RI Tak Berdaya Dalam Pusaran Kompetisi AS-China?

Rabu , 17 Februari 2021 | 16:14
RI Tak Berdaya Dalam Pusaran Kompetisi AS-China?
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi - Perang dagang Amerika Serikat dan China.

PRESIDEN Joe Biden sepertinya sengaja tidak merahasiakan pembentukan Satgas Khusus China. Satgas  bertugas memberi rekomendasi kepada Menteri Pertahanan tentang cara-cara mengalahkan China, supaya tidak mampu menggeser dominasi AS .

Satgas diberi waktu empat bulan, mulai 11 Februari 2021, untuk menganalisa China dari aspek intelijen, ekonomi/moneter, kekuatan militer, kerjasama multilateral dan politik dalam negeri. Ely Ratner, asisten khusus Menhan Lloyd Austin, akan mengetuai Satgas yang beranggotakan 15 staf dari berbagai kementerian, komando kewilayahan serta badan intelijen itu.

Pembentukan Satgas menggaris bawahi kelanjutan hubungan dengan China, tetapi  akan berbeda dari yang dijalankan Presiden Trump yang ‘berperang’ secara seihak.

Joe Biden menegaskan kompetisi akan bersifat ekstrim tetapi menghindari perang. Biden akan mengajak banyak negara dan dengan segala cara untuk merontokkan Beijing.

Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan Australia yang merupakan sekutu utama akan diajak memainkan peran penting. India, negara terbesar di Asia Selatan, dan Indonesia, negara terbesar di Asia Tenggara, nampaknya tidak akan luput.

Amerika Serikat memahami Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif dan menolak pangkalan asing, tetapi tidak menutup peluang kerjasama militer dan bidang lain.

Menurut rencana  1.300 tentara AS akan berlatih bersama tentara Indonesia mulai Februari-Juni 2021 dengan sandi Garuda Shield. Latihan  akan berlangsung di tiga lokaasi yang strategis yakni Manado yang berada di pintu masuk Selat Sulawesi, di Balikapan yang berhampir dengan Selat Makassar. Juga Baturaja, lokasi latihan permanen TNI, beberapa jam dari Selat Malaka.

Ketiga selat itu merupakan jalur perdagangan laut yang ramai antara Timur Tengah dengan Timur Jauh dan sebaliknya. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengungkapkan perdagangan antara Timur Tengah dengan Asia Timur meningkat sementara perdagangan Timur Tengah – Eropa merosot. Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan dan lainnya merupakan importir migas dari Timur Tengah.

Menutupi Kegagalan

Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada 1980-an sangat cemas dengan membanjirnya produk-produk buatan Jepang. Lembaga-lembaga keuangan Jepang pada saat itu juga tercatat sebagai peminjam terbesar.

Diprakarsai Washington, Jerman, Inggris, Prancis dan Jepang mengadakan pertemuan di Hotel Plaza, New York dengan tujuan merevaluasi nilai tukar yen dan mark Jerman terhadap dolar AS. Bank sentral negara-negara tersebut setuju melepas dolar agar kurs baru yen terhadap dolar AS adalah 120 yen per US$1.

Kesepakatan tanggal 22 September 1985 itu yang dikenal sebagai Plaza Accord menyebabkan yen menguat hingga harga produk-produk buatan Jepang menjadi mahal. Yendaka ini menyebabkan ekonomi Jepang sempoyongan dan sebaliknya, AS berhasil memperbaiki defisit perdagangan dengan negara-negara lain. 

Biden kemungkinan akan meniru cara di atas, dalam arti secara multilateral akan melemahkan China. AS tidak mungkin menghadapi China sendirian, karena terbukti cara unilateral yang ditempuh Trump mengalami kegagalan.

Satu artikel dalam Washington Post mengungkapkan, perang dagang merugikan kedua negara. Pertumbuhan ekonomi AS melambat. Investasi bisnis membeku dan peusahaan-perusahaan tidak lagi menerima pegawai baru.Para petani bangkrut.  Sektor manufaktur dan transportasi terpukul.

Menurut Moody’s Analytics, perang dagang mengorbankan 300 ribu lapangan kerja. Bank Sentral New York dan Universitas Columbia mendapat, harga saham perusahaan-perusahaan turun paling sedikit US$1,7 triliun akibat pengenaan tarif impor produk dari China.

Biden tidak menyinggung kegagalan kebijaksanaan Trump, tetapi menyatakan akan melakukan kompetisi yang lebih ekstrim dalam perdagangan, moneter, hak cipta, perang angkasa luar, teknologi informasi dan segala bidang yang dimungkinkan. Selain itu, AS juga akan mengajak negara-negara lain mengawasi perbatasan dan  jalur perdagangan.

Yang menarik mengapa  kementerian pertahanan yang memegang kendali dalam persaingan dengan China?  Padahal kompetisi terjadi pada hampir semua bidang sebab peluang kerjasama hanya pada isyu iklim dan mengatasi CoVID-19.

China Tak Mudah Ditundukkan

China bukan Jepang yang mudah ditundukkan. Perekonomian domestiknya amat besar, dimana kepentingan Beijing dan Washington saling berkait. Pengaruh China telah mengglobal. Masyarakatnya juga tidak menyukai bangsa-bangsa Barat yang mempermalukan mereka dalam Perang Candu. Ini menjadi modal dasar untuk bersaing di segala bidang.

Dalam perkembangan lain, anak perusahaan bank sentral China, termasuk Institut Riset Mata Uang Digital, sepakat membangun perusahaan  dengan nama  Finance Gateaway Information Services Company pada 3 Februari lalu. Tujuannya tidak jelas tetapi akan berkiprah dalam konsultasi teknologi, pemrosesan data dan sistem pengumpulan informasi.

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) yang berpusat di Belgia dan memiliki cabang hampir di seluruh dunia. Perannya adalah  melakukan pengiriman pesan transaksi atau perintah secara aman antar lembaga keuangan bank atau non-bank melalui jaringan SWIFTNet.

China juga memperluas penggunaan digital yuan di berbagai provinsi dan mendorong penggunaan cryptocurrency alias bit coin untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. China memahami nilai dolar AS tidak realistis, lebih berdasarkan persepsi, tetapi terkadang dipakai untuk menjatuhkan negara lain.

Mempengaruhi Indonesia

Indonesia beruntung sebab para pendirinya sejak awal telah menetapkan Indonesia berprinsip tidak berpihak kemana pun.Tetapi tidak menghentikan upaya negara-negara lain untuk mempengaruhi. Sistem ekonomi Indonesia misalnya, telah berfihak ke Barat. Dan belakangan ini membuka pintu bagi investasi dan dana China.

Tak syak lagi, kompetisi yang makin tajam akan China-Amerika Serikat cs akan berlangsung pada tahun ini dan seterusnya. Kedua negara akan menggunakan segala cara, termasuk secara asimetris yang dipakai  untuk mempengaruhi opini dalam negeri Indonesia.

Negara-negara anggota Asean lain, sebenarnya mengharapkan Indonesia berperan lebih besar menghadapi situasi yang berbahaya ini. Tetapi sebagaimana diketahui pemerintah tengah menghadapi problem domestik yang pelik. (Sjarifuddin)

Penulis adalah jurnalis senior, pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat.









KOMENTAR

End of content

No more pages to load