Posisi Jack Ma Dalam Pembangunan Politik dan Ekonomi China

Senin , 08 Maret 2021 | 08:00
Posisi Jack Ma Dalam Pembangunan Politik dan Ekonomi China
Sumber Foto : Istimewa
Jack Ma.
POPULER

DENG XIAOPING pada 1979 melontarkan Gaige Kaifang atau perombakan dan keterbukaan. Fokusnya adalah di bidang pertanian, industri, teknologi, dan pertahanan.

Pemerintah membagi-bagi tanah. Rakyat diperbolehkan mengolah lahan pertanian. Kebijaksanaan baru ini meningkatkan produktifitas.

Perusahaan asing diundang berinvestasi. Tidak bebas seratus persen sebab mereka juga diwajibkan sebanyak mungkin memanfaatkan tenaga dan komponen lokal.

Di saat bersamaan BUMN dipacu.
Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mendukung dengan menyokong keanggotaan China dalam WTO. Mengizinkan generasi mudanya, bahkan memberi bea siswa, menuntut ilmu di perguruan-perguruan tinggi.

Sejak itu China mulai beranjak dari negara yang terkebelakang menjadi negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Pada 1978 tersebut pangsa Produk Domestik Brutonya kurang dari 3% PDB dunia dan menjadi 17,39% pada 2019.

Bila dilihat per negara. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2019, AS berada pada posisi pertama dengan PDB US2143 triliun, China US$14,34 triliun. Disusul Jepang US$5,08 triliun, Jerman US$3,8 triliun, Inda US$2,87 triliun, Inggris US$2,83 triliun, Prancis US$2,72 triliun, Italia US$2 triliun, Brasil US$184 triliun dan Kanada US$1,74 triliun.

Pendapatan rata-rata per orang pada 2020 berjumlah 43,834 yuan. Naik tajam dari tahun 1990 yang berjumlah 1.516 yuan.

Dibiarkan

Kebijaksanaan Deng lazim disebut ekonomi pasar tetapi tidak sepenuhnya bebas karena pemerintah masih melakukan pengendalian. Pengendalian ini yang menyebabkan China tidak runtuh seperti Uni Soviet yang menerapkan glastnost dan prestroika.

Faktor lain karena bangsa China relatif lebih homogen, dengan suku Han menjadi mayoritas, 91 persen dari total penduduk China serta 19 persen dari seluruh penduduk dunia.

Amerika Serikat juga belum menganggu karena sibuk meruntuhkan Uni Soviet dan mengumbar bom di Afghanistan, Irak, Libya. Washington menerapkan strategi satu setengah kekuatan militer untuk Eropa dan hanya setengah buat Asia-Pasifik.

Banyak Tantangan

Dalam laman Statista disebutkan, sebagai negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh, China menghadapi banyak tantangan yang salah satu diantaranya adalah ketidaksetaraan pendapatan,terutama antara penduduk di perkotaan dengan di pedesaan. Hal ini dapat membangkitkan keresahan sosal dan ancaman terhadap dogma ‘masyarakat harmonis’ yang sering disebut partai komunis China.

Pendapatan rumah tangga di Shanghai dan Beijing pada tahun lalu hampir 74 ribu yuan per tahun sedang di provinsi Zhejiang 60. 200 .

Adapun di provinsi Heilongjiang, China timur laut, hanya 30.900 yuan per tahun.
Bila diukur berdasarkan koefisien Gini, alat untuk mengukur derajat ketidakmerataan distribusi pendapatan penduduk, ketidaksetaraan itu turun dari 49,1 pada 2008 menjadi 46,5 pada tahun 2019. PBB telah menetapkan angka 40 merupakan batas peringatan ketidaksetaraan yang serius. Jadi ketimpangan di China masih tinggi.

Pekerjaan Belum Selesai

Kritik terhadap gagasan Deng sudah muncul sejak awal dan mencapai puncaknya pada demontrasi di lapangan Tien Anmen pada 15 April 1989, 31 tahun lalu. Pendemo menuntut demokratisasi dan supaya korupsi diberantas.

Tuntutan kedua disetujui, sedangkan demokratisasi tidak dikabulkan. Demo di lapangan bersejarah itu diberantas habis. Pemerintah China memperkirakan 900 orang tewas, sedangkan menurut perkiraan Barat jumlah korban melebihi angka tersebut.

Sejak 2013, tujuh tahun masa pemerintahan Xi Jingping, setidaknya satu juta lebih pejabat didakwa melakukan korupsi atau pelanggaran lain. Mereka yang dikorupsi diarak keliling kota dan ditembak mati di lapangan terbuka pada siang bolong.
Ternyata kasus korupsi berlanjut terus.

Menurut laporan tahunan dari Mahkamah Agung yang diajukan ke parlemen nasional 18.585 orang dituntut atas kasus korupsi pada 2019, meningkat 90 persen dari tahun sebelumnya.

Transparansi Internasional, NGO yang berpusat di Berlin, yang mengeluarkan 2020 Corruption Perceptions Index pada akhir Januari lalu, China menduduki peringkat ke 78 dari 180 negara.Para ahli menyatakan data itu tidak obyektif dan tidak mencerminkan efektifitas usaha pemerintah China memberantas korupsi. Mengingat karyawan NGO ini, jumlah dan dana berasal dari Barat.


Menurut laporan itu, 94% responden yakin pemerintah China telah membuat kemajuan berarti dalam memberantas korupsi. Sementara 83% lainnya meyakini lembaga-lembaga pemerintah telah membuat kontribusi positif.

Transparansi Internasional menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi setiap tahun sejak 1995. Indeks mencerminkan persepsi pengusaha, akademisi dan analis resiko tentang korupsi di bebagai negara, terutama sektor bisnis.

Jack Ma dan Demokratisasi

Jack Ma merupakan contoh keberhasilan kebijaksanaan Deng. Pendiri sekaligus Chairman Eksekutif dari Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di China. Kekayaan bersihnya per Januari 2021 US$58.3 miliar, ungkap majalah Forbes.
Pengusaha dengan kekayaan sebanyak itu, hampir Rp1 triliun, sebenarnya dapat melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Dia bisa mengendalikan pejabat, politisi atau aparat hukum dari berbagai tingkatan.

Kenyataannya Ma bisa dibungkam walaupun merupakan aset nasional. Kabar paling akhir, dia main golf di pulau Hainan tapi tak ngoceh lagi.

Ma mengeritik sistem keuangan serta kurangnya dukungan pendanaan bagi mereka yang mau melakukan inovasi. Peraturan yang berlaku juga sudah ketinggalan zaman. “Jangan memberlakukan sistem manajemen stasiun kereta api untuk mengatur bandar udara komersial”.

Cara-cara perbankan beroperasi juga sudah ketinggalan jaman. Bank bekerja seperti mentalitas jawatan pegadaian, lanjutnya seraya menambahkan, saya meragukan perbankan mampu bertahan.

Operasional perbankan harus menggunakan teknologi dan mengganti sistem tradisional. Dalam pemberian kreditm perbankan seharusnya mulai menggunakan big data untuk memonitor kreditur yang berpotensi buruk.

Ma mengutarakan hal itu dalam Bund Summit ke dua, 23-25 Oktober tahun lalu, di Shanghai. Konferensi ni diorganisir oleh China Finance 40 Forum dan pemerintah kota Shanghai.

Lantaran pandemi CoVID-19, konferensi dilangsungkan secara virtual tapi pesertanya para tokoh pemerintah, keuangan lokal dan dunia, termasuk pemenang Nobel untuk ekonomi tahun2001 Joseph Eugene Stiglitz.

Jack Ma yang dikenal suka bicara blak-blakan sepertinya mengabaikan bahwa Wakil Presiden China Wang Qishan , Wakil Perdana Menteri Liu He yang memantau kebijaksanaan ekonomi makro serta Sekjen PKC Komite Kota Shanghai Li Qiang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Dalam laman cf40.com, Wang Qishan menekankan pentingnya mengupayakan peluang baru di tengah krisis. China harus mempecepat pembentukan pola pembangunan baru dengan pasar domestik sebagai unsur utama. Pasar internasional dan domestik saling memperkuat satu sama lain.

Qishan menandaskan tiga tugas utama bagi sektor keuangan, yakni melayani perekonomian, mencegah dan mengatasi krisis keuangan dan menempatkan secara setara pentingnya inovasi keuangan dan peraturan.

Laman cf40.com tidak memuat kritik Jack Ma, melainkan pertanyaannya apakah Basel Accord cocok untuk China? Di samping mendesak agar regulasi selaras dengan inovasi, serta sistem keuangan di masa depan perlu inklusif, mendorong investasi ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Kabarnya Xi Jinping marah dengan kritik Jack Ma. Kerajaan bisnisnya grup Alibaba dan Ant dihukum. Ant, mobile payment service, batal go public padahal nilainya US$37 miliar. Pembatalan menimbulkan kekalutan di bursa Shanghai dan Hong Kong tetapi pemerintah China tak peduli.

Kestabilan Di Atas Segalanya

Kritik Jack Ma adalah demo Tienanmen dengan cara yang lain. Apa yang dikatakannya mungkin benar, tetapi pilihan utama adalah mempertahankan keselarasan dalam masyarakat.

Rakyat China sendiri kurang perhatian dengan perlakuan pemerintah terhadap Ma. Mereka tahu pemerintah tengah memperbaiki kesejahteraan rakyat.

Pembungkaman terhadap Jack Ma juga dapat diartikan pemerintah tidak menghendaki kehadiran grup bisnis kelewat besar. Berbahaya karena bisa menciptakan monopoli data dan sebagainya.

Media Barat yang selalu mendewakan demokrasi dan HAM memfokuskan pembungkaman sebagai perselisihan pribadi Ma dengan Xi Jinping.

Pemimpin China itu dilukiskan tengah menumpuk kekuasaan dan bersikap otoriter.
Mereka mengabaikan bahwa Xi Jinping yang dilahirkan dalam keluarga kaya di Beijing, menghabiskan tujuh tahun masa remaja bersama keluarga miskin di Shaanxi. (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior, pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat.

 

 

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load