Juli) bisa melonjak hingga 8% setelah kuartal I (Januari-Maret) justru masih minus. Padahal baru saja Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi ramalannya mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari 4,8% menjadi hanya 4,3%.

Adalah Kepala Pusat Kebijakan Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Hidayat Amir yang memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 7 persen sampai 8 persen pada kuartal II tahun ini karena adanya akselerasi pemulihan. “Kuartal II kami yakin kalau ritme dan tren perbaikan Covid -19 terus berlanjut maka pemulihan bisa diakselerasi ke pertumbuhan 7 persen sampai 8 persen,” katanya dalam webinar Indonesia Macroeconomic Update 2021 di Jakarta, Kamis (8/4).

Proyeksi tersebut dinilai masih realistis mengingat Indonesia memiliki dasar yang rendah pada kuartal II tahu lalu yakni minus 5,3 persen. Tak hanya itu, katanya, berbagai indikator pertumbuhan ekonomi juga terlihat mulai mengalami peningkatan setelah tertekan dampak pandemi yang luar biasa pada tahun lalu.

Sayangnya Amir tidak menjelaskan bagaimana dengan daya beli masyarakat yang masih sangat tertekan? Tampaknya para ekonom pemerintah terlalu yakin konsumsi  dalam negeri akan meningkat saat Ramadhan dan Lebaran, yang kebetulan terjadi pada kuartal II.

Barangkali para birokrat juga terkaget dengan data peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) bulan Maret lalu yang mencapai mencapai 53,2. Naik tinggi dari bulan sebelumnya berada di level 50,9. Kenaikan tinggi menunjukkan industri manufaktur yang ekspansif.

Tapi lihatlah gambaran di lapangan. Head of Research Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Hardy, menilai ekspansi PMI manufaktur itu masih ditopang oleh beberapa sektor saja, seperti industri baja dan mineral logam. "Sebagai dampak ekspansi penghiliran nikel yang dilakukan oleh beberapa perusahaan multinasional di kawasan Morowali, dan pengolahan minyak nabati (CPO) yang sedang menikmati kenaikan permintaan seiring berkurangnya pasokan minyak nabati lainnya, seperti minyak kacang tanah yang sempat mengalami gagal panen di India," jelas Robertus kepada Kontan.co.id, Senin (5/4).

Industri berat lain seperti otomotif dan tekstil masih mengalami pelemahan seiring belum pulihnya mobilitas masyarakat. Akan tetapi, pelemahan industri otomotif memang dapat berangsur membaik seiring relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas mobil golongan 1.500 cc dan 2.500 cc.

Kondisi cukup memprihatinkan justru terlihat di sektor ritel. Sejumlah peritel dikabarkan memutuskan untuk menghentikan operasional meski momen Ramadan dan Lebaran di depan mata. Mereka melihat sinyal pemulihan konsumsi belum kuat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan sinyal lemahnya pemulihan ekonomi disebabkan proses vaksinasi yang masih mencakup sebagian kecil penduduk. Selain itu, pembatasan mudik dan dihentikannya bantuan sosial tunai (BST) juga akan memengaruhi tingkat belanja masyarakat. “Peritel sudah melihat sinyal bahwa kendala di sisi permintaan masih ada. Kami sudah prediksi konsumsi mungkin tidak otomatis pulih, jadi opsi penutupan diambil,” kata Roy, seperti dikutip Bisnis.com, Senin (5/4).

Belum lagi kita lihat mengenai efektifitas pengendalian pandemi, juga lambannya vaksinasi. Juga angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin yang meningkat.

Sayangnya dalam publikasi terbarunya IMF juga tidak menjelaskan secara rinci alasan mengapa lembaga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, bahkan ke tingkat di bawah rata-rata lima negara Asean. "Di tengah ketidakpastian akibat pandemi, jalan keluar dari krisis ekonomi dan kesehatan ini semakin terlihat. Berkat para ilmuwan, ratusan juta orang sedang divaksinasi dan ini akan memberikan energi bagi pemulihan ekonomi di banyak negara tahun ini," kata Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF, Gita Gopinath, dalam keterangan tertulisnya.

Vaksinasi sangat ditekankan IMF. Bila kita berhasil menjangkau bagian terbesar penduduk, maka proses pemulihan ekonomi akan semakin nyata. Sekarang belum. Dari sasaran 180 juta (70%) penduduk, hingga awal April ini baru mencapai 12,7 juta penduduk yang menerima vaksinasi.

Maka, tak perlu lah membuat proyeksi berlebihan yang justru membingungkan. Optimisme yang terlalu berlebihan juga bisa menyesatkan, tidak produktif dan bisa menjadi bahan tertawaan dunia luar. (BC)

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load