Generasi Transformasi 2020

Selasa , 02 Maret 2021 | 08:16
Generasi Transformasi 2020
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman
POPULER

KETIKA penulis memperoleh kehormatan sebagai anggota Majelis Wali Amanah (MWA) Institut Teknologi Bandung (ITB), pada tahun 2010-2020, maka penulis sebagai seorang ekonom, mendapat rezeki dari Allah SWT, berupa pergaulan dengan para ilmuwan Teknologi dari ITB.

Penulis lalu menjadi bersahabat baik dengan Prof. DR. Djoko Suharto, seorang ahli Teknologi 4.0, dibaca Ahli Teknologi Serba Digital Otomatisasi atau Robotisasi.

Pada suatu pertemuan, Beliau membahas pengelompokan generasi Pembangunan di Indonesia, sebagai berikut.

Pembangunan ekonomi Indonesia sebelum tahun 1965, sudah memulai dengan berencana. Kita kenal dengan istilah Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PNSB). Akan tetapi karena berminat membangun dengan kekuatan sendiri, dibaca “berdiri dengan kaki sendiri” (Berdikari), dengan bertekad tidak perlu mengundang investor asing, dan atau tidak berutang keluar negeri, akhirnya terjadilah pertumbuhan ekonomi yang negatif dan tingkat inflasi yang meroket.

Kemudian pada tahun 1965, dengan kedatangan Orde Baru, maka pembangunan ekonomi dengan berdasarkan buku, Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dan, sudah mulai menjalankan pembangunan yang dikenal dengan transformasi dari yang bersifat tradisional berubah kepada pembangunan yang memakai peralatan yang modern.

Disebut juga sebagai pemanfaatan Teknologi Dua titik nol (2.0). Generasi Orde  Baru ini adalah beranggota anak-anak muda yang lahir pada tahun 1940-an.

Pada tahun 1998, adalah generasi yang beranggota anak-anak muda yang lahir pada tahun 1970-an, yang dikenal dengan generasi yang memanfaatkan peranan sektor swasta dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yang berfokus kepada peranan sektor pemerintah. Generasi ini dikenal dengan nama generasi Orde Sedikit Peranan Pemerintah, dan Lebih Banyak Peranan Sektor Privat.

Adapun istilah Privatisasi (Privatitation), dengan slogan, “Kalau sektor privat bisa dan mampu, maka sektor pemerintah haruslah memberikan kesempatan kepada sektor swasta yang lebih efisien untuk berkiprah dan berperan dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia”.

Memasuki tahun 2020 adalah merupakan generasi yang lahir pada tahun 1990-an. Generasi ini dikenal dengan istilah Generasi Perdagangan Bebas (Free - Trade Generation), dan memasuki serta menjelajah Teknologi Empat Titik Nol (Generasi 4.0), yang ditenggarai dengan Teknologi  Digital dan Robotisasi. Dunia sudah berubah, jarak dan waktu tidak lagi penting untuk dibahas, karena dengan teknologi digital, segala sesuatu menjadi lebih gampang, lebih mudah, dan lebih cepat. Tempat (Place) dan waktu (Time) bukanlah lagi rnerupakan masalah (Problem). Inilah Generasi Transformasi 2020.

Bagi Indonesia sendiri, jika kita tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan segala kemajuan itu, maka Indonesia akan menjadi penonton saja, dan bukan sebagai penentu arah (Trend setter), tetapi hanya sebagai pengikut arah (Trend Follower). Maka, Indonesia akan terdepak dari jalan raya kemajuan dan menjadi negara pinggiran? Padahal Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi sebagai Penentu Arah (Trend Setter), dan sebagai Pemenang (Champion) pada Era Perdagangan Bebas (Free - Trade Era), karena Indonesia banyak sekali memiliki Sumber Daya Ekonomi yang bersifat sebagai Keberuntungan Mutlak (Absolute Advantages), yakni Sumber Daya sebagai Karunia Allah kepada anak bangsa NKRI saja seperti kekayaan : Hutan Tropis, kekayaan Sumber Daya Hayati Kelautan seperti : Pelbagai jenis ikan, Lobster, Tripang dan seterusnya. Indonesia juga dikaruniai Ilahi berupa Tenaga Kerja dengan Talenta alamiah, seperti : Tukang Cukur, Tukang Pijit, Perawat Orang Tua, dan seterusnya. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pakar pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load