Cerita Tentang Air

Selasa , 23 Februari 2021 | 07:39
Cerita Tentang Air
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi. Danau Gunung Tujuh di Kerinci, Jambi.
POPULER

CERITANYA terjadi di Kampus Duke University, di kota Durham, Provinsi North Carolina, Amerika Serikat. Ketika itu sebagai mahasiswa S2, penulis mengikuti kuliah “Seminar Management of Natural Resources (Tata Kelola Kekayaan Alam). Kuliahnya disampaikan oleh Profesor. DR. Melcolm Gillis, seorang ahli Managemen Natural Resources (Kekayaan Alam) yang terkenal di Amerika Serikat.

Pada waktu itu sang Profesor menguraikan studi kasus tentang Managemen Pengelolaan Sumber Daya Alam, air, di negara Uganda, Afrika Tengah. Prof. DR. Gillis berujar “Pada waktu itu, Uganda lagi berada di bawah pimpinan sang diktator, Idi Amin. Beliau ini berslogan “Saya adalah Negara, dan Negara adalah saya!”. Rakyat Uganda harus mematuhi apa saja setiap perkataan beliau. Dan ini berarti, ucapan diktator adalah Undang-undang / peraturan yang berlaku kepada setiap warga negara Uganda.

Di dalam hal pengelolaan sumber daya alam air, sang diktator berucap bahwa air itu adalah kekayaan negara, dan haruslah bermanfaat banyak untuk rakyat Uganda. Oleh karena itu dikeluarkanlah banyak sekali peraturan dan atau perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerahnya. Adapun motivasinya adalah supaya rakyat bisa menjadi kaya dari pemberdayaan sumber daya alam air”.

Prof. DR. Melcom Gillis melanjutkan uraiannya “Bahwa di Uganda itu banyak sekali sumber air secara alamiah. Di sana banyak sumber air dari : sungai, danau, dan air hujan, dan seterusnya. Secara potensial, pada waktu itu Uganda bisa mengekspor air alam ke seluruh dunia. Tetapi hal seperti yang diimpikan itu oleh Prof. DR. Melcolm Gillis, dibaca, bahwa hal itu tidak sampai terjadi di Uganda?. Kenapa?, ternyata karena banyak sekali peraturan untuk mengkelola air. Katanya, sampai ada 100 peraturan dari pelbagai tingkat pemerintahan, mulai dari : pusat, provinsi, kabupaten, kota, lurah, dan kepala kampung. Hal seperti ini lalu menyebabkan para pengusaha sudah menyerah untuk berusaha di sektor air ini, alias para pengusahanya lagi kena sakit lesu darah?”

Prof. DR. Melcolm Gillis mengatakan kepada kami, para mahasiswa S2 dan S3, “Tidak ada peraturan, maka akan terjadi kekacauan. Terlalu banyak peraturan menyebabkan rakyat terbelenggu tangan dan kakinya untuk berusaha!” Inilah, “Pelajaran diambil atau lesson learn, dan janganlah para penguasa berprilaku seperti diktator di Uganda itu”.

Penulis juga sependapat dengan Prof. Melcolm Gillis itu, yakni janganlah hal yang terjadi di Uganda itu dalam pengelolaan sumber daya alam air, terjadi juga di Indonesia. Kita bersyukur sekali dikarunia Allah SWT, sumber daya alam air yang berlimpah ruah dan sangat unik. Misalnya, air di Danau Gunung Tujuh di Kerinci, Jambi, yang adalah danau air tawar yang paling tertinggi di dunia. Ketinggiannya adalah 2.200 meter di atas permukaan laut. Apa artinya? Indonesia bisa mengekspor air minum alami dari Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi, Indonesia, ke seluruh dunia.

Kalaulah Indonesia tidak akan mencontoh “Pengalaman jelek salah urus pemberdayaan air di Uganda itu”, maka mimpi penulis bahwa Indonesia akan mengekspor air alami dari Danau Gunung Tujuh, akan menjadi kenyataan. Alhamdulillah Wasyukurillah. Amiinn. (Marzuki Usman)

















KOMENTAR

End of content

No more pages to load