Beramai-Ramai Melubangi Perahu Kerajaannya Sendiri

Selasa , 16 Februari 2021 | 08:32
Beramai-Ramai Melubangi Perahu Kerajaannya Sendiri
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman

PERISTIWANYA terjadi pada tahun 1974, di kampus Duke University, di Kota Durham, Provinsi North Carolina, Amerika Serikat. Ketika itu penulis mengikuti kuliah, “Sejarah Pembangunan Ekonomi Negara (History of Economic State Development)”. Dosen yang memberikan kuliahnya, ialah profesor ahli sejarah pembangunan ekonomi, Prof. DR. William Yohe. Karena ini adalah kuliah seminar, maka mahasiswanya cuma sepuluh orang saja.

Beliau berujar sebagai berikut, “Pada akhir abad pertengahan, di Eropa, Kerajaan Perancis, Kaisarnya adalah Louis XIII. Dan pada waktu itu adalah masa yang paling tersuram di dalam sepanjang sejarah Kerajaan Perancis. Sebelumnya, Kerajaan Perancis terkenal sebagai suatu kerajaan yang makmur, adil dan sejahtera. Dan, Kerajaan Perancis sudah mengembangkan sayapnya ke bumi Afrika, dan bahkan ke bumi timur jauh, seperti : Vietnam, Kamboja, dan kepulauan di Lautan Teduh (Pacific Ocean).

Semula sudah ada sistem pemerintahan yang rapi, yang bertanggung jawab. Pada gilirannya menghasilkan Kerajaan Perancis yang semakin maju. Pembagian tugas di kalangan birokrasi pada waktu itu berjalan secara rapih dan bertanggung jawab.

Akan tetapi, para birokratnya merasa bahwa mereka sudah bekerja keras untuk pembangunan, tetapi tidak bisa menikmati langsung dari hasil pembangunan itu. Lalu, mereka merekayasa, yakni dengan masing-masing mereka punya proyek sendiri.

Akibatnya di dalam praktiknya, para pribadi pada menikmati langsung dari hasil pekerjaannya, berupa penghasilan tambahan yang besar sekali. Akhirnya, perbuatan-perbuatan itu tidak terkendali lagi. Ibaratnya seperti penumpang kapal yang secara bersama-sama, melubangi perahunya, maka pastilah karam kapal itu.

Dan, itulah yang terjadi di Kerajaan Perancis pada kurun waktu 1870-an, akibatnya terjadilah koreksi dari rakyat banyak, maka terjadilah Revolusi Perancis (France Revolution) yang terkenal itu. Maka, runtuhlah Kerajaan Perancis”.

Profesor William Yohe, berujar lagi, “Mari kita ambil pelajaran dari sejarah Kerajaan Perancis itu, yakni apabila suatu negara para birokratnya tidak lagi “taat azas” kepada tata cara untuk membangun ekonomi negaranya, dan masing-masing birokrat sudah berpendapat, ”Yang penting adalah aku, dan bukan negaraku!” maka tunggulah nasib. Negara seperti ini adalah seperti sejarah masa lalu. Dan rakyatnya pada menyanyi, “Kerajaan atau negaraku, riwayatmu dulu?”

Penulis memohon kehadirat Allah SWT, semoga keadaan seperti yang terjadi pada Kerajaan Perancis itu, tidak akan pernah terjadi di NKRI! Allahumma ya Robb. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.
 















KOMENTAR

End of content

No more pages to load