Tidak Ada Aturan, Kaos/Kacau! Kebanyakan Aturan, Mandek!

Selasa , 06 April 2021 | 06:57
Tidak Ada Aturan, Kaos/Kacau! Kebanyakan Aturan, Mandek!
Sumber Foto: Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

 

PERISTIWANYA terjadi pada medio tahun 1974, tahun kedua penulis menuntut ilmu pada Strata 2 (S2) di Duke University, Kota Durham, Negara Bagian Carolina Utara (North Carolina State). Pada saat itu penulis lagi mengikuti kuliah, “Seminar Kebijakan Publik”, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Roy Kelly, yang diikuti oleh 6 orang mahasiswa saja.

Pada waktu itu sang Profesor lagi mambahas topik tentang “Aturan”, yaitu : “Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan lainnya”, yang diterbitkan oleh Pemerintah.

Beliau berujar sebagai berikut, “Tidak ada aturan, maka pastilah terjadi kekacauan/kaos di negara itu. Akan tetapi, apabila, terlalu banyak aturan, maka kegiatan ekonomi, di negara itu mandek/mangkrak!”

Hal seperti ini kata Beliau, banyak terjadi di negara-negara yang lagi sedang berkembang (Developing Countries). Pada awalnya di negara-negara itu tidak tahu apa yang harus diatur. Misalnya sumber daya alam, air.

Menurut sang Profesor, ada negara berkembang yang mengatakan bahwa sumber daya alam, air itu, diatur oleh negara untuk kemakmuran rakyatnya. Maka, diterbitkanlah 100 peraturan tentang pemanfaatan sumber daya air. Akibatnya, para pengusaha swasta pada menyerah. Dan, solusinya oleh negara itu, didirikanlah Badan Usaha Milik Negara untuk membudi-dayakan air. Oleh karena, Badan Usaha Milik Negara, dan itu bukanlah milik direksi perusahaan itu. Maka akibat selanjutnya, BUMN itu menjadi salah praktiknya. Dan, BUMN itu semula diharapkan menjadi pusat penghasilan, malah menjadi sumber pemborosan keuangan negara.

Lalu sang Profesor mengambil kesimpulan bahwa, “Kalau tidak ada aturan yang mengatur, maka hasilnya adalah kekacauan/kaos. Pelaku ekonominya berbuat sebagai, “Manusia Serigala Manusia”. Sebaliknya, kalau terlalu banyak Aturan, maka kegiatan ekonominya, akan mandek alias stop, alias jalan di tempat. Maka, yang harus diambil kebijakan oleh suatu negaranya, haruslah pandai dan cerdik menerbitkan aturan/undang-undang sedemikian rupa sehingga semua pihak, terutama rakyatnya, menjadi berbahagia. Dan, ini adalah suatu seni dan bukanlah ilmu pasti!”.

Penulis berharap sekali semoga para pengambil keputusan di negara Indonesia ini, mereka semua adalah orang bijak, sehingga aturan-aturan/undang-Undang yang diterbitkan itu membuat pelaku ekonominya bergairah untuk berproduksi barang dan jasa yang diperlukan oleh rakyatnya, dan rakyat-pun menjadi kaya dan bahagia. Semogalah Allah SWT ridho. Amin ya Allah Robbal ‘Alamin. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load