Please, Make Your Country Healthy, and Wealthy!

Selasa , 09 Februari 2021 | 09:12
Please, Make Your Country Healthy, and Wealthy!
Sumber Foto : Sinarharapan.co
Marzuki Usman

PERISTIWANYA terjadi pada Juni 1993, ketika pada waktu itu penulis dimutasi dari Kepala Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), pada Departemen Keuangan Republik Indonesia, pindah diberi kepercayaan untuk memimpin Badan Pendidikan dan Pelatihan, Departemen Keuangan Republik Indonesia. Penulis berubah dari mengurusi orang-orang kaya yakni, para emiten dari Bursa Efek Indonesia, menjadi mengurusi pelatihan dan pendidikan karyawan/PNS, Departemen Keuangan RI.

Pada suatu pagi, penulis lagi membuat rencana, yakni bagaimana membuat karyawan Departemen Keuangan RI, menjadi tenaga terampil, dan atau tenaga cerdas/profesional. Penulis bermimpi bahwa apabila para karyawan Departemen Keuangan RI itu sudah menjadi terampil dan atau cerdas/profesional, maka akibatnya Insya Allah penerimaan negara dari pajak-pajak, dan bea masuk akan meningkat.

Penulis, rupanya pada suatu hari kedatangan tamu, orang Amerika, DR Robert Packard. Ketika penulis silahkan Beliau untuk duduk. Dan lalu penulis bertanya, “Apa maksud kedatangannya?” Penulis, kemudian memberikan kepada Beliau itu, kartu nama penulis. Dan, ia mengucapkan terima kasih, seraya menyerahkan kartu namanya, kepada penulis. Ketika penulis membaca kartu nama itu, ternyata dia adalah pegawai Departemen Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika Serikat).

Penulis serta merta merasa heran, kenapa seorang pegawai Pentagon, datang ke Indonesia, dan mencari penulis. Lalu beliau menjelaskan bahwa dia lagi cuti dari Pentagon, dan mengambil pekerjaan dari Lembaga USAID (United States Agency for International Development).

Dia, berujar bahwa dia lagi nyambi (moonlighting). Dia diminta bantuan oleh USAID (United State Agency for International Development) untuk menilai bantuan (AID) dari USAID kepada Bapepam. Pada waktu penulis lagi menjabat sebagai Ketua Bapepam. Apakah bantuan itu berguna bagi pengembangan Bursa Efek Indonesia? Penulis menjawab bahwa, seandainya tidak ada bantuan dari USAID mana mungkin Indonesia berhasil membangun Bursa Efek Indonesia, yang seperti Bursa Efek di Amerika Serikat.

Lalu penulis bertanya kepada Beliau, “Anda kan orang Pentagon. Tolong jelaskan kepada saya, apa pendapat Pentagon tentang Indonesia?” Beliau menjawab sebagai berikut. “Saya sudah bolak balik berkunjung ke negara Republik Rakyat China (RRC). Saya bertanya kepada Jenderal China, “Kenapa anda mau ikut-ikutan memanfaatkan teknologi perang bintang (Star War Technology)? Kenapa tidak menggabung bersama Amerika Serikat?” Jenderal China, berujar sebagai berikut, “In 1965, when Indonesia kill many Chineses (PKI), we did not do anything. We closed our embassy, and then, we went home. However, if we master star ear technology, and if Indonesia will re-do its again, we will atack them from the air!”.

Marzuki, “Let me give you an advice as follow. Please make your country healthy, and wealthy, then you will have enough money to develop weapon to atack star war technology!” (Marzuki Usman)




KOMENTAR

End of content

No more pages to load